Dalam budaya Aceh, tamu memiliki tempat yang sangat istimewa. Ungkapan “peumulia jamee adat geutanyoe” yang berarti “memuliakan tamu adalah adat kita,” bukan sekadar pepatah turun-temurun, tetapi cerminan nilai hidup masyarakat Aceh. Tradisi ini telah menjadi bagian dari identitas kultural yang diwariskan sejak masa kerajaan hingga masa kini.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus modernisasi, peumulia jamee tetap hidup di hati masyarakat Aceh. Falsafah ini mengajarkan pentingnya adab, keramahan, serta keikhlasan dalam menyambut tamu. Nilai ini sejalan dengan ajaran Islam yang memuliakan tamu sebagai bentuk ibadah dan kebaikan sosial.
Makna Filosofis dari Peumulia Jamee
Peumulia jamee bukan sekadar tindakan sopan santun, tetapi wujud nyata dari keimanan dan penghormatan terhadap sesama manusia. Dalam adat Aceh, seorang tamu dianggap membawa berkah. Oleh karena itu, kedatangan tamu selalu disambut dengan senyum, hidangan terbaik, dan tempat duduk yang terhormat di serambi rumah.
Ungkapan ini juga mengandung makna spiritual yang mendalam. Islam mengajarkan bahwa memuliakan tamu adalah bagian dari iman kepada Allah dan hari akhir. Nilai inilah yang diinternalisasikan masyarakat Aceh dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan adat dan agama bersatu dalam harmoni.
Simbol dan Bentuk Pelaksanaan Adat
Dalam praktiknya, peumulia jamee diwujudkan dalam berbagai bentuk. Saat tamu datang ke rumah, tuan rumah akan segera menyuguhkan air putih atau kopi hitam Aceh sebagai tanda sambutan. Tidak hanya itu, masyarakat di pedesaan sering menyiapkan hidangan khas seperti kuah beulangong, kari kambing, atau boh rom-rom sebagai bentuk penghormatan.
Tradisi ini juga terlihat dalam acara adat seperti kenduri, pernikahan, dan hari besar Islam. Masyarakat berlomba-lomba menyajikan yang terbaik, bukan untuk pamer, tetapi sebagai bentuk rasa syukur dan penghargaan. Semua ini menunjukkan bahwa nilai peumulia jamee tidak hanya hidup di lisan, tetapi mengakar kuat dalam perilaku sosial masyarakat Aceh.
Baca juga: https://garapmedia.com/keujreun-blang-aceh-penjaga-tradisi-dan-pemersatu-petani/
Relevansi Peumulia Jamee di Era Modern
Meskipun zaman telah berubah, nilai peumulia jamee tetap relevan di era digital. Dalam konteks kehidupan modern, memuliakan tamu dapat diterjemahkan sebagai sikap menghargai orang lain baik secara langsung maupun dalam ruang digital. Keramahan dalam berinteraksi di media sosial, misalnya, menjadi bentuk baru dari tradisi lama ini.
Lebih dari itu, tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga martabat dan kesantunan. Saat dunia semakin individualistik, peumulia jamee menjadi pengingat bahwa kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya menghormati sesama.
Penutup
Peumulia jamee bukan hanya warisan budaya, tetapi juga pesan moral yang relevan sepanjang zaman. Di tengah derasnya arus globalisasi, masyarakat Aceh perlu terus menjaga dan melestarikan nilai ini sebagai identitas kearifan lokal yang memperkaya kehidupan sosial.
Mari terus membaca berita dan kisah budaya lainnya di [GARAP MEDIA], untuk menumbuhkan kecintaan terhadap adat dan warisan leluhur. Karena memahami budaya berarti memahami jati diri bangsa.
