Ketua Bidang Penanggulangan Bencana Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nusron Wahid menyebut upaya Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator perdamaian Amerika Serikat (AS)-Iran mendapat dukungan dari negara-negara Islam dan Timur Tengah. Prabowo pun berkeinginan menggelar pertemuan dengan Iran untuk membuka ruang mediasi.
“Sambil melihat keadaan, tadi disampaikan, prinsipnya Bapak Presiden menginginkan adanya pertemuan dengan Iran. Untuk menjadi mediasi dan Iran membuka diri,” kata Nusron usai menghadiri pertemuan Prabowo dengan tokoh agama Islam di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Langkah-langkah yang diambil Prabowo mendapat support dari beberapa negara Timur Tengah dan negara Islam lain, termasuk dari Pakistan dan Uni Emirat Arab (UAE). Menurut Nusron, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara Islam lainnya yang tergabung dalam kelompok D-8 ingin perdamaian dunia terwujud dan menolak adanya peperangan, khususnya di kawasan Teluk.
“Pak Presiden bersama tujuh pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok delapan itu, menginginkan adanya perdamaian. Jangan sampai perang berlarut-larut terutama di Iran maupun di kawasan Teluk dan sebagainya,” tuturnya.
Prabowo Siap Jadi Mediator
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali kesediannya menjadi mediator untuk menurunkan eskalasi di Timur Tengah, usai serangan AS-Israel ke Iran. Namun, hal ini dilakukan apabila Iran dan AS sepakat bernegosiasi untuk mengakhiri konflik.
“Ya, seperti yang disampaikan bahwa jika kedua belah pihak berkeinginan, ya kita, Pak Presiden bersedia untuk menjadi mediator. Tetapi kalau misalnya ada pandangan seperti itu (tak ingin ada negosiasi), ya kita kembalikan kepada mereka,” kata Menteri Luar Negeri RI Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Sugiono menekankan kesiapan Prabowo dan Indonesia untuk menjembatani mediasi AS dan Iran. Indonesia menawarkan diri sebagai mediator untuk perdamaian.
“Yang pasti, Indonesia ingin ada dalam posisi bahwa bagaimana kita bisa menjadi jembatan dari perbedaan, menawarkan kesiapan kita, menawarkan diri kita,” ujarnya.
Sugiono juga mengaku sudah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran beberapa hari lalu. Ia menyampaikan sikap Indonesia yang menyesalkan gagalnya perundingan AS-Iran sehingga eskalasi perang meningkat.
“Beliau menelepon saya, kemudian menjelaskan posisi Iran. Tentu saja kami menyampaikan juga sikap Indonesia bahwa kita menyesalkan perundingan yang terjadi kemudian gagal, yang berakibat pada terjadinya eskalasi,” jelas Sugiono.
Selain itu, Sugiono menekankan pentingnya agar AS dan Iran kembali ke meja perundingan. Ia juga menyampaikan keinginan Prabowo menjadi mediator untuk menurunkan eskalasi perang di Iran.
“Kita juga menekankan lagi prinsip-prinsip penghormatan kita terhadap integritas wilayah, terhadap kedaulatan wilayah satu negara. Kemudian kita juga menekankan kembali pentingnya untuk kembali ke meja perundingan,” tutur dia.
“Dan juga yang pasti, kami menyampaikan lagi keinginan dari Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi di wilayah tersebut. Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau terima,” sambung Sugiono.
Penutup
Dukungan negara-negara Timur Tengah terhadap Prabowo sebagai mediator menunjukkan posisi Indonesia semakin diperhitungkan dalam diplomasi internasional. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan ketegangan dan mendorong perdamaian di kawasan Teluk secara signifikan. Langkah ini juga memperkuat peran Indonesia sebagai negara yang aktif mempromosikan dialog dan solusi damai di kancah global.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar konflik AS-Iran, diplomasi internasional, konflik global, politik dan hukum, perkembangan politik, hubungan luar negeri, perdamaian, keamanan, strategi mediasi, kebijakan luar negeri, kerja sama internasional, dan upaya perdamaian hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). MUI: Negara Timur Tengah Dukung Prabowo jadi Mediator Konflik AS dan Iran. Retrieved from https://www.liputan6.com/news/read/6292232/mui-negara-timur-tengah-dukung-prabowo-jadi-mediator-konflik-as-dan-iran
