Perang Dingin Memanas: Thailand-Kamboja Saling Serang Lagi!
Ketegangan antara Thailand dan Kamboja yang sempat mereda kini kembali memanas. Dua negara tetangga di Asia Tenggara ini kembali terlibat dalam konflik bersenjata di wilayah perbatasan yang telah lama disengketakan. Dalam beberapa hari terakhir, laporan mengenai tembakan artileri, patroli militer yang saling berhadapan, hingga jatuhnya korban mulai menyeruak ke publik internasional. Konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas kawasan ASEAN, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya trauma sejarah berdarah di kawasan itu.
Latar Belakang Konflik Thailand-Kamboja
Sengketa Lama yang Tak Pernah Usai
Akar konflik antara Thailand dan Kamboja sudah ada sejak lama, terutama terkait dengan kepemilikan wilayah kuil Preah Vihear—situs warisan budaya dunia UNESCO yang terletak di perbatasan kedua negara. Meski Mahkamah Internasional (ICJ) telah memutuskan pada tahun 1962 bahwa kuil tersebut merupakan milik Kamboja, Thailand tetap mengklaim sebagian area di sekitarnya.
Konflik Pernah Mereda, Tapi Tidak Selesai
Pada awal 2010-an, kedua negara sempat terlibat bentrokan senjata hingga menewaskan tentara dan warga sipil. Namun seiring waktu, situasi mereda berkat mediasi ASEAN dan kesepakatan diplomatik. Sayangnya, perdamaian itu hanya bersifat sementara. Perselisihan kembali muncul ketika aktivitas militer mulai meningkat di wilayah sengketa.
Serangan Terbaru dan Eskalasi di Perbatasan
Pertempuran Besar Senjata Berat
Pada 24–25 Juli 2025, gempuran artileri, peluncuran roket dari pihak Kamboja, dan serangan udara Thailand menggunakan F‑16 menjadikan konflik ini paling mematikan selama lebih dari satu dekade.
Thailand melaporkan setidaknya 14 warga sipil tewas dan satu tentara, sementara Kamboja mengonfirmasi 1 warga sipil meninggal dan beberapa terluka. Pertempuran menyebar di minimal 12 titik perbatasan, termasuk Surin, Si Sa Ket, Ubon Ratchathani, dan Buri Ram.
Dampak Kemanusiaan
Lebih dari 100.000 warga Thailand dan sekitar 12.000 keluarga di Kamboja mengungsi dari zona konflik untuk berlindung sementara di pos pengungsian.
Pernyataan Pemerintah
Thailand menyatakan bahwa serangan dimulai oleh Kamboja dan menuding penggunaan munisi kluster serta serangan ke wilayah sipil sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Kamboja membalas bahwa serangan Thailand merupakan provokasi tanpa alasan dan menuntut diskusi hukum di Mahkamah Internasional serta sesi darurat di Dewan Keamanan PBB.
Politik Dalam Negeri
Pemerintah Thailand menghadapi krisis politik parah. PM Paetongtarn Shinawatra diskors setelah rekaman teleponnya dengan Hun Sen tersebar, memicu protes nasionalitas dan penurunan dukungan koalisi. Pejabat sementara Phumtham Wechayachai menyatakan situasi adalah bentrokan, bukan perang total, dan membuka pintu dialog bilateral jika Kamboja menghentikan operasi militer terlebih dahulu.
Respon Internasional dan ASEAN
Kecemasan Negara Tetangga
Beberapa negara anggota ASEAN menyuarakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya konflik ini. Indonesia dan Malaysia secara resmi meminta kedua pihak menahan diri dan kembali ke meja diplomasi. Sekjen ASEAN bahkan mengusulkan pertemuan darurat untuk meredakan konflik sebelum meluas ke wilayah regional.
Peran PBB dan Mediasi Global
PBB juga tidak tinggal diam. Sekretaris Jenderal PBB, dalam pernyataannya, meminta Thailand dan Kamboja menghormati hukum internasional dan menghindari kekerasan. Beberapa diplomat mendesak agar Mahkamah Internasional kembali dilibatkan untuk menyelesaikan sengketa batas wilayah ini secara hukum dan damai.
Apa yang Bisa Terjadi Selanjutnya?
Situasi ini masih sangat dinamis dan berpotensi semakin memburuk. Jika tidak segera ditangani, konflik dapat berubah menjadi perang terbuka yang bukan hanya merugikan kedua negara, tetapi juga mengguncang stabilitas Asia Tenggara. Kemungkinan eskalasi juga bisa memicu campur tangan militer asing jika ada kepentingan strategis yang terganggu.
Para analis memperkirakan bahwa masa depan konflik sangat tergantung pada sikap pemimpin kedua negara. Jika salah satu pihak memutuskan untuk mundur demi de-eskalasi, peluang damai masih terbuka. Namun jika ego nasionalisme terus dikedepankan, rakyatlah yang akan menjadi korban utama.
Konflik antara Thailand dan Kamboja adalah pengingat bahwa sejarah yang belum terselesaikan bisa meletus kapan saja. Diperlukan kebijaksanaan, dialog, dan keberanian politik untuk memilih jalur damai ketimbang senjata. Mari kita terus ikuti perkembangan konflik ini hanya di Garap Media, sumber terpercaya berita internasional yang tajam dan berimbang.
Referensi:
