Pasien tuberkulosis atau TBC diperbolehkan untuk mudik saat Lebaran Idul Fitri, asalkan memperhatikan langkah-langkah pencegahan yang tepat. Langkah ini penting agar perjalanan tetap aman dan risiko penularan kepada orang lain dapat diminimalkan.
Dokter spesialis paru dan pernapasan, dr. Herman, Sp.P, FISR, menyatakan bahwa pasien boleh tetap melakukan aktivitas sehari-hari, termasuk pulang kampung. Semua aktivitas harus disertai penggunaan masker dan tindakan pencegahan lain sesuai anjuran dokter agar kesehatan diri dan orang sekitar tetap terjaga.
Syarat Mudik untuk Pasien TBC
Tetap Aktif Beraktivitas
“Khusus untuk pasien TB tidak ada larangan sama sekali untuk mudik karena kita tahu langkah pencegahannya seperti apa. Apabila pasien tersebut mau melakukan aktivitas termasuk mudik, maka kenakanlah masker,” ujar Herman.
Dr. Herman bahkan mendorong pasien untuk tetap aktif beraktivitas. Menurutnya, aktivitas yang terlalu dibatasi justru dapat berdampak pada penurunan sistem imun tubuh.
“Kalau aktivitasnya terlalu dibatasi malah imunnya bisa turun. Jadi silakan beraktivitas seperti biasa, asalkan wajib memakai masker, terutama dalam dua minggu pertama karena penularannya masih sangat tinggi,” tambahnya.
Penggunaan Masker dan Pemeriksaan Dahak
Herman menambahkan bahwa risiko penularan TB memang mulai menurun setelah pasien menjalani pengobatan selama dua minggu. Meski demikian, penggunaan masker tetap dianjurkan hingga pemeriksaan dahak ulang dilakukan.
“Kalau belum dua bulan, saya tetap sarankan untuk mengenakan masker. Setelah dua bulan biasanya kita akan melakukan tes dahak ulang. Jika hasilnya sudah negatif, maka pasien sudah tidak menularkan lagi dan bisa beraktivitas seperti biasa tanpa masker,” katanya.
Jika Pasien TBC Terinfeksi Campak
Dalam kesempatan yang sama, Herman juga menyinggung meningkatnya kasus campak yang belakangan ini banyak ditemukan, terutama saat masa peralihan musim.
“Sekarang banyak kasus campak dan juga virus-virus lainnya. Memang pada saat pancaroba, virus cenderung lebih mudah menyebar,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa tuberkulosis dan campak disebabkan oleh agen penyakit yang berbeda. TBC disebabkan oleh bakteri, sedangkan campak disebabkan oleh virus. Karena itu, jika seseorang mengalami kedua penyakit tersebut secara bersamaan, maka pengobatan harus dilakukan secara terpisah sesuai penyebabnya.
“Keduanya harus diobati. TBC dengan obat TBC, sementara campak biasanya dengan antivirus,” kata Herman.
Namun, Herman mengingatkan agar konsumsi obat tidak dilakukan bersamaan karena obat TBC sendiri memiliki efek samping yang cukup berat, terutama pada lambung.
“Obat TBC efek sampingnya cukup banyak, biasanya ke lambung. Jadi kita sarankan diminum di waktu yang berbeda agar lambung tidak menjadi sakit,” pungkasnya.
Penutup
Pasien TBC tetap dapat mudik Lebaran dengan aman selama mematuhi langkah pencegahan yang dianjurkan dokter paru. Penggunaan masker dan pemeriksaan dahak rutin akan membantu menjaga kesehatan diri sendiri sekaligus orang-orang di sekitar selama perjalanan.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar kesehatan, mudik, tips kesehatan, virus, pengobatan, imun tubuh, dokter paru, Lebaran, gaya hidup, dan kesehatan mental hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Pasien TBC Boleh Mudik Kok, Asal Penuhi Syarat yang Dianjurkan Dokter Paru Ini. Retrieved from https://www.liputan6.com/islami/read/6298199/pasien-tbc-boleh-mudik-kok-asal-penuhi-syarat-yang-dianjurkan-dokter-paru-ini
