Perkembangan teknologi kini semakin merambah sektor wisata alam. Aktivitas pendakian gunung yang sebelumnya identik dengan sistem manual dan pencatatan konvensional, kini mulai bertransformasi ke arah digital demi meningkatkan keselamatan pengunjung.
Transformasi tersebut terlihat jelas di Gunung Gede Pangrango. Pengelola taman nasional menerapkan sistem gelang berteknologi Radio Frequency Identification (RFID) yang wajib dikenakan oleh setiap pendaki untuk memantau pergerakan selama berada di kawasan pendakian.
Gelang RFID Pendaki Resmi Diberlakukan
Kebijakan penggunaan gelang RFID pendaki Gunung Gede Pangrango mulai diberlakukan sebagai bagian dari peningkatan sistem keamanan dan keselamatan. Setiap pendaki akan dipasangkan gelang RFID saat proses registrasi sebelum memulai pendakian, sehingga keberadaan mereka dapat dipantau oleh petugas melalui sistem terintegrasi (Kumparan, 2026).
Media nasional melaporkan bahwa teknologi ini digunakan untuk mendeteksi pergerakan pendaki di jalur resmi, memudahkan pengawasan, serta membantu proses pencarian dan pertolongan apabila terjadi kondisi darurat (CNN Indonesia, 2026).
Mengenal Teknologi RFID dalam Pendakian
Radio Frequency Identification (RFID) merupakan teknologi identifikasi berbasis gelombang radio yang memungkinkan pelacakan objek secara otomatis melalui chip elektronik. Dalam dunia pendakian, RFID berfungsi mencatat waktu masuk, lokasi check point, serta pergerakan pendaki selama berada di kawasan taman nasional.
Penerapan teknologi ini menjadikan aktivitas mendaki terasa lebih modern. Selain membantu pengelola, sistem ini juga memberikan rasa aman bagi pendaki karena posisi mereka dapat diketahui dengan lebih cepat jika terjadi hal yang tidak diinginkan (Suara.com, 2026).
Upaya Serius Tingkatkan Keamanan Pendaki
Penerapan gelang RFID pendaki merupakan kolaborasi Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan (PJL) KSDAE bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Langkah ini diambil menyusul tingginya aktivitas pendakian dan risiko kecelakaan di jalur gunung.
Selain RFID, pengelola juga menyiapkan sistem pendukung lain seperti check point digital dan integrasi data pendaki untuk mempermudah proses evakuasi jika dibutuhkan (Jurnal Patroli News, 2026).
Penutupan Jalur dan Penataan Tata Kelola
Meski sistem gelang RFID pendaki telah disiapkan, pendakian Gunung Gede Pangrango masih sempat ditutup sementara sejak 13 Oktober 2025. Penutupan dilakukan untuk perbaikan tata kelola pendakian, evaluasi jalur, serta peningkatan standar keselamatan pengunjung.
Pengelola menyebut penataan ini menjadi fondasi penting sebelum penerapan penuh teknologi keselamatan agar sistem berjalan optimal dan tidak mengganggu ekosistem kawasan konservasi (Kumparan, 2026).
Masa Depan Wisata Alam Berbasis Teknologi
Penerapan gelang RFID pendaki di Gunung Gede Pangrango menandai era baru pengelolaan wisata alam di Indonesia. Teknologi tidak lagi dipandang sebagai ancaman bagi alam, melainkan alat pendukung konservasi dan keselamatan manusia.
Ke depan, konsep serupa berpotensi diterapkan di taman nasional lain dengan tingkat kunjungan tinggi. Digitalisasi pendakian diharapkan mampu menekan angka kecelakaan sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan wisata alam.
Kebijakan penggunaan gelang RFID pendaki menunjukkan keseriusan pengelola Gunung Gede Pangrango dalam menjawab tantangan keselamatan di era modern. Dengan dukungan teknologi, aktivitas pendakian diharapkan menjadi lebih aman dan tertata.
Simak perkembangan wisata alam dan kebijakan terbaru lainnya dengan membaca berita pilihan hanya di Garap Media. Temukan beragam informasi aktual seputar lingkungan, teknologi, dan gaya hidup berkelanjutan.
Referensi
