Penurunan prospek atau outlook peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings dari stabil menjadi negatif dinilai memberi dampak psikologis terhadap pergerakan pasar saham domestik. Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai perubahan outlook tersebut lebih merupakan penyesuaian ekspektasi makro ketimbang sinyal melemahnya fundamental ekonomi secara mendasar.
“Penurunan outlook lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi makro, bukan alarm penurunan fundamental,” kata Reydi, Minggu (8/2/2026).
Menurut Reydi, selama peringkat kredit Indonesia masih berada pada level investment grade, risiko yang terbaca oleh investor cenderung bersifat jangka pendek. Reaksi pasar lebih didorong oleh sentimen dan persepsi dibanding perubahan signifikan pada kondisi ekonomi.
“Selama rating tetap investment grade, risiko yang dibaca investor cenderung jangka pendek dan psikologis,” ujarnya.
Dampak ke Saham dan Peluang Akumulasi
Reydi menjelaskan, sektor tertentu lebih sensitif terhadap sentimen tersebut, terutama saham perbankan karena perubahan outlook dapat mempengaruhi persepsi risiko terkait biaya pendanaan dan akses likuiditas. Selain itu, emiten yang memiliki eksposur utang dalam mata uang asing berpotensi tertekan, sedangkan emiten berfundamental kuat relatif lebih tahan.
“Ya, dengan rating tetap investment grade. Ada peluang market overreact dalam jangka pendek. Ini justru berpotensi terjadi akumulasi pada saham big cap dan defensif yang valuasinya terdiskon, selama tidak ada sentimen negatif lanjutan,” pungkas Reydi.
Respons Moody’s dan Bank Indonesia
Moody’s mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada Baa2 dan menyesuaikan outlook menjadi negatif dari stabil pada Kamis, 5 Februari 2026. Afirmasi rating Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap kuat, dengan pertumbuhan stabil, kekuatan struktural seperti sumber daya alam dan demografi menguntungkan, serta kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal. Revisi outlook dipengaruhi risiko penurunan kepastian kebijakan. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan, penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental.
“Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik tetap solid. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tercatat 5,39%, secara keseluruhan 2025 tumbuh 5,1%,” ujarnya.
Inflasi, Stabilitas Keuangan, dan Digitalisasi
Selain itu, inflasi tetap terjaga pada 2,92% dan berada dalam kisaran sasaran. Stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia.
“Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, ditopang likuiditas memadai, permodalan perbankan tinggi, serta risiko kredit rendah,” kata Perry.
Perry menambahkan bahwa digitalisasi sistem pembayaran tetap terjaga, ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat. Hal ini turut mendukung pertumbuhan ekonomi.
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi
Moody’s memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap sekitar 5% jangka pendek hingga menengah. Defisit fiskal diperkirakan tetap di bawah 3% PDB, rasio utang pemerintah rendah, namun tantangan masih ada untuk meningkatkan basis penerimaan melalui efisiensi perpajakan dan kepabeanan. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9-5,7%, dan 2027 sekitar 5,1-5,9%, dengan inflasi terkendali.
Ketahanan Ekonomi dan Cadangan Devisa
Ketahanan eksternal tetap kuat. Neraca perdagangan Desember 2025 surplus USD 2,51 miliar. Cadangan devisa akhir Desember 2025 sebesar USD 156,5 miliar, setara pembiayaan 6,4 bulan impor. NPI 2026 diperkirakan tetap sehat dengan defisit transaksi berjalan rendah, 0,9-0,1% PDB. Nilai tukar Rupiah diprediksi stabil dan cenderung menguat.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, mendorong pertumbuhan berkelanjutan, serta memperkuat komunikasi kebijakan bersama Pemerintah untuk memelihara kepercayaan pasar,” kata Perry.
Penutup
Penurunan outlook Moody’s menjadi negatif tidak serta-merta menandakan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Pertumbuhan yang stabil, inflasi terkendali, dan kondisi fiskal yang sehat menunjukkan bahwa ekonomi nasional tetap tangguh dan mampu menghadapi berbagai gejolak.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar ekonomi Indonesia, pasar saham, perbankan, inflasi, kebijakan moneter, fiskal, investasi, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas makro hanya di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Moody’s Revisi Outlook Indonesia, Pengamat: Penyesuaian Ekspektasi Makro. Retrieved from https://www.liputan6.com/saham/read/6274406/moodys-revisi-outlook-indonesia-pengamat-penyesuaian-ekspektasi-makro
