Pembelajaran puisi modern USSH — Siapa bilang belajar puisi itu membosankan? Di Fakultas Kajian Oriental (Faculty of Oriental Studies) Jurusan Bahasa Indonesia, University of Social Sciences and Humanities (USSH) Ho Chi Minh city, suasana kelas pekan ini justru terasa seperti ruang kreatif yang penuh tawa.
Penyebabnya: hadirnya pembelajaran puisi modern Indonesia yang dipandu oleh Andriyana, dosen tamu asal Indonesia dengan gaya mengajar yang luwes dan dekat dengan mahasiswa.
Sejak pertemuan pertama, kelas langsung hidup. Mahasiswa BIPA—yang sehari-hari belajar tata bahasa dan percakapan dasar—kali ini diajak menelusuri dunia Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Joko Pinurbo. Nama-nama itu mungkin besar di Indonesia, tapi bagi mahasiswa Vietnam, mengenal mereka seperti membuka pintu ke semesta baru.
“Puisi itu seperti puzzle. Kadang sederhana, tapi makin dibaca, makin rumit,” celetuk salah satu mahasiswa, dan sontak seluruh kelas tertawa mengiyakan.
Kelas Mengalir dengan Tawa
Andriyana membawa suasana kelas yang jauh dari tegang. Setiap pembacaan puisi dilakukan bergantian, dan mahasiswa benar-benar menikmati prosesnya—sekali salah melafal, mereka tertawa, lalu mencoba lagi dengan percaya diri.
Momen paling pecah adalah ketika puisi Doa Seorang Pesolek dibacakan. Bagian-bagian yang menyebut lipstik, bedak, hingga detail kosmetik langsung membuat mahasiswa terbahak. Rupanya mereka paham semua kosakata kecantikan itu—hasil dari rajin menonton konten beauty Indonesia di TikTok dan YouTube.
“Yang ini saya tahu banget, Pak! Teman saya pakai tiap hari,” ujar seorang mahasiswa laki-laki sambil membuat seluruh kelas heboh lagi.
Pembelajaran yang biasanya penuh aturan tata bahasa mendadak berubah menjadi ruang berbagi pengalaman, candaan, dan coba-coba ekspresi. Bahasa Indonesia terasa lebih dekat, lebih ‘ramah kepala’, dan lebih manusiawi.
Belajar Bahasa Lewat Metafora
Di balik santainya atmosfer, ada hal serius yang berjalan: mahasiswa sedang memetakan diksi, metafora, dan gaya bahasa penyair Indonesia. Mereka mencatat kata-kata baru seperti sunyi, perih, perona pipi, hingga mengalirkan waktu—istilah yang jarang muncul di buku teks.
Andriyana menjelaskan bahwa kesengajaan penyair melanggar kaidah bahasa justru membuat mahasiswa lebih kritis. “Mereka jadi bertanya, kenapa kalimatnya begini? Kenapa kata ini dipakai dengan cara yang aneh? Dari situ muncul diskusi yang bikin mereka makin memahami Bahasa Indonesia,” ujarnya.
Dari Pembaca Jadi Penulis
Tidak hanya membaca, mahasiswa juga diajak menulis puisi mereka sendiri. Ada yang menulis tentang kerinduan, ada yang menulis tentang musim hujan di Vietnam, ada juga yang menulis tentang rasa penasaran dan canggung belajar bahasa asing.
Hasilnya? Puluhan puisi yang segar, jujur, dan penuh warna budaya tercipta. Banyak di antaranya punya potensi untuk disusun menjadi calon antologi puisi mahasiswa BIPA USSH.
“Awalnya saya takut salah. Tapi setelah lihat teman-teman baca puisi sambil tertawa, saya jadi berani menulis,” kata Trang, salah satu mahasiswa yang puisinya bertema keluarga.
Sastranya Dapat, Kedekatannya Juga Dapat
Pembelajaran ini menegaskan bahwa belajar bahasa asing tidak harus selalu serius. Justru, ketika suasana dibuat menyenangkan, bahasa masuk lebih cepat, dan keberanian untuk berbicara tumbuh lebih besar.
USSH Ho Chi Minh melihat kegiatan ini sebagai ruang penting bagi mahasiswa untuk belajar bahasa sekaligus mengenal budaya Indonesia lebih dekat. Puisi menjadi jembatan, membuka percakapan antara dua negara yang sejarahnya jarang bertemu di ruang kelas.
“Apa yang dilakukan Pak Andriyana menunjukkan bahwa sastra bisa jadi wahana yang ramah bagi pembelajar. Anak muda Vietnam ternyata sangat responsif terhadap puisi Indonesia,” ujar salah satu dosen Jurusan Bahasa Indonesia.
Langkah Menyongsong Antologi Pertama
Dengan semangat mahasiswa yang tinggi dan karya-karya yang mulai terkumpul, pihak jurusan mulai menggagas penyusunan antologi puisi sebagai hasil dari pembelajaran ini.
Jika terwujud, ini akan menjadi publikasi istimewa: karya anak muda Vietnam yang menulis dalam Bahasa Indonesia dari perspektif mereka sendiri. Antologi tersebut semuanya berawal dari kelas yang penuh tawa.
Pembelajaran puisi modern Indonesia di USSH Ho Chi Minh bukan hanya tentang mengenalkan Chairil, Sapardi, dan Joko Pinurbo, tetapi juga tentang membuka ruang baru bagi mahasiswa untuk berekspresi dalam bahasa yang sedang mereka pelajari.
Bukan mustahil, suatu hari nanti, salah satu dari mereka menjadi penyair berbahasa Indonesia pertama dari Vietnam.
Untuk sekarang, mereka sedang bersiap menulis—dan menulis lagi. Sebab ternyata, puisi bukan hanya bisa dipahami, tapi juga dinikmati dan diciptakan bersama.
Kalau kamu ingin eksplor lebih banyak tentang tradisi dan budaya Nusantara, coba mampir ke rubrik Kebudayaan di Garap Media. Di sana ada banyak artikel menarik—mulai dari liputan budaya, analisis sosial, sampai cerita humaniora—yang bisa nambah wawasan kamu.
