Rahasia Stenografi: Seni Menulis Cepat yang Terlupakan!
Stenografi berasal dari bahasa Yunani, yaitu stenos (sempit) dan graphein (menulis). Secara harfiah, artinya adalah “menulis dalam ruang sempit”, yang menggambarkan bentuk tulisan yang padat dan ringkas. Teknik ini menggunakan simbol-simbol khusus yang berbeda dari alfabet biasa untuk menuliskan kata-kata secepat orang berbicara.
Ada berbagai sistem stenografi di dunia, salah satunya adalah Gregg Shorthand dan Pitman Shorthand yang populer di negara-negara berbahasa Inggris. Di Indonesia sendiri, sistem Ejaan Singkatan Indonesia (ESI) sempat diajarkan di sekolah-sekolah sekretaris dan administrasi perkantoran.
Sejarah Singkat Stenografi
Sejarah stenografi dapat ditelusuri hingga masa Romawi Kuno. Seorang sekretaris bernama Tiro, yang bekerja untuk Cicero, mengembangkan sistem simbol yang disebut Tironian Notes. Sistem ini digunakan untuk mencatat pidato dan pernyataan penting secara real-time.
Pada abad ke-19 dan 20, stenografi menjadi bagian penting dari dunia profesional. Wartawan, sekretaris, bahkan pengadilan mengandalkan stenografer untuk mendokumentasikan percakapan secara cepat dan akurat. Namun, kemajuan teknologi seperti perekam suara dan komputer membuat keterampilan ini mulai ditinggalkan.
Manfaat dan Kegunaan Stenografi di Era Modern
Meski terdengar kuno, stenografi memiliki banyak manfaat yang relevan hingga hari ini:
- Meningkatkan produktivitas kerja: Menulis cepat membantu mencatat rapat atau wawancara tanpa kehilangan informasi penting.
- Menunjang profesi tertentu: Stenografer masih dibutuhkan di institusi hukum dan legislatif.
- Mengasah kemampuan otak: Mengingat dan memahami simbol membutuhkan konsentrasi dan keterampilan kognitif yang tinggi.
- Alternatif saat alat elektronik dilarang: Dalam situasi tertentu seperti ruang sidang, menggunakan perekam bisa dilarang sehingga teknik manual seperti stenografi lebih diandalkan.
Stenografi dan Teknologi: Musuh atau Mitra?
Berkat teknologi, stenografi berkembang menjadi lebih modern. Kini, banyak aplikasi dan perangkat lunak seperti stenotype machine dan realtime captioning yang memadukan teknik tradisional dengan sistem digital. Bahkan, profesi seperti court reporter atau closed captioner masih sangat dibutuhkan di era digital, terutama untuk aksesibilitas bagi penyandang disabilitas pendengaran.
Pelatihan stenografi juga sudah mulai tersedia secara daring, memungkinkan siapa pun untuk belajar keterampilan ini dari rumah. Hal ini menunjukkan bahwa stenografi bukanlah seni yang mati, melainkan seni yang beradaptasi.
Seni stenografi mungkin tidak lagi sepopuler dulu, tetapi kemampuannya menangkap informasi secara cepat dan efisien tetap tak tergantikan. Dalam dunia serba cepat seperti sekarang, keterampilan ini justru menjadi aset berharga, terutama bagi mereka yang ingin unggul dalam komunikasi dan dokumentasi. Jadi, apakah Anda tertarik menguasai seni menulis cepat ini?
Untuk artikel menarik lainnya tentang dunia kerja, teknologi, dan budaya, jangan lewatkan informasi terkini hanya di Garap Media!
Referensi
