Pengaruh Teknologi : Pendidikan, Pengawasan dan Pembelajaran

Last Updated: 31 October 2025, 05:34

Bagikan:

Interaksi manusia dengan jaringan teknologi dan AI. Investasi pada sistem digital harus dibarengi dengan literasi yang bertanggung jawab.
Interaksi manusia dengan jaringan teknologi dan AI. Investasi pada sistem digital harus dibarengi dengan literasi yang bertanggung jawab.
Table of Contents

Teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), telah mengubah lingkungan pendidikan secara drastis. Meskipun ada potensi menjanjikan, para ahli mulai bertanya-tanya apakah investasi besar dalam teknologi ini justru secara perlahan meracuni dan merusak kualitas sekolah. Keraguan ini berakar dari masalah yang kompleks, mulai dari integritas akademik hingga dampak psikologis pada siswa.

1. Runtuhnya Integritas Penilaian

Salah satu dampak paling nyata dari pengaruh teknologi pendidikan adalah krisis integritas akademik. Para ahli menyatakan bahwa ujian tertulis dan skripsi tradisional sudah tidak dapat dipertahankan karena AI dapat menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dalam hitungan jam.

Docent dan AI-expert, Tom Naberink, bahkan menyatakan bahwa selama dua tahun terakhir, banyak diploma telah diberikan kepada chatbot. Ini adalah situasi yang sangat mengkhawatirkan, karena secara tidak langsung, institusi memberikan kredit studi kepada hasil kerja yang sebagian besar tidak dilakukan oleh siswa itu sendiri.

Risiko ini diperburuk oleh fakta bahwa penggunaan AI versi gratis seringkali menghasilkan kesalahan yang luar biasa banyak, serta menimbulkan isu penggunaan teks yang dilindungi hak cipta.

2. Kemudahan yang Merusak

Ancaman lain yang ditimbulkan oleh pengaruh teknologi pendidikan terletak pada kemampuan kognitif siswa. Para ahli mengkritik bahwa kemudahan AI membuat siswa cenderung mengalihdayakan kemampuan berpikir mereka kepada chatbot.

Profesor Pim Haselager menyamakan tindakan ini dengan pergi ke gym untuk mengangkat beban menggunakan forklift. Docent Tom van Dijk menambahkan bahwa kemudahan bukanlah dasar yang baik untuk mendapatkan pengetahuan keahlian sejati.

Siswa yang bergantung pada AI seringkali menyerahkan karya yang terlihat ‘halus’ tetapi ‘tidak berwarna’ atau ‘berdarah dingin’ karena kurangnya kreativitas dan signatur pribadi. Kondisi terburuknya adalah hilangnya basis pengetahuan, di mana siswa menjadi kurang mampu menganalisis dan memahami informasi secara aman dan mendalam karena terbiasa meminta jawaban instan dari AI.

3. Dehumanisasi dan Pengawasan Terselubung

Investasi yang berlebihan dalam platform digital di sekolah menimbulkan kekhawatiran yang lebih dalam. Profesor Antero Garcia menekankan bahwa platform secara mutlak menormalkan pengawasan terhadap siswa.

Anak-anak di sekolah seringkali tidak lagi dipandang sebagai “manusia utuh” tetapi sebagai “data dan angka” (quantifiable data), di mana setiap interaksi mereka, mulai dari login hingga pergerakan mata saat ujian, dicatat.

Praktik ini, yang memisahkan jiwa dan pikiran siswa, menciptakan pelajaran yang mengerikan: bahwa mereka harus mengorbankan privasi untuk berpartisipasi dalam masyarakat sipil.

4. Solusi dan Strategi Pembelajaran

Meskipun tantangan ini nyata, melarang teknologi dianggap sia-sia, karena AI akan terus ada. Oleh karena itu, fokus harus dialihkan ke solusi yang lebih fundamental.

Strategi utamanya adalah Literasi AI, yaitu mengajarkan penggunaan yang bertanggung jawab dan cerdas terhadap AI. Para ahli menyarankan pergeseran fokus penilaian dari produk akhir (tulisan) ke pertanyaan fundamental: “Apakah siswa/pelajar memahami apa yang dia serahkan?”

Metode ujian baru termasuk penggunaan ujian lisan, ujian tertulis di lingkungan tertutup, dan sistem Lulus/Gagal alih-alih angka. Institusi seperti Hogeschool Saxion mengizinkan AI asalkan siswa sepenuhnya terbuka dan memahami di mana AI gagal. Karena kemampuan berpikir komputasional (computational thinking), yaitu memecah masalah dan memahami cara kerja sistem, akan selalu dibutuhkan.

5. Penutup

Perkembangan teknologi, terutama AI, telah membawa pengaruh teknologi pendidikan ke titik kritis: integritas akademik versus kemudahan. Mengabaikan teknologi adalah sia-sia. Oleh karena itu, tugas utama pendidikan saat ini adalah mendorong literasi AI dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, sambil memastikan siswa tidak mengorbankan kemampuan berpikir kritis dan hak privasi mereka.

Untuk memahami lebih dalam bagaimana teknologi membentuk masa depan karir dan produktivitas Anda, terus ikuti tips dan informasi menarik lainnya di Garap Media.

Referensi:

  1. news.stanford.edu(2023).
  2. www.nu.nl(2025).
  3. www.nu.nl(2025).

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /