Perubahan perilaku wisatawan internasional mulai terasa di Bali, terutama dari pasar wisatawan asal China yang selama ini menjadi salah satu penyumbang kunjungan terbesar. Setelah pandemi, pola perjalanan wisatawan dari negara tersebut mengalami perubahan signifikan.
Pelaku industri pariwisata di Bali kini menghadapi tantangan baru. Agen perjalanan yang sebelumnya mengandalkan paket wisata grup mulai merasakan dampak perubahan tren perjalanan wisatawan China.
Perubahan Pola Turis China Bali
Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali menyoroti perubahan pola kunjungan wisatawan China ke Pulau Dewata. Jika sebelum pandemi wisatawan China sering datang dalam rombongan tur besar, kini mereka lebih memilih perjalanan secara mandiri atau free independent traveler (FIT).
Ketua ASITA Bali I Putu Winastra menjelaskan bahwa tren tersebut mulai terlihat setelah pandemi COVID-19. Wisatawan China kini cenderung melakukan perjalanan secara individual atau dalam kelompok keluarga kecil, bukan lagi rombongan besar seperti sebelumnya (detikTravel, 2026).
Selain itu, sebagian besar wisatawan China saat ini didominasi generasi muda yang terbiasa menggunakan teknologi digital. Mereka lebih sering memesan hotel, transportasi, hingga aktivitas wisata melalui aplikasi perjalanan dibandingkan menggunakan agen wisata lokal.
Perubahan tersebut membuat sejumlah agen perjalanan di Bali kehilangan sebagian pasar mereka. Winastra menyebut bahwa sebelum pandemi jumlah kunjungan wisatawan China ke Bali bisa mencapai sekitar 2 juta orang. Namun setelah pandemi jumlahnya turun menjadi sekitar 500 ribu kunjungan, dan hanya sekitar 30% yang ditangani oleh agen perjalanan lokal (detikTravel, 2026).
Strategi Baru Hadapi Turis China Bali
Meski terjadi perubahan pola perjalanan, pelaku industri pariwisata menilai pasar wisatawan China masih memiliki potensi besar. Oleh karena itu, pelaku industri wisata di Bali mulai menyiapkan strategi baru untuk menarik wisatawan yang lebih berkualitas.
Dalam sebuah diskusi industri yang digelar di Bali, pelaku pariwisata menilai bahwa pasar wisatawan China masih belum tergarap secara optimal. Hal ini menunjukkan masih terbukanya peluang besar untuk mengembangkan pasar tersebut (SWA.co.id, 2026).
Ketua Komite Pasar Cina ASITA Bali, Eri Tjendana, menyebut bahwa karakter wisatawan China kini mulai bergeser dari wisata massal menuju wisatawan yang mencari pengalaman lebih personal. Segmen ini cenderung tertarik pada wisata budaya, pengalaman lokal, serta perjalanan yang lebih eksklusif.
Karena itu, pelaku industri mendorong pengembangan produk wisata yang lebih berkualitas. Misalnya melalui wisata budaya, desa wisata, hingga pengalaman perjalanan yang lebih autentik.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata juga dinilai penting. Pelaku industri bahkan mendorong peningkatan jumlah pemandu wisata yang memiliki kemampuan bahasa Mandarin agar dapat melayani wisatawan China dengan lebih baik (SWA.co.id, 2026).
Dampak bagi Industri Travel Lokal
Perubahan tren turis China Bali membuat pelaku industri perjalanan harus melakukan adaptasi. Agen travel tidak lagi bisa mengandalkan paket wisata massal seperti sebelumnya.
Sebagai gantinya, banyak agen perjalanan mulai menawarkan paket wisata yang lebih fleksibel dan berbasis pengalaman. Strategi ini diharapkan dapat menarik wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan yang lebih personal.
Selain itu, kolaborasi dengan platform digital juga menjadi langkah penting. Banyak wisatawan China kini merencanakan perjalanan mereka melalui aplikasi perjalanan dan media sosial.
Karena itu, pelaku industri wisata di Bali mulai menyesuaikan strategi pemasaran mereka dengan memanfaatkan promosi digital dan kerja sama dengan platform perjalanan internasional.
Perubahan pola perjalanan wisatawan China menjadi tantangan baru bagi industri pariwisata Bali. Namun di sisi lain, perubahan ini juga membuka peluang untuk mengembangkan pariwisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Bagi pembaca yang ingin mengikuti perkembangan terbaru seputar ekonomi, pariwisata, dan tren global lainnya, jangan lewatkan berbagai berita menarik lainnya hanya di Garap Media.
Referensi
