Negara Fatherless: Fakta di Balik Hari Ayah

Last Updated: 12 November 2025, 09:57

Bagikan:

Negara Fatherless - Photo by Road Ahead on Unsplash
Photo by Road Ahead on Unsplash
Table of Contents

Negara Fatherless – Setiap tanggal 12 November, Indonesia memperingati Hari Ayah Nasional. Namun di balik ucapan terima kasih dan unggahan media sosial, ada kenyataan yang perlu diakui: semakin banyak anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan ayah. Fenomena ini dikenal sebagai kondisi Fatherless  di mana figur ayah secara emosional, sosial, atau bahkan fisik absen dari kehidupan anak.

Menurut data UNICEF dan Antaranews (2024) , lebih dari 20 persen anak di Indonesia mengalami keterbatasan hubungan dengan ayahnya. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi ketiga dunia sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi ( Health Heroes, 2023 ). Sebuah ironi di tengah peringatan Hari Ayah yang seharusnya menjadi simbol kedekatan keluarga.

 

Apa yang Dimaksud dengan Negara Fatherless?

Fenomena Fatherless bukan hanya tentang ayah yang meninggal atau bercerai. Lebih luas dari itu, istilah ini mencakup ketidakhadiran emosional dan pengasuhan, di mana ayah hidup bersama keluarga tetapi jarang terlibat dalam kehidupan anak.

Psikolog Fathimah Azzahra dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjelaskan bahwa krisis figur ayah adalah salah satu masalah sosial serius di Indonesia karena berdampak pada keseimbangan emosional dan perilaku anak ( DetikHealth, 2024 ). Banyak ayah yang terjebak dalam pola kerja yang panjang atau tekanan ekonomi, sehingga tidak memiliki waktu dan koneksi emosional dengan keluarga.

 

Fakta dan Fenomena Fatherless di Indonesia

Data Antaranews (2024) menunjukkan sekitar 20,9% anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah. Selain itu, laporan dari Health Heroes (2023) menempatkan Indonesia di urutan ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil sebagai negara dengan tingkat fatherless tertinggi.

Lebih lanjut lagi, penelitian dari Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (2024) menunjukkan bahwa hanya sekitar 37% anak usia 0–5 tahun dibesarkan oleh ayah dan ibu kandungnya secara bersamaan. Angka ini menampilkan pola keluarga modern yang rapuh, di mana tanggung jawab pengasuhan masih sering dibebankan sepenuhnya pada ibu.

 

Dampak Sosial dan Psikologis Negara Fatherless

Ketidakhadiran ayah membawa dampak yang kompleks. Anak-anak tanpa figur ayah aktif cenderung mengalami:

  • Rasa percaya diri rendah dan kesulitan emosional. Anak kehilangan sosok teladan, pelindung, dan penyemangat utama dalam keluarga ( DetikHealth, 2024 ).
  • Kerentanan terhadap perilaku berisiko. Riset menunjukkan korelasi antara absennya ayah dengan peningkatan kenakalan remaja, Kecanduan, dan depresi.
  • Penurunan motivasi akademik. Anak tanpa dukungan emosional dari ayah cenderung memiliki prestasi belajar yang lebih rendah ( FKM Unair, 2024 ).

Padahal, kehadiran ayah dalam pengasuhan terbukti mampu meningkatkan keseimbangan mental anak, membentuk empati, serta memperkuat struktur sosial keluarga.

 

Mengapa Indonesia Menjadi Negara Fatherless?

Ada beberapa penyebab utama yang mendorong fenomena ini:

  1. Budaya patriarki. Banyak masyarakat yang masih beranggapan bahwa peran utama ayah hanya sebagai pencari nafkah, bukan pengasuh ( NU Online, 2023 ).
  2. Tekanan ekonomi dan jam kerja yang panjang. Banyak ayah yang harus bekerja jauh dari rumah, sehingga interaksi dengan anak menjadi sangat terbatas.
  3. Perceraian dan keluarga tunggal. Meningkatnya angka perceraian berdampak langsung pada hilangnya sosok ayah dalam kehidupan anak.
  4. Kurangnya pendidikan pengasuhan. Tidak banyak program yang mengajarkan pentingnya keterlibatan ayah sejak dini.

Untuk menjawab krisis ini, pemerintah melalui BKKBN meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mendorong peningkatan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak ( Antaranews, 2024 ).

Baca juga: 5 Dampak Sering Memarahi Anak yang Perlu Orang Tua Waspadai

 

Momentum Hari Ayah : Saatnya Berbenah

Hari Ayah seharusnya tidak hanya dirayakan dengan hadiah dan ucapan manis, tetapi menjadi refleksi nasional tentang pentingnya peran ayah dalam pembentukan karakter bangsa. Indonesia membutuhkan kebijakan yang mendukung keseimbangan peran keluarga, termasuk cuti ayah yang layak, edukasi parenting bagi laki-laki, serta kampanye masyarakat tentang pengasuhan bersama.

 

Penutup

Fenomena negara fatherless bukan sekadar istilah statistik, melainkan kenyataan yang menandai rapuhnya struktur keluarga modern. Jika fenomena ini dibiarkan, dampaknya akan terlihat dalam kualitas generasi muda yang kehilangan panutan dan keseimbangan emosional.

Dalam momentum Hari Ayah Nasional ini, mari kita jadikan kehadiran ayah bukan sekedar simbol, namun realita dalam kehidupan anak-anak Indonesia. Untuk memahami lebih banyak isu sosial dan keluarga, baca berita terbaru lainnya hanya di Garap Media .

 

Referensi

 

 

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /