Arus Mudik Lebaran 2026 menjadi salah satu momen paling dinantikan oleh jutaan masyarakat Indonesia. Setiap tahun, fenomena ini melibatkan mobilisasi besar-besaran penduduk dari kota ke kampung halaman menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pada 2026, prakiraan arus mudik bukan sekadar meningkat tetapi diprediksi menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah modern Indonesia.
Prediksi terbaru menunjukkan bahwa rentang pemudik bisa mencapai hampir 144 juta orang. Para pemangku kebijakan hingga pengamat transportasi tengah mempersiapkan strategi agar arus besar ini dapat berjalan aman, tertib, dan terkendali (iNews.id, 2026).
Perkiraan Jumlah Pemudik Tahun 2026
143,91 Juta Orang Diprediksi Bertolak ke Kampung Halaman
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui hasil survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) memprediksi bahwa total jumlah pemudik pada Lebaran 2026 akan mencapai 143,91 juta orang atau sekitar 50,60 persen dari total penduduk Indonesia (Media Indonesia, 2026). Angka ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyiapkan berbagai strategi transportasi nasional.
Berdasarkan laporan tersebut, asal pemudik terbesar diperkirakan berasal dari Jawa Barat, disusul DKI Jakarta dan Jawa Timur. Sementara itu, tujuan utama perjalanan didominasi oleh Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat (Media Indonesia, 2026).
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Jatuh 18 Maret
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memprediksi puncak Arus Mudik Lebaran 2026 akan terjadi pada 18 Maret 2026. Tanggal ini diperkirakan menjadi titik pergerakan tertinggi kendaraan dan penumpang di berbagai moda transportasi nasional (iNews.id, 2026).
Untuk mengantisipasi kepadatan yang menumpuk pada satu hari, pemerintah menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi sejumlah sektor. Kebijakan ini diharapkan dapat menyebarkan waktu keberangkatan pemudik sehingga lonjakan tidak hanya terpusat pada satu tanggal (iNews.id, 2026).
Strategi Transportasi Hadapi Arus Mudik Lebaran 2026
Menghadapi potensi lonjakan besar, pemerintah menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Salah satunya adalah optimalisasi kapasitas transportasi darat, laut, dan udara, termasuk koordinasi lintas instansi untuk pengamanan jalur mudik utama.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan kebijakan rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah (one way), contraflow, hingga pembatasan kendaraan berat pada periode tertentu guna menjaga kelancaran arus kendaraan di jalan tol dan jalur nasional (Kompas.com, 2026).
Titik Asal dan Tujuan Terpadat
Data survei menunjukkan bahwa wilayah Jawa Barat menjadi daerah asal pemudik terbesar dengan puluhan juta pergerakan. DKI Jakarta dan Jawa Timur menyusul sebagai penyumbang mobilitas tinggi. Sementara itu, Jawa Tengah diprediksi menjadi tujuan paling padat selama periode Lebaran 2026 (Media Indonesia, 2026).
Dominasi kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk mudik. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola jalan tol dan kepolisian dalam menjaga kelancaran arus lalu lintas.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Arus Mudik Lebaran 2026 tidak hanya berdampak pada kepadatan transportasi, tetapi juga memberikan efek ekonomi signifikan. Perputaran uang selama musim Lebaran biasanya meningkat, terutama di sektor UMKM, perdagangan, pariwisata, dan jasa transportasi.
Di sisi lain, risiko kecelakaan dan kelelahan pengemudi tetap menjadi perhatian utama. Pemerintah dan aparat keamanan terus mengimbau masyarakat agar memastikan kondisi kendaraan prima serta menjaga kesehatan selama perjalanan jauh.
Dengan prediksi mencapai 143,91 juta pemudik dan puncak pergerakan pada 18 Maret, Arus Mudik Lebaran 2026 diperkirakan menjadi salah satu mobilitas terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Koordinasi pemerintah, kesiapan infrastruktur, serta kesadaran masyarakat menjadi kunci kelancaran mudik tahun ini.
Ikuti terus perkembangan berita terkini seputar transportasi, kebijakan publik, dan dinamika nasional hanya di Garap Media. Jangan lewatkan juga laporan mendalam lainnya untuk mendapatkan informasi akurat dan terpercaya.
Referensi
