Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Baru Iran

Last Updated: 9 March 2026, 08:07

Bagikan:

mojtaba khamenei
Foto: SINDOnews
Table of Contents

Mojtaba Hosseini Khamenei, atau dikenal pula sebagai Mojtaba Khamenei, adalah putra kedua Ayatullah Ali Khamenei. Ia resmi terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran setelah ayahnya wafat dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026. Penetapan tersebut dilakukan setelah berbagai spekulasi muncul di media Israel dan Barat. Sebelumnya, media-media tersebut menyebutnya sebagai kandidat terdepan untuk memimpin Republik Islam Iran yang telah berdiri selama 47 tahun.

Ibu Mojtaba Khamenei, istrinya, serta salah satu saudara perempuannya juga dilaporkan tewas pada 28 Februari, hari pertama perang meletus. Mojtaba Khamenei disebut tidak berada di lokasi saat serangan terjadi sehingga berhasil selamat dari rangkaian pengeboman intensif.

Kepemimpinan dan Karier Politik

Mengutip laporan Al Jazeera, sebelum terpilih sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan politik ataupun mengikuti pemilihan umum. Meski demikian, selama beberapa dekade, ia dikenal sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam kepemimpinan ayahnya. Ia juga memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Khamenei sebelumnya menjabat sebagai presiden Iran selama hampir delapan tahun sebelum memegang kekuasaan tertinggi negara tersebut selama 36 tahun. Mojtaba Khamenei yang kini berusia 56 tahun sebelumnya tidak pernah secara terbuka membahas isu suksesi kepemimpinan. Topik tersebut dianggap sangat sensitif karena pengangkatannya sebagai pemimpin tertinggi berpotensi menciptakan dinasti politik yang mengingatkan pada monarki Pahlavi sebelum Revolusi Islam 1979.

Ia hampir tidak pernah memberikan ceramah terbuka, khutbah Jumat, maupun pidato politik. Akibatnya, banyak warga Iran bahkan belum pernah mendengar suaranya meskipun telah lama mengetahui bahwa ia merupakan figur yang berpengaruh dalam struktur pemerintahan teokratis negara tersebut.

Tuduhan Keterlibatan dalam Penindasan Demonstrasi

Selama hampir dua dekade terakhir, sejumlah kelompok oposisi di dalam dan luar negeri mengaitkan nama Mojtaba Khamenei dengan tindakan keras terhadap demonstrasi di Iran. Kelompok reformis dalam Republik Islam pertama kali menuduhnya terlibat dalam manipulasi pemilu. Mereka juga menuding Mojtaba Khamenei menggunakan pasukan paramiliter Basij yang berada di bawah IRGC untuk menindak para demonstran damai selama Gerakan Hijau tahun 2009. Gerakan tersebut muncul setelah politikus populis Mahmoud Ahmadinejad kembali terpilih sebagai presiden melalui pemilu yang menuai kontroversi.

Sejak saat itu, pasukan Basij berada di garis depan dalam berbagai tindakan penindasan terhadap gelombang demonstrasi nasional di Iran. Penindasan paling menonjol terjadi dua bulan lalu. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional menyatakan bahwa aparat negara menewaskan ribuan orang, terutama pada malam 8 dan 9 Januari. Pihak pemerintah Iran saat itu menuduh bahwa kerusuhan tersebut dipicu oleh “teroris” dan “perusuh” yang disebut-sebut dipersenjatai, dilatih, dan didanai oleh AS dan Israel. Tuduhan serupa juga pernah disampaikan pemerintah Iran dalam berbagai gelombang protes anti-pemerintah sebelumnya.

Karier Keagamaan dan Hubungan dengan IRGC

Mojtaba Khamenei mulai membangun hubungan dekat dengan IRGC sejak usia muda. Ia pernah bertugas dalam Batalyon Habib milik IRGC selama berbagai operasi dalam Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Sejumlah rekan seperjuangannya pada masa tersebut, termasuk para ulama lain, kemudian menduduki posisi penting dalam aparat keamanan dan intelijen Republik Islam yang saat itu masih baru terbentuk.

Mojtaba Khamenei berada di bawah sanksi AS dan negara-negara Barat. Sejumlah laporan media Barat menyebutkan bahwa ia memiliki jaringan bisnis besar yang mencakup aset di berbagai negara. Namanya diyakini tidak tercantum secara langsung dalam berbagai transaksi yang disebutkan dalam laporan tersebut. Namun, menurut sejumlah laporan, ia diduga memindahkan miliaran dolar selama bertahun-tahun melalui jaringan orang dalam dan para sekutu yang memiliki kedekatan dengan struktur kekuasaan di Iran.

Bloomberg mengaitkan Mojtaba Khamenei dengan Ali Ansari. Nama Ansari menjadi sorotan pada akhir tahun lalu setelah Bank Ayandeh miliknya dibubarkan secara paksa oleh pemerintah. Bank tersebut bangkrut akibat pemberian pinjaman kepada pihak-pihak yang tidak disebutkan namanya serta akumulasi utang besar. Pembubaran bank tersebut turut mendorong inflasi yang sudah tinggi di Iran semakin meningkat. Kerugian yang terjadi sebagian harus ditanggung melalui dana publik, sehingga memperburuk kondisi ekonomi masyarakat Iran. Baik Mojtaba Khamenei maupun Ali Ansari belum pernah secara terbuka menanggapi hubungan maupun berbagai tuduhan tersebut. Hal ini termasuk dugaan pembelian properti mewah di sejumlah negara Eropa.

Isu Kredensial Keagamaan

Kredensial keagamaan Mojtaba Khamenei menjadi perdebatan. Ia memiliki gelar hojatoleslam, yang merupakan tingkat ulama menengah, bukan ayatullah yang memiliki tingkat lebih tinggi. Namun situasi serupa pernah terjadi pada ayahnya. Khamenei juga belum menyandang gelar ayatullah ketika diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran pada tahun 1989. Saat itu undang-undang diubah untuk memungkinkan pengangkatannya, sehingga kemungkinan kompromi serupa dapat terjadi kembali.

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi dilakukan melalui mekanisme yang diatur dalam hukum Iran. Berdasarkan aturan tersebut, lembaga ulama yang beranggotakan 88 orang yang dikenal sebagai Majelis Ahli memiliki kewenangan untuk memilih dan mengumumkan pemimpin tertinggi. Keputusan tersebut diambil di tengah situasi keamanan yang sangat tegang menyusul serangkaian pengeboman intensif oleh AS dan Israel di berbagai wilayah Iran. Sebelum keputusan penunjukan diumumkan, pemerintahan sempat dijalankan oleh sebuah dewan sementara beranggotakan tiga orang. Anggota dewan tersebut adalah ulama garis keras sekaligus anggota Dewan Penjaga (Garda), Alireza Arafi, dan ulama ultra-konservatif yang juga menjabat kepala lembaga peradilan, Gholam-Hossein Mohseni-Ejei. Anggota lainnya adalah Presiden Masoud Pezeshkian.

Penutup

Pengangkatan Mojtaba Khamenei menandai babak baru dalam sejarah kepemimpinan Iran dan membawa tantangan besar di tengah ketegangan politik serta keamanan yang tinggi. Peran dan keputusan politiknya akan menentukan arah masa depan negara.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar politik, kepemimpinan, ekonomi, gerakan sosial, konflik Timur Tengah, dan hubungan luar negeri hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /