Populasi Kepiting Kenari Semakin Menipis Akibat Perburuan Ilegal
Kepiting kenari merupakan arthropoda darat terbesar di dunia dan menjadi salah satu spesies ikonik di wilayah pesisir Indonesia. Keunikannya membuat spesies ini sering menjadi perhatian para peneliti dan masyarakat.
Namun, di balik popularitasnya, kepiting kenari menghadapi tekanan serius akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Populasinya terus menurun di berbagai daerah terutama di Maluku Utara, Sulawesi, dan wilayah timur Indonesia lainnya.
Mengenal Kepiting Kenari
Ciri Khas dan Habitat
Kepiting kenari (Birgus latro) dikenal sebagai kepiting darat terbesar dengan berat mencapai 4 kg dan panjang tubuh hingga sekitar 40 cm. Spesies ini hidup di pulau-pulau kecil dan daerah pesisir. (Mongabay Indonesia, 2023)
Peran dalam Ekosistem
Selain sebagai predator alami, kepiting kenari berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengurai bahan organik seperti kelapa dan dedaunan kering.
Ancaman terhadap Kepiting Kenari
Perburuan Intensif dan Perdagangan Ilegal
Di sejumlah wilayah seperti Maluku Utara, kepiting kenari diburu untuk konsumsi serta dijual dengan harga tinggi. Perburuan yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama penurunan populasinya. (Mongabay Indonesia, 2024)
Penurunan Populasi dan Ukuran Individu
Penelitian lapangan menunjukkan bahwa kepiting kenari yang tertangkap kini berukuran lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa individu dewasa semakin langka di alam. (Mongabay Indonesia, 2024)
Regulasi Perlindungan
Kepiting kenari termasuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 12/Kpts/II/1987 dan PP No. 7 Tahun 1999. Namun penegakan regulasi masih lemah dan sulit diterapkan di lapangan. (ANTARA, 2025)
Beberapa wilayah juga menerapkan regulasi izin terbatas penangkapan sejak 2017, namun praktik ilegal tetap marak akibat minimnya pengawasan. (Mongabay Indonesia, 2024)
Upaya Konservasi & Tantangannya
Upaya yang Telah Dilakukan
BKSDA di sejumlah daerah telah melakukan edukasi, patroli pengawasan, hingga menerima penyerahan kepiting kenari hasil sitaan untuk direhabilitasi. (ANTARA, 2025)
Penangkaran semi-alami mulai dicoba, namun belum dapat menghasilkan populasi berkelanjutan karena spesies ini membutuhkan kondisi habitat yang sangat spesifik. (Mongabay Indonesia, 2024)
Tantangan di Lapangan
Pengawasan yang sulit, keterbatasan sumber daya, dan wilayah sebaran yang luas menjadi kendala utama. Selain itu, siklus hidup kepiting kenari yang panjang membuat pemulihan populasi membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Kepiting kenari kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Tekanan perburuan ilegal serta keterbatasan pengawasan membuat perlindungan terhadap spesies ini semakin sulit. Upaya konservasi yang ada perlu diperkuat melalui kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan peneliti.
Sebagai pembaca, Anda bisa membantu dengan memperluas informasi ini serta mendukung pemberitaan dan edukasi lingkungan lainnya. Jangan lupa mengikuti berita-berita terbaru dan mendalam seputar konservasi hanya di Garap Media.
Referensi
