Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani tak khawatir dengan ketakutan banjir produk impor Amerika Serikat (AS) ke Indonesia. Menurut dia, produk lokal masih tetap akan bersaing. Setelah kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART), kata Shinta, akan ada penyesuaian beberapa produk yang berhadapan langsung dengan barang asal AS di pasar domestik.
“Adapun untuk sektor yang lebih berorientasi pada pasar domestik dan berhadapan langsung dengan produk AS, dinamika kompetisinya tentu akan mengalami penyesuaian. Namun demikian, tidak semua produk AS berpotensi menjadi tekanan,” ujarnya.
Dampak Kesepakatan ART terhadap Produk Lokal
Produk Lokal Tetap Kompetitif
Shinta menjelaskan bahwa ada juga impor yang membantu perkembangan industri Tanah Air. Misalnya untuk impor kapas, kedelai, dan gandum, yang justru berfungsi menopang industri nasional.
“Dalam konteks ini, pembebasan tarif justru dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi domestik,” tegas Shinta.
Shinta berharap momentum ini dimanfaatkan sebagai agenda debottlenecking yang terstruktur dan holistik, baik oleh pemerintah selaku regulator maupun pelaku usaha sendiri.
“Dunia usaha masih terhambat oleh kondisi biaya berusaha yang masih tinggi, perizinan yang kompleks, ketidakpastian regulasi, hambatan penyediaan bahan baku, serta tantangan lainnya. Tanpa pembenahan faktor domestik tersebut, ruang yang terbuka dari sisi eksternal berisiko tidak termanfaatkan secara optimal,” tandasnya.
Gandum dan Kedelai Bebas Bea Masuk RI
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan ada produk pertanian AS yang akan dibebaskan bea masuk ke Indonesia, utamanya gandum dan kacang kedelai. Hal tersebut tertuang dalam perjanjian kesepakatan tarif resiprokal AS atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto.
“Indonesia juga komitmen untuk memberikan fasilitas untuk produk Amerika dengan tarif 0 persen, karena utamanya Indonesia mengimpor produk pertanian, wheat, kemudian juga soya bean,” kata Airlangga dalam konferensi daring.
Bahan Baku Industri Mendukung Produk Lokal
Airlangga menjelaskan, gandum menjadi bahan baku untuk tepung atau mi, sedangkan kedelai menjadi bahan baku utama untuk tahu dan tempe.
“Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” ucapnya.
Ia menambahkan, pemerintah Indonesia akan memberikan kemudahan perizinan impor dan standardisasi barang.
“Indonesia juga komitmen untuk mengurangi hambatan tarif dan non-tarif, dan juga memberikan kepastian terutama di sektor ICT, kesehatan, dan farmasi,” jelas Airlangga.
Minyak Sawit RI dan Produk Indonesia Bebas Tarif Masuk AS
Beberapa komoditas pertanian hingga produk manufaktur asal Indonesia tak akan dikenakan tarif bea masuk ke AS. Ada minyak kelapa sawit, kakao, hingga tekstil dan garmen RI yang dibebaskan dari tarif resiprokal AS.
Airlangga menyampaikan bahwa total ada 1.819 pos tarif yang diatur dalam ART.
“Minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang, yang tarifnya adalah 0 persen,” ungkap Airlangga dalam konferensi pers daring.
Penutup
Pengusaha yakin arus impor barang AS tidak akan mengganggu produk lokal karena efisiensi, bahan baku strategis, dan dukungan regulasi membuat industri tetap kompetitif. Kesempatan ini juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat daya saing dan inovasi.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar perdagangan, industri, ekonomi, tarif, impor, ekspor, manufaktur, pertanian, dan teknologi hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Pengusaha Yakin Impor Barang AS Tak Ganggu Produk Lokal. Retrieved from https://www.liputan6.com/bisnis/read/6283445/pengusaha-yakin-impor-barang-as-tak-ganggu-produk-lokal
