Rahasia Besar Narwhal Arktik Terungkap Ilmuwan Dunia
Narwhal Arktik atau Monodon monoceros semakin menjadi fokus penelitian global. Berbagai studi ilmiah menunjukkan bahwa spesies ini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Dikenal sebagai “unicorn laut,” narwhal memiliki taring unik yang berfungsi sebagai sensor lingkungan. Karena itu, taring tersebut kini menjadi sumber data penting tentang kondisi Arktik.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak lembaga resmi—mulai dari Environment and Climate Change Canada, WWF-Canada, hingga tim ilmiah internasional—memublikasikan temuan penting. Mereka meneliti migrasi, kondisi habitat, tingkat polusi merkuri, hingga respons narwhal terhadap kebisingan kapal. Hasil penelitian itu mengungkap perubahan drastis ekosistem Arktik. Perubahan ini sangat memengaruhi kelangsungan hidup narwhal.
Perubahan Habitat Narwhal Arktik
Menurut laporan Environment and Climate Change Canada (2024), narwhal sangat bergantung pada jaringan jalur es atau leads. Jalur ini penting untuk bernapas dan bermigrasi. Namun, struktur es yang sebelumnya stabil kini berubah karena suhu Arktik terus meningkat. Laporan COSEWIC juga menyebutkan bahwa populasi narwhal di Northern Hudson Bay dan Baffin Bay mulai terdampak. Pola es laut yang berubah membuat perilaku migrasi mereka ikut bergeser.
Selain itu, dokumen COSEWIC 2018 (Chapter 5: Habitat) menjelaskan ketergantungan narwhal pada es musim dingin. Mereka biasanya mencari makan di kedalaman laut dengan memanfaatkan tutupan es sebagai panduan habitat. Tetapi ketika es mencair lebih cepat atau terbentuk tidak teratur, narwhal kehilangan lokasi berburu terbaik. Akibatnya, kondisi tubuh mereka ikut menurun.
Taring Narwhal sebagai Rekaman Perubahan Lingkungan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa taring narwhal merekam kondisi lingkungan selama puluhan tahun. Studi Scientific American (2021) mengungkap bahwa lapisan kimia pada taring narwhal memuat data perubahan pola makan serta peningkatan paparan merkuri sejak awal tahun 2000.
Studi dari McGill University yang diterbitkan oleh ScienceDaily (2021) memperkuat temuan tersebut. Peneliti menemukan bahwa perubahan iklim menyebabkan narwhal mengonsumsi jenis mangsa berbeda, dan pergeseran pola makan ini terekam jelas dalam komposisi kimia taring. Peningkatan kadar merkuri juga mengindikasikan polusi global yang kini mencapai Arktik dalam jumlah signifikan.
Penelitian dari Smithsonian Magazine (2021) menyebut taring narwhal sebagai “arsip lingkungan” yang menunjukkan betapa cepatnya kondisi Arktik berubah dalam dua dekade terakhir.
Ancaman Kebisingan: Tantangan Baru bagi Narwhal Arktik
Narwhal dikenal sangat sensitif terhadap suara. Sebuah studi tahun 2021 dari PMC/NCBI menemukan bahwa narwhal bereaksi kuat terhadap kebisingan kapal dan ledakan airgun—alat survei seismik yang umum digunakan industri minyak. Dalam penelitian tersebut, narwhal mengurangi aktivitas menyelam, menghindari wilayah tertentu, bahkan menghentikan aktivitas berburu.
Studi lain dari University of California Santa Cruz yang dipublikasikan di ScienceDaily (2022) menunjukkan bahwa narwhal mengalami gangguan fisiologis serius akibat kebisingan kapal survei. Gangguan tersebut mencakup percepatan detak jantung dan respons stres berkepanjangan, yang dapat membahayakan kehidupan harian mereka.
WWF-Canada (2021) menyebut narwhal sebagai “spesies laut paling rentan terhadap Arktik yang lebih panas dan lebih bising.” Ketika es mencair, kapal memasuki wilayah yang dulunya tertutup es, meningkatkan intensitas kebisingan di habitat narwhal.
Ancaman Tambahan: Polusi dan Perubahan Iklim
Chapter 8 dari laporan COSEWIC (Environment and Climate Change Canada, 2018) menjelaskan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengubah es laut, tetapi juga memengaruhi distribusi mangsa seperti ikan cod Arktik dan halibut. Ketika jalur migrasi mangsa berubah, narwhal ikut terdampak karena mereka memiliki ceruk ekologis yang sempit dan cenderung mengikuti rute migrasi yang sama selama generasi.
WWF-Canada (n.d.) mencatat bahwa selain polusi suara, polusi bahan kimia seperti merkuri dan mikroplastik mulai ditemukan di jaringan tubuh narwhal. Hal ini menunjukkan bahwa polutan dari seluruh dunia kini mencapai Arktik.
Narwhal arktik kini menjadi indikator penting perubahan lingkungan global. Penelitian ilmiah dari berbagai lembaga kredibel menunjukkan bahwa ancaman seperti perubahan iklim, polusi, hilangnya es, dan peningkatan kebisingan laut menempatkan narwhal dalam kondisi yang semakin rentan. Temuan ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap habitat Arktik sangat mendesak.
Pembaca diharapkan dapat semakin memahami pentingnya isu konservasi dan mendukung upaya penyelamatan spesies laut. Untuk berita lain terkait lingkungan, sains, dan perubahan iklim, kunjungi artikel lainnya di Garap Media.
Referensi
- Environment and Climate Change Canada. (2024).
- Environment and Climate Change Canada. (2018).
- Environment and Climate Change Canada. (2018).
- Scientific American. (2021).
- ScienceDaily / McGill University. (2021).
- PMC / NCBI. (2021).
- ScienceDaily / University of California Santa Cruz. (2022).
- WWF-Canada. (n.d.).
- WWF-Canada. (2021).
- Smithsonian Magazine. (2021).
