Pasola Sumba merupakan tradisi adat masyarakat Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal luas sebagai ritual perang tradisional paling ekstrem di Indonesia. Tradisi ini menampilkan dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar lembing kayu di lapangan terbuka sebagai bagian dari upacara adat tahunan yang sarat nilai spiritual (Tourism Info Nusa Tenggara Timur, 2024).
Lebih dari sekadar atraksi budaya, Pasola memiliki makna religius bagi masyarakat Sumba. Ritual ini diyakini sebagai sarana memohon berkah kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah, sekaligus menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur dalam kepercayaan Marapu (Suara Indonesia, 2024).
Pasola Sumba dalam Perspektif Budaya Lokal
Asal Usul dan Nilai Kearifan Lokal Pasola Sumba
Pasola Sumba berakar kuat pada sistem kepercayaan Marapu yang dianut oleh masyarakat Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Dalam kajian antropologi budaya, Pasola dipahami sebagai bentuk kearifan lokal yang merepresentasikan nilai keberanian, solidaritas, serta kepatuhan terhadap adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun (Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial, 2025).
Istilah “pasola” merujuk pada lembing kayu yang digunakan dalam ritual. Permainan ini tidak dimaknai sebagai ajang permusuhan, melainkan simbol pengorbanan dan persembahan kepada leluhur demi keberlangsungan hidup masyarakat agraris di Sumba.
Hubungan Pasola dengan Ritual Nyale
Pelaksanaan Pasola tidak dapat dilepaskan dari ritual Nyale, yaitu tradisi menangkap cacing laut yang dianggap sebagai pertanda alam dimulainya musim tanam. Apabila Nyale muncul sesuai perhitungan adat, para tetua adat akan menetapkan waktu pelaksanaan Pasola. Ketentuan ini menunjukkan kuatnya peran alam dalam sistem kepercayaan masyarakat Sumba (Tourism Info Nusa Tenggara Timur, 2024).
Prosesi Duel Berkuda yang Sarat Simbolisme
Jalannya Ritual Pasola Sumba
Dalam prosesi Pasola Sumba, dua kelompok pria dewasa dari desa yang berbeda saling berhadapan di padang luas dengan menunggang kuda tanpa pelana. Mereka melempar lembing kayu ke arah lawan sebagai bentuk adu ketangkasan dan keberanian. Meski lembing dibuat tidak runcing, benturan fisik kerap terjadi dan menjadi bagian dari konsekuensi adat (Suara Indonesia, 2024).
Darah yang tertumpah dalam ritual ini dipercaya sebagai simbol penyubur tanah. Kepercayaan tersebut menegaskan bahwa Pasola bukan sekadar tradisi visual, melainkan ritual sakral yang memiliki dampak spiritual bagi masyarakat Sumba.
Peran Komunitas Adat
Tradisi Pasola melibatkan seluruh elemen masyarakat adat, mulai dari tetua adat, penunggang kuda, hingga warga yang mengikuti ritual pendukung. Menurut Bajawa Times, Pasola juga berfungsi sebagai alat pemersatu masyarakat lintas kampung karena seluruh prosesnya dijalankan secara kolektif dan berdasarkan kesepakatan adat (Bajawa Times, 2024).
Pasola Sumba dan Tantangan di Era Modern
Di tengah perkembangan zaman, Pasola Sumba menghadapi tantangan serius, terutama terkait keselamatan peserta dan perubahan nilai generasi muda. Meski demikian, masyarakat adat tetap berupaya menjaga esensi ritual agar tidak kehilangan makna spiritualnya akibat komersialisasi budaya (Kumparan, 2025).
Pemerintah daerah dan tokoh adat kini berupaya menyeimbangkan pelestarian tradisi dengan aspek keamanan tanpa menghilangkan nilai sakral Pasola. Upaya ini dilakukan agar Pasola tetap lestari sebagai identitas budaya masyarakat Sumba.
Pasola Sumba merupakan cerminan kuatnya nilai adat dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Sumba. Tradisi ini tidak hanya menjaga hubungan manusia dengan alam dan leluhur, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial antarwarga.
Ikuti terus liputan budaya, tradisi, dan kearifan lokal dari berbagai daerah di Indonesia hanya di Garap Media, sumber berita yang menghadirkan cerita Nusantara secara mendalam dan terpercaya.
Referensi
