Puasa Kristen – Bentuk ibadah rohani yang dijalankan umat Kristiani untuk memperkuat iman serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus Kristus. Dalam pelaksanaannya, puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi menjadi sarana untuk melatih kerendahan hati, mengendalikan diri, dan memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan.
Puasa juga dimaknai sebagai wujud pertobatan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dalam Alkitab, banyak tokoh yang menjalankan puasa sebagai bentuk ketaatan, seperti Musa, Elia, Daniel, Ester, dan Yesus sendiri. Melalui puasa, umat diajak menundukkan keinginan duniawi dan membuka hati untuk mendengarkan kehendak Tuhan.
Puasa dalam Kristen Berapa Jam?
Alkitab tidak menetapkan aturan pasti mengenai berapa jam puasa Kristen harus dilakukan. Yang ditekankan bukan pada lamanya waktu, melainkan sikap hati, niat, dan kesungguhan iman dalam menjalankannya.
Dalam praktiknya, banyak jemaat berpuasa mulai dari pagi hingga sore hari, sekitar 6 hingga 12 jam tanpa makan dan minum. Sebagian umat juga melaksanakan puasa selama masa Prapaskah, yakni 40 hari menjelang Paskah, sebagai bentuk refleksi, pertobatan, dan penyiapan diri untuk memperingati kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Beberapa gereja Protestan dan Katolik menjalankan puasa dengan cara berbeda, namun esensinya tetap sama: menahan diri, memperbanyak doa, dan memperdalam relasi dengan Tuhan (IDN Times, 2025).
Jenis dan Tujuan Puasa Kristen
Berdasarkan Alkitab, terdapat beberapa jenis puasa Kristen yang dilakukan dengan cara dan tujuan yang berbeda-beda:
- Puasa Yesus – Dilakukan selama 40 hari di padang gurun tanpa makan (Lukas 4:1-2).
- Puasa Musa – Selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum saat menerima Sepuluh Firman (Keluaran 34:28).
- Puasa Daud – Tujuh hari lamanya untuk memohon belas kasihan Tuhan atas anaknya (2 Samuel 12:16).
- Puasa Daniel – Selama 10 hari hanya makan sayur dan minum air putih, kemudian 21 hari berkabung dan berdoa (Daniel 1:12; 10:2-3).
- Puasa Ester – Tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum untuk memohon penyelamatan bangsa Yahudi (Ester 4:16).
- Puasa Elia – Dilakukan sambil berjalan 40 hari 40 malam dengan kekuatan rohani dari Tuhan (1 Raja-Raja 19:8).
- Puasa Ayub – Tujuh hari tujuh malam dalam kesunyian dan penderitaan (Ayub 2:13).
- Puasa Niniwe – Dijalankan sebagai tanda pertobatan agar Tuhan berbelas kasihan (Yunus 3:7- 9).
Dari berbagai contoh tersebut, jelas bahwa puasa Kristen tidak diukur dari jumlah jam atau lamanya waktu, tetapi dari ketulusan hati dan pengabdian untuk mencari kehendak Tuhan (IDN Times, 2025).
Makna Rohani di Balik Puasa
Lebih dari sekadar ritual, puasa Kristen merupakan latihan rohani untuk menumbuhkan kepekaan terhadap suara Tuhan. Dengan berpuasa, umat belajar mengutamakan kehidupan rohani di atas kebutuhan jasmani. Doa, renungan, dan pembacaan Alkitab menjadi bagian penting selama masa puasa agar iman semakin bertumbuh.
Selain itu, puasa juga menjadi waktu untuk meneladani Yesus yang hidup dalam ketaatan dan kasih. Melalui puasa, umat Kristiani diajak untuk rendah hati, bersyukur, dan berbagi kasih kepada sesama yang membutuhkan (IDN Times, 2025).
Penutup
Puasa dalam ajaran Kristen bukan hanya soal menahan makan dan minum, tetapi merupakan tindakan iman untuk memperdalam relasi dengan Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada ketentuan pasti mengenai berapa jam harus dilakukan, sebab yang terpenting adalah hati yang tulus dan keinginan sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
Untuk memperdalam pemahaman tentang kehidupan rohani dan praktik iman Kristen sehari-hari, baca berbagai artikel inspiratif lainnya di Garap Media.
Referensi:
- IDN Times. (2025). Puasa Kristen yang Dijelaskan dalam Alkitab. Retrieved from https://www.idntimes.com/life/inspiration/puasa-kristen-yang-dijelaskan-dalam-alkitab-c1c2-01-lhy83-y8vq8x
