Puasa Ramadan adalah kewajiban bagi umat Muslim. Meski begitu, bagi mereka yang mengidap sakit diperbolehkan tidak berpuasa bila berisiko atau memperberat kondisi. Khusus bagi pengidap Parkinson yang hendak menjalankan ibadah puasa, dokter spesialis saraf Gloria Tanjung dari RS EMC Alam Sutera dan Sentul memberi beberapa catatan penting sebelum memutuskan untuk berpuasa.
Dokter mengingatkan bahwa keputusan berpuasa bagi pasien Parkinson tidak bisa disamaratakan. Setiap pasien memiliki kondisi dan tingkat keparahan yang berbeda, sehingga diperlukan konsultasi serta penilaian medis secara menyeluruh agar ibadah tetap dapat dijalankan dengan aman dan kondisi kesehatan tetap terjaga.
Catatan Penting bagi Pengidap Parkinson Saat Puasa
Catatan pertama, penghentian secara mendadak obat-obat Parkinson saat berpuasa dapat menyebabkan perburukan kondisi. Gejala seperti kekakuan dapat bertambah berat hingga pasien tidak dapat bergerak sama sekali.
“Pasien yang rutin konsumsi obat lebih dari tiga kali akan mengalami fluktuasi motorik (kaku, tremor, sulit bergerak yang bertambah) karena hanya mengkonsumsi obat saat sahur dan berbuka,” kata Gloria mengutip laman EMC, Rabu (11/2/2026).
Selain itu, konsumsi obat dalam dosis berlebihan sekaligus saat berbuka juga memiliki risiko. Kondisi ini dapat memicu diskinesia, yaitu gerakan abnormal akibat lonjakan dopamin yang mendadak tinggi ke otak.
Catatan kedua, setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda sehingga diperlukan penilaian medis secara komprehensif sebelum memutuskan untuk berpuasa. Tingkat keparahan penyakit tersebut juga menentukan besarnya risiko yang mungkin timbul selama menjalankan ibadah puasa.
Secara umum, pasien dengan derajat ringan masih dapat berpuasa dengan penggunaan obat berdurasi kerja panjang. Pada derajat sedang, puasa tetap memungkinkan dengan beberapa modifikasi pengobatan. Sementara itu, kondisi derajat berat memiliki risiko tinggi untuk menjalankan puasa, kecuali dikombinasikan dengan advanced therapy atau terapi tingkat lanjut.
Modifikasi Dosis dan Jenis Obat Parkinson
Catatan ketiga, bagi pasien Parkinson yang dapat berpuasa, diperlukan evaluasi obat-obatan. Bila diperlukan, dapat dilakukan modifikasi jenis dan dosis obat. Hal ini sebaiknya dilakukan sebelum mulai Ramadan untuk menyesuaikan regimen obat yang baru.
“Melakukan ibadah puasa Ramadan merupakan suatu tantangan bagi pasien Parkinson. Bukanlah tidak mungkin pasien Parkinson untuk berpuasa, namun kita perlu memastikan kondisi pasien optimal dan aman saat berpuasa. Konsultasikan ke dokter spesialis saraf bagi pasien Parkinson yang ingin berpuasa,” saran Gloria.
Mengenal Penyakit Parkinson
Gloria menjelaskan bahwa penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif kedua terbanyak di dunia. Penyakit ini berdampak pada 2 dari 100 orang yang berusia di atas 60 tahun, meskipun dapat juga terjadi pada usia yang lebih muda. Parkinson menyebabkan keluhan gerakan lambat, kaku, tremor, dan gejala lainnya yang berdampak pada aktivitas sehari-hari pasien. Penyakit ini terjadi karena penurunan zat kimia di otak, yaitu dopamin.
Banyak jenis obat yang dapat mengontrol gejala Parkinson. Salah satu yang utama adalah obat yang mengandung levodopa, yang bekerja sebagai prekursor dopamin. Namun, obat ini memiliki durasi kerja yang singkat di tubuh, yaitu hanya 3-4 jam. Oleh karena itu, pasien dengan kondisi tersebut dapat mengonsumsi obat lebih dari tiga kali sehari.
Penutup
Puasa Ramadan bagi pengidap Parkinson memerlukan pertimbangan medis yang matang, karena perubahan jadwal konsumsi obat dapat berdampak langsung pada kondisi pasien. Penghentian mendadak atau pengaturan dosis yang tidak tepat berisiko memperburuk gejala dan memicu komplikasi.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Puasa Ramadan bagi Pengidap Parkinson, Simak Kata Dokter Sebelum Menjalankannya. Retrieved from https://www.liputan6.com/disabilitas/read/6276402/puasa-ramadan-bagi-pengidap-parkinson-simak-kata-dokter-sebelum-menjalankannya
