Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sejak Januari 2025. Evaluasi ini tidak hanya menyoroti distribusi makanan, tetapi juga dampak nyata terhadap tumbuh kembang anak penerima manfaat, khususnya dari sisi fisik dan kognitif (Periskop.id, 2026).
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa evaluasi akan dilakukan secara objektif dengan melibatkan lembaga independen. Langkah ini diambil untuk memastikan program MBG benar-benar berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia (SuaraSurabaya.net, 2026).
Rencana Evaluasi Program MBG Anak
Program MBG telah menjadi salah satu kebijakan prioritas nasional yang terus diperluas cakupannya. Dalam evaluasi mendatang, pemerintah akan membandingkan kondisi anak sebelum dan sesudah menerima MBG selama satu tahun penuh. Pengukuran tersebut mencakup pertumbuhan fisik seperti tinggi dan berat badan, serta indikator perkembangan otak anak (RM.id, 2026).
Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai dampak program terhadap kualitas kesehatan dan kecerdasan anak. Pemerintah menilai bahwa gizi yang cukup dan berkelanjutan memiliki peran penting dalam mendukung proses belajar dan perkembangan kognitif (CNBC Indonesia, 2026).
Fokus Pengukuran Fisik dan Perkembangan Otak
Evaluasi MBG anak akan menitikberatkan pada indikator fisik yang mudah terukur, seperti peningkatan tinggi badan dan berat badan. Selain itu, aspek perkembangan otak juga menjadi perhatian, mengingat kecukupan gizi berpengaruh langsung terhadap fungsi kognitif dan kemampuan berpikir anak (HarianJogja.com, 2026).
Kepala Badan Gizi Nasional menjelaskan bahwa pengalaman negara lain, seperti Jepang, menunjukkan adanya korelasi kuat antara program gizi sekolah dengan peningkatan kualitas generasi muda. Hal ini menjadi rujukan penting dalam penyusunan metode evaluasi MBG di Indonesia (SuaraSurabaya.net, 2026).
Pelaksanaan Evaluasi oleh Lembaga Independen
Agar hasil evaluasi dapat dipertanggungjawabkan, pemerintah berencana menggandeng lembaga independen dalam proses pengukuran dan analisis data. Keterlibatan pihak ketiga dinilai penting untuk menjaga transparansi serta objektivitas hasil evaluasi program MBG (Periskop.id, 2026).
Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi dasar perbaikan kebijakan gizi nasional, sekaligus memperkuat efektivitas program MBG sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Rencana evaluasi program MBG dengan mengukur pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan efektivitas kebijakan gizi nasional. Data hasil evaluasi nantinya diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai dampak program terhadap kualitas generasi muda Indonesia.
Ikuti terus perkembangan berita dan analisis kebijakan publik lainnya hanya di Garap Media, untuk mendapatkan informasi terpercaya seputar isu pendidikan, kesehatan, dan pembangunan nasional.
Referensi
