Petai Raksasa Kalimantan, Tanaman Langka Mirip Petai yang Ternyata Tak Bisa Dimakan
Fenomena petai raksasa kembali viral setelah video dari akun Instagram @borneo_forester memperlihatkan seseorang memegang polong raksasa menyerupai petai di hutan Kalimantan. Tanaman tersebut dikenal sebagai Entada phaseoloides atau Entada rheedii, sejenis tanaman merambat dari famili Fabaceae yang tumbuh di hutan tropis. (Mongabay Indonesia, 2020)
Sebelumnya, temuan serupa juga terjadi di Banjarnegara, Jawa Tengah. Seorang warga menemukan tanaman dengan buah mirip petai, namun ukurannya bisa mencapai lebih dari satu meter. Setelah ditelusuri oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, tanaman itu dipastikan bukan petai konsumsi melainkan liana langka yang hidup di kawasan hutan lindung. (Kompas, 2020)
Fakta Ilmiah Petai Raksasa
Jenis dan Ciri-Ciri
Menurut Mongabay Indonesia, tanaman ini merupakan liana besar yang bisa merambat hingga puluhan meter. Buahnya berupa polong panjang, tebal, dan keras, dengan biji berukuran sekitar 5–6 sentimeter. Kulitnya tidak mudah dibuka dan isinya berwarna putih keabu-abuan.
Berbeda dengan petai konsumsi (Parkia speciosa), Entada tidak memiliki aroma khas dan tidak dapat langsung dimakan. Rasanya pahit dan getir, bahkan berpotensi beracun jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Karena itu, masyarakat lokal disarankan untuk tidak mengonsumsinya. (Kompas, 2020)
Habitat dan Persebaran
Entada phaseoloides tumbuh alami di wilayah tropis seperti Asia Tenggara, Afrika, dan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini ditemukan di daerah berhutan lebat seperti Kalimantan Barat dan Jawa Tengah. Di Banjarnegara, tanaman ini tumbuh di kawasan Cagar Alam Pringamba II dan dilindungi oleh BKSDA Jawa Tengah. (Detik, 2020)
Manfaat dan Risiko Petai Raksasa
Potensi Obat Tradisional
Menurut laporan Mongabay Indonesia, biji Entada telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di beberapa negara Asia dan Afrika. Ekstraknya dipercaya memiliki khasiat sebagai antimikroba dan antiinflamasi, meskipun bukti ilmiah di Indonesia masih terbatas.
Namun, penggunaan tanaman ini tetap harus berhati-hati karena kandungan alami pada bijinya bisa menyebabkan iritasi atau reaksi toksik jika dikonsumsi mentah. Pihak konservasi pun menekankan pentingnya edukasi masyarakat agar tidak sembarangan memetik atau mengonsumsi tanaman liar.
Risiko dan Perlindungan
Karena bentuknya menarik dan viral di media sosial, banyak warga yang penasaran dan mencoba mencari tanaman serupa. Padahal, menurut Kompas, tanaman ini termasuk spesies langka dan tumbuh di kawasan konservasi yang dilindungi. Penebangan atau pengambilan tanpa izin dapat merusak ekosistem hutan.
Pelestarian dan Edukasi Masyarakat
BKSDA Jawa Tengah telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar tidak mengonsumsi atau merusak tanaman ini. Selain karena bukan bahan pangan, Entada juga memiliki fungsi ekologis penting bagi peneduh dan penahan erosi di hutan tropis. (Detik, 2020)
Edukasi seperti ini sangat penting agar masyarakat memahami peran setiap spesies dalam menjaga keseimbangan alam. Dengan pendekatan konservasi dan pelibatan masyarakat lokal, keberadaan tanaman unik seperti petai raksasa bisa dijaga kelestariannya tanpa menimbulkan salah kaprah.
Penemuan petai raksasa di Kalimantan dan Banjarnegara membuktikan bahwa hutan Indonesia masih menyimpan banyak misteri alam yang belum sepenuhnya dikenal. Meski bentuknya mirip petai yang sering kita makan, kenyataannya tanaman ini berbeda jauh dan tidak untuk dikonsumsi.
Mari terus dukung upaya pelestarian alam Indonesia dan ikuti berita menarik lainnya seputar keanekaragaman hayati hanya di Garap Media. Alam Indonesia masih menyimpan sejuta kisah menakjubkan yang menunggu untuk dijaga dan dipelajari lebih dalam.
Referensi
