OJK Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Stabilitas Keuangan Indonesia

Last Updated: 4 March 2026, 11:20

Bagikan:

stabilitas keuangan
Foto: Liputan6
Table of Contents

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menekan stabilitas sektor keuangan global dan domestik. Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa pihaknya telah memetakan setidaknya tiga jalur transmisi risiko yang perlu diantisipasi secara cermat.

Menurutnya, jalur pertama adalah potensi kenaikan harga minyak dunia apabila terjadi gangguan distribusi. Risiko ini termasuk penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar 30% pasokan minyak global dan distribusi LNG dalam jumlah signifikan. Kenaikan harga energi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan lanjutan terhadap inflasi global.

“Kita mencermati ada possible tiga transmission channel dari ketenangan geopolitik ini, yang pertama tentu saja kenaikan harga minyak,” ujarnya dalam Konferensi Pers Hasil RDKB OJK Februari 2026.

Friderica menjelaskan, lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global yang pada akhirnya memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral berbagai negara. Kondisi tersebut dapat berdampak pada likuiditas pasar keuangan global, pertumbuhan ekonomi, hingga memicu persaingan perebutan aliran dana global.

Jalur transmisi kedua adalah tekanan terhadap kebijakan moneter global akibat meningkatnya inflasi, yang dapat memperketat kondisi likuiditas internasional. Dalam situasi seperti itu, negara berkembang, termasuk Indonesia, perlu memastikan kesiapan fundamental domestik agar tetap kompetitif dalam menarik arus modal.

Sementara jalur ketiga adalah meningkatnya ketidakpastian yang mendorong fenomena flight to quality ke instrumen safe haven. Dalam kondisi ini, pasar negara berkembang dituntut menunjukkan integritas, likuiditas, dan tata kelola yang kredibel agar tetap menjadi tujuan investasi.

“Dalam situasi saat ini, tentu kita melihat bagaimana pasar negara berkembang seperti di Indonesia, kita dituntut untuk menunjukkan integritas dan likuiditas yang kuat sekaligus tata kelola yang kredibel, supaya tetap kompetitif dan menarik untuk aliran modal asing,” jelasnya.

Langkah Antisipasi OJK

Sebagai langkah antisipasi, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) menyiapkan serangkaian instrumen kebijakan yang dapat diaktivasi apabila terjadi fluktuasi pasar yang tidak diharapkan. Selain itu, OJK meminta seluruh lembaga jasa keuangan untuk memperkuat pemantauan terhadap dinamika global. Mereka juga diminta meningkatkan manajemen risiko serta melakukan stress testing dalam berbagai skenario.

Koordinasi lintas otoritas juga terus diperkuat melalui forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Forum ini melibatkan OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sinergi tersebut dilakukan guna memastikan stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Penutup

Dengan kesiapsiagaan ini, OJK menegaskan komitmen untuk menjaga integritas sistem keuangan Indonesia sekaligus memastikan pasar tetap stabil meski gejolak geopolitik meningkat. Langkah antisipatif dan koordinasi lintas otoritas menjadi kunci agar sektor keuangan tetap tangguh dan kredibel menghadapi ketidakpastian global.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar ekonomi, pasar modal, sektor jasa keuangan, kebijakan moneter, inflasi, geopolitik, energi, arus modal, risiko finansial, dan tata kelola hanya di Garap Media.

Referensi:

/ Stay Connected /

802

Ikuti

1

Ikuti

169

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /