Aksi mogok dagang daging sapi terjadi di sejumlah pasar tradisional di Jakarta dan wilayah Jabodetabek. Para pedagang kompak menghentikan aktivitas jual beli sebagai bentuk protes terhadap mahalnya harga sapi hidup yang dinilai memberatkan pedagang sekaligus berdampak pada harga daging sapi di tingkat konsumen (ANTARA, 2026).
Fenomena ini membuat suasana pasar mendadak sepi. Los-los daging yang biasanya ramai pembeli tampak kosong, bahkan berubah menjadi lorong gelap karena tidak ada aktivitas perdagangan. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait ketersediaan dan stabilitas harga daging sapi di pasar tradisional.
Kronologi Mogok Dagang Daging Sapi di Pasar Jakarta
Aksi mogok dagang daging sapi mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir di berbagai pasar utama Jakarta, seperti Pasar Minggu, Pasar Klender, dan Pasar Gondangdia. Pedagang memilih tidak berjualan karena harga sapi hidup di tingkat hulu dinilai terlalu tinggi sehingga menyulitkan mereka untuk menjual daging dengan harga yang dapat diterima konsumen (Republika Online, 2026).
Di Pasar Klender, Jakarta Timur, hampir seluruh los daging sapi tutup. Tidak ada aktivitas pemotongan maupun transaksi jual beli, sehingga area tersebut tampak gelap dan lengang. Para pedagang menyebut langkah ini diambil secara kolektif agar aspirasi mereka mendapat perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kebijakan (Detik Finance, 2026).
Penyebab Mogok Dagang Daging Sapi
Harga Sapi Hidup Dinilai Terlalu Mahal
Salah satu penyebab utama mogok dagang daging sapi adalah melonjaknya harga sapi hidup di tingkat pemasok. Pedagang menilai kenaikan harga tersebut tidak sebanding dengan daya beli masyarakat, sehingga berisiko menurunkan penjualan dan menyebabkan kerugian bagi pedagang pasar tradisional (Okezone Economy, 2026).
Selain itu, pedagang juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan sapi dengan harga yang stabil. Kondisi ini membuat harga daging sapi di pasar sulit diturunkan meski permintaan masyarakat cenderung melemah.
Dampak Mogok Dagang Daging Sapi bagi Pasar
Pasar Tradisional Mendadak Sepi
Akibat aksi mogok, sejumlah pasar tradisional di Jakarta mengalami penurunan aktivitas secara signifikan. Di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, lapak-lapak daging sapi tampak kosong karena pedagang memilih tidak berjualan. Beberapa pedagang menyebut aksi ini sebagai bentuk peringatan agar persoalan harga sapi mendapat solusi konkret (Republika Online, 2026).
Sementara itu, di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, pedagang daging sapi juga tidak membuka lapak. Aktivitas perdagangan hanya terlihat di komoditas lain seperti ayam dan ikan, sementara daging sapi nyaris tidak tersedia (ANTARA, 2026).
Konsumen Beralih ke Komoditas Lain
Ketiadaan daging sapi di pasar membuat sebagian konsumen beralih ke sumber protein lain. Beberapa pembeli mengaku memilih ayam atau ikan karena lebih mudah didapat dan harganya relatif stabil di tengah kondisi pasar yang tidak menentu.
Respons Pemerintah dan Harapan Pedagang
Pemerintah pusat menyatakan terus memantau situasi mogok dagang daging sapi yang terjadi di pasar-pasar tradisional. Sejumlah pejabat menegaskan perlunya dialog antara pedagang, pemasok, dan pemerintah agar persoalan harga sapi dapat diselesaikan tanpa merugikan masyarakat luas (ANTARA, 2026).
Pedagang berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga sapi hidup di tingkat hulu. Dengan demikian, harga daging sapi di pasar tradisional bisa kembali terjangkau dan aktivitas perdagangan dapat berjalan normal.
Aksi mogok dagang daging sapi yang terjadi di Jakarta dan Jabodetabek menunjukkan adanya persoalan serius dalam rantai pasok komoditas pangan strategis. Mahalnya harga sapi hidup menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi agar pedagang dan konsumen tidak terus dirugikan.
Ikuti terus perkembangan isu pangan, ekonomi, dan kebijakan publik lainnya hanya di Garap Media. Dapatkan informasi terbaru dan analisis mendalam agar kamu tidak ketinggalan berita penting yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.
Referensi
