Kalau kamu sekarang lagi di usia 20 sampai 30-an, kamu termasuk anak muda yang mengalami quarter life crisis, mungkin kamu merasa hidup mulai berubah cepat. Dari masa kuliah yang bebas, kamu masuk ke fase baru: dunia orang dewasa. Masa ini tidak mudah untuk kamu jalani. Tuntutan makin banyak, ekspektasi makin tinggi, dan semua orang berlomba untuk mencapai kesuksesan.
Kadang kamu cemas soal masa depan, bingung arah hidup, dan merasa harus cepat berhasil. Belum lagi media sosial yang terus menampilkan kesuksesan orang lain. Temanmu yang sudah bisa beli rumah, punya tabungan besar, atau keliling dunia. Semua itu membuat kamu merasa tertinggal, padahal kamu juga lagi berusaha sekuat mungkin. Dan tanpa sadar, kamu masuk ke fase yang disebut quarter-life crisis atau krisis seperempat abad.
Media sosial juga sering bikin kamu lupa buat fokus ke diri sendiri. Kamu jadi lebih sibuk membandingkan hidupmu dengan orang lain, dan malah mengejar hal-hal yang kelihatan “wah” di luar, tetapi tidak membuat kamu benar-benar merasa puas dengan pencapaian yang kamu miliki. Akhirnya, kamu merasa kosong seolah semua pencapaian itu tidak berarti.
1. Kenapa Quarter-Life Crisis Terjadi di Usia 20-an
Quarter-life crisis sering terjadi saat usia 20-an, saat kamu mulai harus menyeimbangkan banyak hal: karier, keuangan, relasi, menjalani hidup mandiri untuk pertama kalinya, menjalani hubungan romantis yang serius untuk pertama kalinya, mengalami putus cinta setelah menjalani hubungan yang serius sekian lama, bahkan ekspektasi dari keluarga atau lingkungan. Di masa ini, wajar banget kalau kamu merasa kehilangan arah dan tidak tahu harus melangkah ke mana.
Banyak anak muda yang merasa waktunya habis begitu saja, seolah semua orang sudah memiliki rencana hidup, sementara kamu masih mencari tahu apa yang sebenarnya kamu mau. Namun, percayalah, itu bukan kelemahan. Justru di sinilah kamu belajar menerima bahwa hidup tidak selalu bisa dikontrol.
2. Tekanan Sosial dan Ekspektasi yang Tidak Realistis
Kamu pasti sering mendengar kalimat, “Umur segini harusnya udah kerja tetap,” atau “masa belum menikah sih?” Budaya seperti ini bikin banyak anak muda merasa hidupnya tidak sesuai harapan. Padahal setiap orang punya waktu dan jalannya sendiri.
Ketika kamu gagal memenuhi ekspektasi itu, kamu mulai merasa tidak cukup, bahkan kehilangan harga diri. Tapi coba deh pikir ulang: siapa sih yang sebenarnya kamu kejar? Standar orang lain atau versi terbaik dari dirimu sendiri? Kesuksesan tidak selalu soal cepat atau lambat, tetapi soal proses yang kamu jalani saat ini yang membuat diri kamu semakin berkembang melalui setiap hambatan yang terjadi saat kamu sedang menjalani prosesnya.
3. Media Sosial dan Perbandingan yang Melelahkan
Coba kamu perhatikan, di media sosial semua orang terlihat bahagia. Ada yang baru naik jabatan, ada yang posting cincin tunangan, ada juga yang pamer liburan ke luar negeri. Padahal yang kamu lihat itu cuma potongan terbaik dari hidup mereka.
Tidak salah jika kamu jadi merasakan rendah diri, tetapi jangan biarkan perasaan itu menggerogoti keyakinanmu. Fenomena ini dikenal dengan comparison anxiety — rasa cemas karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Kadang muncul juga FOMO (takut tertinggal) atau imposter syndrome yang bikin kamu ragu sama pencapaianmu sendiri. Namun, ingat satu hal bahwa hidupmu bukan kompetisi. Kamu punya waktu dan perjalananmu sendiri.
Baca juga: Cara Mengatasi FOMO dan Mulai Nikmati Hidup dengan JOMO
4. Tanda-Tanda Quarter Life Crisis
Kalau kamu sering merasa bingung dengan arah hidup atau kehilangan semangat menjalani hari, bisa jadi kamu sedang berada di fase quarter-life crisis. Fase ini biasanya muncul saat kamu mulai mempertanyakan tujuan hidup, tetapi di sisi lain takut kalau pilihanmu salah. Kadang kamu juga merasa terjebak dalam rutinitas yang nggak kamu sukai, sementara tekanan dari lingkungan terus bertambah.
5. Dampak Quarter-Life Crisis terhadap Kesehatan Mental
Quarter-life crisis bisa diam-diam menguras energi mentalmu. Kamu jadi gampang cemas, susah tidur, kehilangan semangat, bahkan takut bikin keputusan karena takut salah. Rasanya kayak jalan di kabut tebal: kamu tahu harus maju, tetapi kamu tidak tahu arah yang benar.
Kalau kamu ngerasain hal ini, itu tanda kamu butuh berhenti sejenak. Cari ruang untuk cerita, entah ke teman, keluarga, profesional atau profesional.
5. Menemukan Ketenangan Lewat Refleksi Diri
Banyak orang berusaha melarikan diri dari rasa cemas dengan hiburan, motivasi instan, atau sibuk kerja tanpa henti. Namun, kamu dapat jujur dengan dirimu sendiri, yang kamu butuhkan sebenarnya bukan pelarian, tetapi ketenangan.
Refleksi diri membantu kamu tahu apa yang sebenarnya penting. Saat kamu mulai berdamai dengan ketidaksempurnaan dan menerima perjalananmu, kamu akan merasa lebih tenang.
Penutup
Quarter-life crisis bukan tanda kamu gagal, tetapi momen buat kamu mengenali diri sendiri dengan lebih dalam. Tidak apa-apa kalau kamu belum tahu semua arah hidupmu sekarang. Terkadang, proses menjadi dewasa justru dimulai dari keberanian untuk terus melangkah walaupun jalannya belum sepenuhnya jelas.
Referensi:
Quarter Life Crisis: Pengertian, Gejala, dan Cara Mengatasinya
- Implementasi Stoikisme Seneca sebagai Solusi Filosofis dalam Menghadapi Quarter Life Crisis
Kalau kamu lagi mencari arah atau butuh dorongan buat terus berkembang, kamu nggak sendirian. Temukan cerita dan insight karier lainnya di Garap Media.
