Perang Iran Picu Krisis Bahan Bakar, Pakistan Tutup Sekolah dan Terapkan Penghematan

Last Updated: 10 March 2026, 13:21

Bagikan:

perang iran
Foto: Liputan6
Table of Contents

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Senin (9/3/2026) mengumumkan penutupan seluruh sekolah hingga akhir bulan, penerapan kerja jarak jauh bagi setengah tenaga kerja, serta perkuliahan daring di perguruan tinggi. Kebijakan ini diambil saat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki pekan kedua. Iran juga melancarkan serangan balasan terhadap aset AS di kawasan Teluk yang memproduksi sekitar seperempat pasokan minyak dunia dan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz.

“Serangan-serangan ini telah menimbulkan ancaman besar bagi seluruh kawasan,” kata Sharif dalam pidato yang disiarkan melalui televisi nasional seperti dikutip dari Middle East Eye.

Pakistan sangat bergantung pada impor energi dari negara-negara Teluk. Empat pemasok bahan bakar terbesar bagi Pakistan adalah Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait. Namun, negara-negara tersebut kini tidak dapat memasok energi secara normal karena sebagian produksi terhenti akibat konflik dengan Iran atau terhambat oleh penutupan Selat Hormuz. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Sementara itu, Qatar dan Uni Emirat Arab bersama-sama menyumbang sekitar 99 persen impor gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) Pakistan.

Sebagai bagian dari langkah penghematan, Sharif mengatakan 50 persen pegawai di sektor publik dan swasta akan bekerja dari rumah. Kebijakan ini tidak berlaku bagi sektor layanan penting seperti pertanian dan perbankan. Pemerintah juga akan memangkas pengeluaran negara sebesar 20 persen, sementara pembelian barang besar seperti furnitur dan pendingin ruangan dilarang.

Pejabat pemerintah yang berpenghasilan lebih dari 300.000 rupee Pakistan per bulan akan dipotong gajinya setara dua hari kerja. Penggunaan kendaraan dinas pemerintah juga akan dikurangi hingga 60 persen selama dua bulan ke depan, sementara tunjangan bahan bakar untuk kendaraan tersebut dipotong setengahnya. Kabinet federal tidak akan menerima gaji selama dua bulan ke depan, sementara para anggota parlemen akan mengalami pemotongan gaji sebesar 25 persen. Seluruh anggota parlemen juga dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri selama periode ini. Selain itu, acara berbuka puasa resmi pemerintah selama Ramadan serta berbagai jamuan makan dan pesta resmi lainnya juga dilarang.

Guncangan Pasar Global

Tidak hanya Pakistan yang merasakan dampak guncangan pasar energi global. Negara tersebut juga menjadi salah satu yang pertama menerapkan langkah penghematan sebagai respons. Pasar komoditas global mengalami gejolak ketika kembali dibuka pada Senin, menyusul eskalasi perang dengan Iran selama akhir pekan.

Israel dilaporkan menyerang lebih dari 30 depot minyak di Iran pada Sabtu (7/3), termasuk yang berada di Teheran dan Karaj. Menurut laporan Axios, serangan terhadap depot-depot minyak tersebut jauh melampaui perkiraan AS ketika Israel sebelumnya memberi pemberitahuan mengenai rencana operasi itu.

Iran kemudian mengancam akan menyerang fasilitas minyak di negara-negara tetangga sebagai balasan. Pada Minggu (8/3), Iran melancarkan gelombang serangan baru di kawasan Teluk, dengan laporan serangan di Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.

Harga minyak dunia langsung melonjak ke tingkat tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, sebelum kemudian sedikit menurun. Harga minyak Brent sempat mencapai 119 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik hingga 119,48 dolar AS per barel.

Pakistan sebelumnya sudah menghadapi tekanan ekonomi seperti inflasi tinggi, utang yang meningkat, dan cadangan devisa yang rendah. Negara itu juga menghadapi situasi keamanan yang tidak stabil. Sebelum perang dengan Iran pecah, Pakistan melakukan serangan udara di sepanjang perbatasan Afghanistan. Pemerintah menuduh adanya kelompok milisi yang dilindungi Taliban dan berencana menyerang wilayah Pakistan.

Sharif sendiri mengutuk serangan AS dan Israel terhadap Iran, sekaligus mengecam serangan balasan Iran di kawasan Teluk. Ia menawarkan diri sebagai mediator untuk membantu menghentikan konflik yang terus meningkat.

“Kami mencoba mengambil jalan tengah agar beban yang Anda tanggung lebih ringan,” kata Sharif kepada rakyat Pakistan dalam pidatonya pada Senin. “Untuk itu, upaya dilakukan siang dan malam.”

Penutup

Perkembangan Perang Iran menunjukkan bagaimana konflik geopolitik di Timur Tengah dapat memberikan dampak besar terhadap stabilitas energi global. Pakistan menjadi salah satu negara yang merasakan langsung dampaknya karena ketergantungannya pada impor energi dari kawasan Teluk.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar politik internasional, ekonomi global, konflik dunia, krisis energi, kebijakan pemerintah, dan isu geopolitik hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /