People Pleaser: Berbuat Baik Tapi Dimanfaatkan

Last Updated: 26 December 2025, 18:44

Bagikan:

people pleaser
Foto: UNSPLASH / Helena Lopes
Table of Contents

People Pleaser – Berbuat baik adalah nilai yang dijunjung tinggi dalam kehidupan sosial. Namun, ketika kebaikan dilakukan tanpa batas, niat mulia tersebut justru bisa berbalik arah dan merugikan diri sendiri. Inilah yang kerap dialami oleh people pleaser—orang-orang yang terbiasa menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan kepentingan pribadi.

Fenomena people pleaser bukan sekadar soal sikap ramah atau empati berlebih. Dalam banyak kasus, pola ini membuat seseorang terus diminta, dimanfaatkan, dan perlahan kehilangan batas diri. Berdasarkan pengalaman beberapa responden, artikel ini merangkum bagaimana kebaikan bisa berubah menjadi jebakan jika tidak ditempatkan pada konteks yang tepat.

Memahami People Pleaser dan Polanya

People pleaser umumnya memiliki dorongan kuat untuk membantu dan menghindari konflik. Mereka merasa tidak enak menolak, takut dianggap egois, atau khawatir merusak hubungan. Sayangnya, sikap ini sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak memiliki etika timbal balik.

Dalam praktiknya, people pleaser sering kali menjadi “andalan” untuk berbagai urusan, mulai dari pekerjaan teknis hingga tanggung jawab yang seharusnya bisa dilakukan sendiri oleh pihak lain.

People Pleaser di Lingkungan Kerja

Salah satu responden—sebut saja Mawar—mengalami hal ini di lingkungan kerja. Sebagai pegawai termuda, ia kerap dimintai bantuan mengisi sistem e-kinerja oleh rekan kerja yang beralasan tidak paham teknologi.

Pada awalnya, permintaan tersebut terasa wajar dan disertai ucapan terima kasih. Namun, setelah tugas pertama selesai, permintaan serupa datang kembali, bahkan untuk kedua dan ketiga kalinya. Di titik inilah Mawar mulai menyadari bahwa dirinya tidak lagi sekadar dimintai tolong, melainkan dimanfaatkan.

Meski tetap membantu pada kesempatan kedua, Mawar mulai memberi jarak pada permintaan selanjutnya. Ia memilih menolak secara halus atau mengalihkan dengan alasan kesibukan. Dari pengalaman ini, M menyimpulkan bahwa membantu orang lain perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang. Pepatah “dikasih hati minta jantung” terasa relevan ketika kebaikan tidak diimbangi etika.

Saat Batasan Ditegaskan

Responden lain—sebut saja Kenanga—menghadapi situasi serupa dengan dinamika yang berbeda. Dalam beberapa kondisi, ia tetap membantu karena permintaan datang dari seseorang dengan jabatan lebih tinggi. Posisi tersebut membuat Kenanga memilih bersikap realistis dan menjaga profesionalitas, meski di dalam hati ia menyadari adanya pola ketergantungan.

Alih-alih memendam emosi atau melawan secara frontal, Kenanga memilih untuk tetap berpikir positif. Ia tidak ingin menghabiskan energi mental untuk rasa kesal yang berkepanjangan. Cara sederhana yang ia lakukan untuk meredakan tekanan adalah mengalihkan energi ke hal-hal ringan, seperti jajan atau aktivitas kecil yang membuat suasana hati kembali stabil.

Dari pengalaman itu, Kenanga belajar bahwa tidak semua situasi bisa dihadapi dengan penolakan langsung. Ada kalanya kebaikan diberikan sebagai bagian dari strategi bertahan, sambil tetap mencatat pelajaran penting: memahami batas, membaca situasi, dan menyiapkan diri agar tidak terus berada di posisi yang sama.

Baca juga: Mengapa Keserakahan Merusak Hidup Anda Secara Perlahan?

Berbuat Baik, Tapi Tetap Punya Batas

Responden ketiga—sebut saja Teratai—memiliki sudut pandang yang lebih reflektif. Ia mengaku sering dimintai tolong oleh orang-orang yang awalnya memang tidak memahami suatu hal. Niatnya membantu murni karena empati dan keinginan agar orang lain tidak merasa kesulitan.

Namun, seiring waktu, Teratai menyadari bahwa beberapa orang sebenarnya mampu belajar dan menyelesaikan sendiri, tetapi memilih terus bergantung karena selalu dibantu. Saat itulah ia mulai menetapkan batasan dengan menolak secara argumentatif dan mendorong orang tersebut untuk mandiri.

Bagi T, kebaikan tetap bernilai pahala karena niat awalnya tulus. Meski demikian, pengalaman dimanfaatkan menjadi pelajaran penting bahwa menolong tidak berarti menghilangkan batas diri.

Rekomendasi Membuat Batasan Sehat

Dari pengalaman para responden, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk membangun batasan tanpa kehilangan nilai kebaikan.

Pertama, kenali kapasitas diri sebelum berkata iya. Tidak semua permintaan harus dipenuhi, terlebih jika berpotensi mengganggu tanggung jawab utama. Kedua, biasakan memberi jeda sebelum menjawab permintaan. Jeda ini membantu menilai apakah bantuan tersebut memang perlu atau hanya bentuk ketergantungan.

Ketiga, gunakan bahasa penolakan yang jelas namun sopan. Kalimat seperti “saya tidak bisa membantu kali ini” sudah cukup tanpa perlu alasan berlebihan. Terakhir, pahami bahwa reaksi orang lain bukan indikator nilai diri Anda. Menjaga batas bukan berarti berhenti berbuat baik, melainkan memastikan kebaikan dilakukan di tempat yang tepat.

Penutup

Dari berbagai pengalaman tersebut, satu benang merah dapat ditarik: berbuat baik tetap perlu dilakukan, tetapi di tempat dan kepada orang yang tepat. Mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan semua orang bukanlah solusi, melainkan awal dari kelelahan emosional.

Terus ikuti artikel-artikel reflektif dan isu sosial lainnya di Garap Media untuk mendapatkan perspektif yang lebih sehat dalam membangun hubungan dan menjaga batas diri.

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /