Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Dipertanyakan: Sekolah Elite Menolak, Bagaimana dengan Aceh?

Last Updated: 3 October 2025, 11:36

Bagikan:

Program Makan Gizi Gratis (MBG)
Foto: Antara News
Table of Contents

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Terobosan untuk Pendidikan dan Kesehatan

Terobosan Besar Pemerintah

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah terobosan pemerintah di bidang pendidikan dan kesehatan. Melalui program ini, jutaan siswa sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui mendapat asupan gizi seimbang setiap hari. Tujuannya bukan hanya menjaga kesehatan, tetapi juga mendorong prestasi belajar, kecerdasan (IQ), dan kualitas generasi bangsa.

Tantangan Global dalam Pendidikan

Laporan UNESCO Global Education Monitoring (GEM) menyebut enam dari sepuluh anak di dunia belum mampu membaca teks sederhana atau menghitung dasar meski sudah menamatkan sekolah dasar. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Asia Tenggara dan Afrika, tetapi juga masih ada di sejumlah negara maju.

Jawaban Indonesia: Program MBG

Pemerintah Indonesia mencoba menjawab tantangan itu lewat Program MBG. Program ini digagas Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Targetnya, siswa lebih sehat sekaligus mampu meningkatkan kemampuan belajar.

Dampak Positif MBG bagi Siswa

Melalui Makan Bergizi Gratis, siswa menerima makanan sehat setiap hari. Program ini diyakini dapat meningkatkan motivasi belajar, kemampuan berhitung, dan daya pikir kritis. MBG menjadi investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi Indonesia yang lebih cerdas, sehat, dan kompetitif.

Selain menyasar pelajar, MBG juga dirancang untuk memastikan kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita memperoleh asupan bergizi sesuai standar kesehatan yang ditetapkan.

Dalam RAPBN 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar kurang lebih Rp335 triliun, atau sekitar 44% dari total anggaran pendidikan nasional. Meski nilainya sangat besar, para pakar mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap mutu, mekanisme distribusi, hingga kualitas menu agar tujuan program benar-benar tercapai.

Namun, dinamika berbeda muncul di SDIT Al Izzah, Serang (Banten). Sejumlah wali murid di sekolah yang dikenal sebagai sekolah “elite” justru menyatakan penolakan terhadap MBG. Mereka menilai program ini lebih banyak menyasar kelompok menengah ke atas di lingkungan sekolah tersebut, sementara surat persetujuan dari orang tua baru diterbitkan setelah program berjalan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai fokus serta relevansi pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah yang secara ekonomi dianggap sudah cukup mampu.

Bagaimana dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh?

Sejumlah perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai membawa dampak nyata di berbagai daerah di Aceh. Dari pusat kota Banda Aceh hingga wilayah terpencil seperti Simeulue, para siswa tampak antusias menyambut sajian menu sehat yang hadir setiap hari di sekolah.

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Aceh Besar menegaskan hingga kini tidak ditemukan kasus pelajar madrasah yang mengalami keracunan maupun gangguan kesehatan akibat program ini. Data Pemerintah Provinsi Aceh juga mencatat, hingga awal September 2025, realisasi penerima manfaat MBG sudah mencapai 43 persen atau sekitar 742.891 orang dari total target 1.717.980 penerima, yang meliputi siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita di 23 kabupaten/kota.

Dampak Ekonomi Lokal dari Program MBG

Lebih dari sekadar intervensi gizi, program ini turut memberi dampak positif pada pertumbuhan ekonomi lokal. MBG menyerap tenaga kerja baru sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.

Peran UMKM dan Petani Lokal

Pemerintah Aceh mendorong keterlibatan UMKM dan petani lokal sebagai pemasok utama bahan makanan bergizi. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan di meja makan siswa, tetapi juga ikut menggerakkan roda perekonomian daerah.

Komitmen Sekolah dalam Implementasi MBG

Di tingkat satuan pendidikan, komitmen sekolah dalam mendukung MBG semakin nyata. MAN 2 Banda Aceh, misalnya, mulai menerapkan program ini sejak 15 September 2025. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesehatan siswa sekaligus menunjang kualitas pembelajaran.

Respons Positif dari Sekolah di Aceh

Meski di sejumlah daerah program MBG sempat menimbulkan pro dan kontra, di Aceh implementasinya justru disambut positif. Banyak sekolah melaporkan siswa menjadi lebih bersemangat mengikuti pelajaran setelah rutin memperoleh menu bergizi.

Pemberdayaan Ekonomi dan Generasi Muda

Dengan memanfaatkan bahan pangan dari produsen lokal, MBG di Aceh tidak hanya memperbaiki kualitas gizi generasi muda, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa program MBG mampu memberikan manfaat ganda—baik di sektor pendidikan maupun ekonomi daerah.

Referensi:

 

Tags:

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /