Dalam kehidupan masyarakat Aceh, setiap langkah besar selalu diiringi dengan doa. Salah satu bentuk doa yang diwariskan turun-temurun adalah peusijuek, sebuah tradisi yang lembut, namun penuh makna.
Dengan butiran beras, percikan air, dan daun yang harum, masyarakat Aceh memanjatkan harapan kepada Allah agar kehidupan seseorang senantiasa diberkahi, dijauhkan dari bala, dan dipenuhi ketenangan.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba instan, tradisi peusijuek menjadi pengingat bahwa keberkahan hidup tidak datang dari ambisi semata, tetapi dari doa dan restu yang tulus. Ia mengajarkan pentingnya keseimbangan antara usaha dan pasrah, antara adat dan spiritualitas.
Baca juga: https://www.zawiyahnews.com/2021/04/tradisi-peusijuek-sebagai-kearifan.html
Makna dan Simbol dalam Tradisi Peusijuek
Setiap unsur dalam peusijuek mengandung makna yang dalam. Air perasan daun pandan dan daun serai wangi melambangkan kesejukan dan kesucian.
Beras yang ditaburkan mengandung simbol rezeki, sementara doa yang diucapkan oleh teungku atau orang tua menjadi permohonan agar kehidupan yang baru dimulai senantiasa mendapat rahmat Allah.
Biasanya, peusijuek dilakukan saat seseorang akan menikah, berangkat haji, pindah rumah, membuka usaha, atau bahkan setelah mengalami peristiwa penting seperti sembuh dari sakit atau pulang dari perjalanan jauh.
Dalam setiap percikan air dan taburan beras itu, ada kasih, penghormatan, dan ikatan sosial yang terjalin kuat antarwarga.
Peusijuek dan Nilai Pendidikan Karakter
Tradisi peusijuek bukan hanya ritual adat, tetapi juga bentuk pendidikan karakter yang hidup di masyarakat.
Ia mengajarkan nilai-nilai luhur seperti menghormati orang tua, menjaga hubungan sosial, bersyukur, dan memohon perlindungan kepada Tuhan sebelum memulai sesuatu.
Dalam konteks pendidikan masa kini, tradisi ini bisa dijadikan media pembelajaran tentang kearifan lokal dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam, P5, atau IPS.
Melalui peusijuek, peserta didik belajar bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan wadah nilai moral yang masih relevan sepanjang zaman.
Hikmah dan Relevansi Peusijuek di Zaman Modern
Di era digital, mungkin sebagian orang mulai melupakan makna peusijuek. Banyak yang menganggapnya sekadar tradisi simbolik tanpa memahami nilai spiritual di baliknya.
Padahal, di tengah kehidupan modern yang kerap dingin dan individualistis, tradisi ini mengajarkan kehangatan sosial dan penghormatan pada sesama.
Masyarakat Aceh perlu terus merawat tradisi ini, bukan hanya sebagai seremoni, tapi sebagai bentuk nyata dari cinta kasih dan doa bersama. Ketika peusijuek dilakukan dengan hati yang ikhlas, ia menjadi jembatan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Baca juga: https://garapmedia.com/ketika-akar-tak-pernah-terlihat-tapi-menopang-segalanya/
Penutup
Tradisi peusijuek adalah warisan doa yang menetes lembut dalam kehidupan masyarakat Aceh. Ia bukan hanya simbol adat, melainkan refleksi keindahan batin dan spiritualitas yang hidup di tengah masyarakat.
Setiap percikan air, setiap butir beras, adalah tanda bahwa keberkahan tidak pernah jauh dari mereka yang saling mendoakan.
Mari kita jaga tradisi ini sebagai warisan nilai, bukan hanya upacara. Sebab di balik kesederhanaannya, tersimpan kebijaksanaan yang membentuk karakter dan memperkuat jati diri bangsa.
