Garap Media – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat meningkat drastis, namun kabar terbaru dari Menteri Pertahanan Indonesia, Prabowo Subianto, memunculkan sinyal harapan: pengiriman pasukan Board of Peace Trump ditunda. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global soal eskalasi konflik yang bisa memicu krisis energi dan harga BBM di Asia Tenggara.
Di Jakarta, warga dan sopir transportasi umum merasakan kecemasan yang sama. Sopir ojek online, Ana, mengatakan, “Kami mengikuti berita setiap hari. Harga minyak naik, dan ancaman perang membuat segalanya tidak pasti.” Konflik Iran–AS kini bukan sekadar headline, tapi ancaman nyata terhadap kehidupan sehari-hari di berbagai negara.
Prabowo: Perang Iran–AS Tidak Rasional
Dalam konferensi pers, Prabowo menekankan, “Pengiriman pasukan internasional yang direncanakan oleh pemerintahan Trump ditunda. Perang Iran–AS dalam situasi sekarang tidak rasional dan berisiko besar bagi stabilitas global.” Pernyataan ini menyoroti ketidakpastian diplomasi internasional dan kemungkinan gangguan rantai pasok energi.
Ketergantungan Asia Tenggara pada minyak dan gas impor dari Timur Tengah membuat kawasan ini rapuh. Menurut International Energy Agency (IEA), lebih dari 60–90 persen kebutuhan minyak ASEAN berasal dari Teluk Persia. Gangguan pasokan akibat perang akan langsung memengaruhi harga BBM, inflasi, dan transportasi. (IEA, 2024)
Dampak Nyata di Lapangan
Di Manila, Filipina, antrean panjang terlihat di pom bensin sejak pagi. Sopir jeepney, Carlos, mengeluhkan kenaikan harga BBM 15–20 persen dalam beberapa minggu terakhir. “Pendapatan tetap sama, tapi biaya bensin naik drastis. Kami harus menyesuaikan tarif penumpang,” ujarnya.
Di Hanoi, Vietnam, pemilik toko kelontong mencatat kenaikan biaya logistik dan harga barang kebutuhan pokok. Pemerintah Thailand juga mulai mempertimbangkan intervensi pasar dan pengurangan konsumsi energi untuk menahan lonjakan harga. Semua ini menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung ke Asia Tenggara.
Mengapa Board of Peace Trump Ditunda?
Penundaan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menahan eskalasi. Dengan pasukan yang belum dikerahkan, diplomasi memiliki ruang lebih luas untuk menekan Iran agar konflik tidak meluas. Namun, risiko gangguan pasokan minyak tetap tinggi. Para pakar menekankan pentingnya diversifikasi energi ASEAN dan cadangan strategis untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik.
Penutup
Prabowo menegaskan bahwa perang Iran–AS tidak rasional saat ini, sementara penundaan pengiriman pasukan Trump memberi waktu bagi diplomasi. Meski demikian, ketegangan ini menimbulkan ancaman nyata bagi Asia Tenggara: harga BBM naik, rantai pasok energi terganggu, dan inflasi mulai terasa di kehidupan warga sehari-hari.
Konflik ini menjadi pengingat bahwa politik internasional langsung memengaruhi keseharian manusia, dari sopir jeepney di Manila hingga pedagang kelontong di Hanoi. Masa depan energi ASEAN kini diuji, dan kesiapan menghadapi risiko global menjadi kunci stabilitas kawasan.
