Post Hoc Rationalization: Alasan Setelah Keputusan

Last Updated: 9 June 2025, 18:15

Bagikan:

Terjebak Alasan Palsu Setelah Ambil Keputusan!
Table of Contents

Alasan Tersembunyi di Balik Keputusanmu: Ini Penjelasan Ilmiah Post Hoc Rationalization

Pernahkah kamu membuat keputusan spontan, lalu baru mencari alasan logis setelahnya agar keputusan itu terlihat masuk akal? Jika iya, kamu tidak sendiri. Fenomena psikologis ini disebut post hoc rationalization, sebuah bias kognitif yang memengaruhi bagaimana kita memahami tindakan dan keputusan kita sendiri. Meski terdengar sepele, efeknya bisa sangat besar dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan belanja, hubungan pribadi, hingga keputusan politik.

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam apa itu post hoc rationalization, bagaimana ia bekerja di otak manusia, dan dampaknya yang mengejutkan terhadap cara kita menjalani hidup. Simak baik-baik karena bisa jadi, kamu sering terjebak di dalamnya tanpa sadar!


Apa Itu Post Hoc Rationalization?

Post hoc rationalization adalah kecenderungan manusia untuk menciptakan alasan atau justifikasi setelah mengambil suatu keputusan atau tindakan. Kata “post hoc” berasal dari bahasa Latin yang berarti “setelah itu”, sedangkan “rationalization” merujuk pada proses membuat sesuatu tampak masuk akal.

Secara sederhana, ini adalah usaha pikiran untuk mengarang cerita yang logis setelah keputusan emosional atau impulsif telah dibuat. Alih-alih mengakui bahwa keputusan diambil karena dorongan sesaat atau emosi, seseorang akan mengklaim bahwa mereka memiliki alasan rasional sejak awal.

Contoh sederhana:

Kamu membeli sepatu mahal padahal awalnya tidak berencana. Setelahnya, kamu berkata, “Sepatunya berkualitas tinggi, jadi ini investasi jangka panjang.” Padahal, alasan sesungguhnya adalah karena desainnya menarik perhatianmu di etalase toko.


Bagaimana Otak Membuat Alasan Setelah Keputusan?

Penelitian menunjukkan bahwa otak manusia tidak selalu bekerja secara logis, melainkan emosional. Salah satu studi terkenal oleh Michael Gazzaniga dan Roger Sperry tentang pasien dengan otak belah (split-brain) menemukan bahwa ketika otak kiri (yang bertugas menafsirkan informasi) tidak memiliki akses ke informasi yang memicu keputusan, ia tetap akan mengarang alasan yang tampak logis.

Ini menunjukkan bahwa pikiran kita bisa menciptakan narasi palsu agar merasa nyaman, bahkan ketika alasan tersebut tidak berdasar.

Beberapa bagian otak yang terlibat dalam proses ini meliputi:

  • Amygdala: pusat pemrosesan emosi, yang sering menjadi pemicu keputusan cepat.
  • Prefrontal cortex: pusat logika dan perencanaan, yang mencoba menciptakan pembenaran setelah keputusan emosional dibuat.

Dampak Post Hoc Rationalization dalam Kehidupan Sehari-hari

Post hoc rationalization bisa terjadi di banyak aspek kehidupan, seperti:

Konsumsi dan Belanja

Konsumen seringkali membeli produk karena emosi (diskon besar, iklan menggoda), namun membenarkan keputusan itu dengan alasan praktis setelahnya.

Hubungan Pribadi

Seseorang bisa tetap bertahan dalam hubungan toksik karena meyakinkan dirinya bahwa “dia sebenarnya baik kalau sedang tidak marah,” padahal alasan sebenarnya lebih pada keterikatan emosional.

Politik dan Ideologi

Pendukung kandidat politik tertentu bisa saja menerima informasi negatif, namun tetap membelanya dengan justifikasi yang dibentuk setelah kejadian, bukan berdasarkan data obyektif.


Kenapa Kita Sering Terjebak?

Alasan utamanya adalah otak kita ingin menjaga citra diri (self-image). Mengakui bahwa kita salah atau impulsif membuat kita merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, kita “mengedit cerita” agar terlihat rasional, bahkan kepada diri sendiri.

Hal ini juga berkaitan erat dengan cognitive dissonance, yaitu ketegangan mental ketika ada ketidaksesuaian antara tindakan dan keyakinan. Post hoc rationalization menjadi alat untuk meredakan ketegangan ini.


Bagaimana Menghindarinya?

Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Berikut beberapa cara:

  • Sadar emosi saat membuat keputusan: Akui bahwa kamu merasa marah, senang, atau impulsif, dan jangan langsung ambil keputusan besar.
  • Tunda keputusan: Memberi waktu akan membantu otak berpikir lebih jernih.
  • Evaluasi ulang alasan pribadi: Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah ini benar-benar alasan awal, atau alasan yang baru kamu buat agar terasa masuk akal?

Post hoc rationalization adalah bukti betapa rumit dan menariknya cara kerja pikiran manusia. Dengan mengenali bias ini, kita bisa menjadi lebih sadar dalam mengambil keputusan dan tidak tertipu oleh narasi yang kita ciptakan sendiri.

Ingin tahu lebih banyak fakta menarik tentang cara kerja pikiran dan fenomena sosial lainnya? Baca berita dan artikel psikologi lainnya hanya di Garap Media. Dapatkan wawasan baru setiap harinya!

Lampiran Referensi

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /