Musisi Boikot Spotify: Daftar Lengkap Kontroversi
Beberapa musisi ternama telah menarik musik mereka dari Spotify sebagai bentuk protes terhadap dugaan genosida di Gaza dan investasi CEO Spotify, Daniel Ek, di perusahaan teknologi militer Helsing. Langkah ini memicu perdebatan tentang tanggung jawab platform streaming dalam isu kemanusiaan.
Spotify menghadapi tekanan untuk menanggapi tuduhan tersebut. Musisi berharap boikot ini dapat mendorong perubahan kebijakan dan meningkatkan kesadaran global.
Mengapa Musisi Memilih Boikot Spotify
Musisi yang menarik lagu mereka menekankan tanggung jawab moral terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Mereka merasa bahwa tetap berpartisipasi dalam platform yang dianggap mendukung pihak yang terlibat dalam dugaan pelanggaran hak asasi manusia akan bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut (The Guardian, 2025).
Boikot ini juga dianggap sebagai bentuk aktivisme musik di era digital. Musisi menggunakan platform global untuk menyuarakan solidaritas dan memengaruhi opini publik. Selain menyampaikan pesan moral, langkah ini mendorong diskusi tentang etika platform streaming dan tanggung jawab sosial perusahaan (AI Magazine, 2025).
Musisi yang Memilih Boikot Spotify
Sejumlah musisi dan band telah menarik musik mereka sebagai bentuk protes, termasuk:
- Massive Attack (Inggris)
- Paramore dan Hayley Williams (AS)
- Björk (Islandia)
- Rina Sawayama (Inggris-Jepang)
- Japanese Breakfast (AS)
- King Gizzard & the Lizard Wizard (Australia)
- Deerhoof (AS)
- Xiu Xiu (AS)
- Fontaines D.C. (Irlandia)
- Faye Webster (AS)
- Arca (Venezuela)
- MIKE (AS)
- Kneecap (Irlandia Utara)
- Amyl and The Sniffers (Australia)
- MØ (Denmark)
Langkah ini bagian dari gerakan internasional “No Music for Genocide”, menuntut musisi dan label memblokir distribusi musik di Israel untuk solidaritas Palestina (Washington Post, 2025; Wikipedia, 2025).
Dampak pada Industri Musik dan Spotify
Boikot Spotify oleh musisi akibat isu genosida menegaskan peran platform streaming dalam konteks sosial dan politik. Ini memicu diskusi global tentang etika perusahaan digital dan tanggung jawab seniman.
Bagi penggemar musik, aksi ini mengingatkan bahwa setiap konsumsi digital memiliki implikasi moral. Tetap ikuti perkembangan boikot ini untuk memahami dampaknya.
Untuk berita lain seputar musik dan hak asasi manusia, baca terus artikel menarik di Garap Media.
Referensi
