Tarian Ranup Lampuan muncul sebagai warisan budaya Aceh yang memegang peran penting dalam ritual penyambutan tamu. Nama “Ranup Lampuan” sendiri berasal dari kata Aceh ranup yang berarti “sirih” dan puan yang berarti “wadah”, sehingga secara harfiah tarian ini adalah persembahan sirih dalam wadah sebagai bentuk penghormatan (Wikipedia, 2025).
Dalam praktiknya, tarian ini ditampilkan oleh kelompok penari wanita Aceh yang membawakan sirih dan properti tradisional lainnya, diiringi musik khas seperti serune kale dan rapa’i. Gerakan lembut, penuh makna dan simbol, menggambarkan etika, keramahan, dan keindahan budaya Aceh secara estetis dan spiritual (BudayaAceh.com, 2025).
Makna & Filosofi Tari Ranup Lampuan
Penyambutan Tamu dan Nilai Adat
Tariab Ranup Lampuan berfungsi sebagai tarian penyambutan tamu kehormatan—dalam bahasa Aceh disebut Peumulia Jamee. Gerakan memetik sirih, membungkus, mengapuri hingga menyuguhkan kepada tamu, semuanya mengandung simbol kehormatan dan kesopanan (BudayaAceh.com, 2025).
Nilai Spiritual dan Sosial
Lebih dari sekadar kesenian, tarian ini mencerminkan nilai religius, etika sosial, dan estetika masyarakat Aceh. Dalam bukunya, Agustina (2018) menjelaskan bahwa Ranup Lampuan menjadi media pelestarian adat sekaligus penguatan identitas budaya Aceh di tengah arus modernisasi.
Aspek Teknis dan Estetika Tarian
Musik dan Iringan
Awalnya tarian ini diiringi oleh orkestra atau band, namun sejak 1972 diganti menjadi alat musik tradisional Aceh seperti serune kale, rapa’i, dan gendang untuk memperkuat nuansa tradisional (Wikipedia, 2025).
Kostum, Properti dan Gerakan
Penari memakai busana adat Aceh lengkap dengan kerudung dan selendang berhiaskan bunga. Properti utama adalah puan—wadah sirih—yang dibawa dan dipersembahkan dalam pertunjukan. Gerakan khas seperti menyapukan kapur, memberi gambir dan pinang, hingga menyerahkan sirih kepada tamu melambangkan penghormatan mendalam (BudayaAceh.com, 2025).
Baca juga: Doa Sebelum dan Setelah Mengaji Agar Ibadah Lebih Bermakna
Pentingnya Pelestarian Tari Ranup Lampuan
Tarian Ranup Lampuan bukan hanya sebatas hiburan budaya tetapi juga warisan tak benda yang berpotensi hilang jika tidak dilestarikan. Menurut regulasi Warisan Budaya Takbenda (WBTb) di Aceh, tarian ini telah tercatat sebagai bagian identitas budaya yang perlu dilindungi (BudayaAceh.com, 2025).
Dengan melibatkan generasi muda — melatih penari, memperkenalkan secara digital, dan menampilkan dalam acara nasional/internasional — maka nilai seni dan filosofi tradisional ini akan terus hidup dan dikenang.
Penutup
Tarian Ranup Lampuan mengajak kita memahami bahwa budaya lokal Aceh bukan hanya untuk dipamerkan, tetapi untuk dihargai dan diwariskan dengan pemahaman makna yang dalam. Dari sirih yang disuguhkan hingga gerakan lembut para penari, tersimpan kisah kebersamaan, penghormatan, dan identitas.
Mari kita dukung pelestarian seni budaya seperti Ranup Lampuan dengan menontonnya, mempelajarinya, dan menyebarkan kisahnya. Untuk berita dan insight budaya lokal lainnya, terus kunjungi Garap Media dan jadilah bagian dari pewaris cerita nusantara.
Referensi
- BudayaAceh.com. (2025). Tari Ranup Lampuan. Diakses dari https://www.budayaaceh.com/wbtb/tari-ranup-lampuan/25
- Wikipedia. (2025). Tari Ranup Lampuan. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Ranup_lam_Puan
- Agustina, R. (2018). Makna Tari Ranup Lampuan (Dengan Pemberian Sirih) [Tesis]. ISI Yogyakarta.
