Penyakit AMS atau Acute Mountain Sickness menjadi salah satu risiko kesehatan paling serius dalam aktivitas pendakian gunung. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan berketinggian tinggi yang memiliki kadar oksigen lebih rendah dibandingkan dataran rendah. Di Indonesia, AMS kerap disorot media setelah sejumlah kasus darurat dan kematian pendaki di gunung-gunung tinggi.
AMS umumnya muncul pada ketinggian di atas 2.400 meter di atas permukaan laut. Gejala awalnya sering dianggap ringan dan diabaikan, padahal jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit AMS dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa.
Apa Itu Penyakit AMS?
Pengertian Penyakit AMS
Penyakit AMS adalah gangguan kesehatan akibat penurunan tekanan udara dan kadar oksigen di ketinggian. Tubuh manusia membutuhkan waktu untuk beradaptasi melalui proses aklimatisasi. Ketika proses ini gagal, maka timbul gejala yang dikenal sebagai AMS (MSD Manuals, 2024).
Menurut Cleveland Clinic, AMS merupakan bentuk paling umum dari altitude sickness dan dapat muncul dalam beberapa jam setelah seseorang naik ke dataran tinggi tanpa persiapan yang memadai (Cleveland Clinic, 2023).
Gejala Penyakit AMS yang Perlu Diwaspadai
Gejala Awal Penyakit AMS
Pada tahap awal, penyakit AMS umumnya ditandai dengan sakit kepala, pusing, mual, muntah, kelelahan berlebihan, gangguan tidur, serta menurunnya nafsu makan. Dari berbagai keluhan tersebut, sakit kepala menjadi gejala paling umum dan sering muncul lebih dulu (Kompas.com, 2025).
Tak sedikit pendaki yang menganggap keluhan tersebut sebagai dampak kelelahan fisik semata. Padahal, kondisi ini merupakan sinyal bahwa tubuh kekurangan oksigen dan membutuhkan waktu adaptasi terhadap ketinggian (Detik.com, 2025).
Komplikasi Serius Akibat AMS
Apabila gejala awal tidak ditangani dengan tepat dan pendakian tetap dilanjutkan, AMS berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih berbahaya. Dua komplikasi serius yang dapat terjadi adalah edema paru ketinggian (HAPE) dan edema otak ketinggian (HACE).
Kedua gangguan tersebut dapat memicu sesak napas berat, kebingungan, gangguan koordinasi, hingga berujung pada kematian jika tidak segera ditangani secara medis (MSD Manuals, 2024).
Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit AMS
Penyebab Utama
Penyakit AMS disebabkan oleh naik ke ketinggian tinggi secara terlalu cepat tanpa memberikan waktu bagi tubuh untuk beraklimatisasi. Penurunan kadar oksigen membuat jaringan tubuh, terutama otak, mengalami hipoksia (MedlinePlus, 2023).
Faktor Risiko
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko AMS antara lain pendakian cepat, riwayat AMS sebelumnya, kurang pengalaman di gunung tinggi, serta kebiasaan tinggal di dataran rendah. Kondisi fisik yang prima tidak selalu menjamin seseorang bebas dari AMS (ANTARA News, 2025).
Cara Mencegah Penyakit AMS Saat Mendaki
Strategi Pencegahan Efektif
Pencegahan penyakit AMS dapat dilakukan dengan menaikkan ketinggian secara bertahap, melakukan aklimatisasi, dan tidak memaksakan diri. Disarankan untuk tidak menambah ketinggian lebih dari 300–500 meter per hari di atas 2.400 meter (Cleveland Clinic, 2023).
Tips Praktis bagi Pendaki
Pendaki disarankan untuk cukup minum air, menghindari alkohol dan rokok, serta beristirahat jika muncul gejala awal. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan obat seperti acetazolamide untuk membantu proses aklimatisasi (MSD Manuals, 2024).
Penanganan Jika Gejala AMS Muncul
Jika gejala penyakit AMS mulai terasa, pendaki disarankan untuk segera berhenti naik dan beristirahat di ketinggian tersebut. Apabila kondisi tidak membaik, langkah paling aman adalah turun ke ketinggian yang lebih rendah (Detik.com, 2025).
Pada gejala berat seperti sesak napas atau gangguan kesadaran, evakuasi medis harus segera dilakukan. Penanganan dapat meliputi terapi oksigen dan perawatan medis lanjutan di fasilitas kesehatan.
Penyakit AMS bukan sekadar gangguan ringan, melainkan ancaman serius dalam aktivitas pendakian gunung. Pemahaman yang baik tentang gejala, penyebab, dan pencegahan menjadi kunci keselamatan bagi setiap pendaki.
Untuk informasi kesehatan, keselamatan pendakian, dan berita terkini lainnya, pembaca dapat terus mengikuti artikel-artikel informatif di Garap Media.
Referensi
