Misteri Lengkap Candi Lembah Bujang, Situs Kuno Asia Tenggara yang Mengejutkan Dunia
Candi Lembah Bujang di Kedah, Malaysia, merupakan salah satu kompleks arkeologi tertua di Asia Tenggara. Situs ini merekam aktivitas peradaban sejak abad ke-3 hingga abad ke-12 M sebagai pusat perdagangan dan keagamaan regional (Tourism Malaysia, t.t.).
Puluhan struktur candi dan ribuan artefak yang ditemukan menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu dan Buddha. Temuan tersebut juga menegaskan peran jalur maritim Selat Malaka dalam menghubungkan budaya lokal dengan dunia luar (Tourism Malaysia, t.t.).
Sejarah Candi Lembah Bujang
Jejak Awal Peradaban Candi Lembah Bujang
Lembah Bujang dikenal sebagai lokasi lebih dari 50 situs candi atau bangunan ritual yang tersebar di sekitar Sungai Merbok, Kedah. Berdasarkan catatan resmi pariwisata Malaysia, kawasan ini berkembang sebagai pusat perdagangan internasional, menghubungkan jaringan dagang dari India, Timur Tengah, dan Tiongkok sejak awal Masehi (Tourism Malaysia, t.t.).
Struktur candinya umumnya menggunakan fondasi batu, sementara bagian atas bangunan terbuat dari kayu sehingga tidak lagi tersisa. Temuan batu prasasti, manik-manik, keramik asing, serta perhiasan menunjukkan aktivitas perdagangan dan ritual keagamaan yang intens pada masanya (Penang Travel Tips, t.t.).
Candi Terkenal di Lembah Bujang
Salah satu bangunan paling penting adalah Candi Bukit Batu Pahat. Situs ini dikenal sebagai struktur terbesar dan terbaik yang masih terlihat di Lembah Bujang, dengan tata ruang menyerupai kuil Hindu di India Selatan, lengkap dengan mandapa dan ruang pemujaan utama (Penang Travel Tips, t.t.).
Artefak yang ditemukan di sekitar candi ini mencakup lempengan emas bergambar dewa Hindu, reliquary batu, serta peralatan logam ritual (Tourism Malaysia, t.t.).
Selain itu, terdapat Candi Pengkalan Bujang yang memperlihatkan ciri Buddha berupa struktur mirip stupa dan temuan patung terracotta Buddha. Candi-candi lain seperti Pendiat dan Bendang Dalam juga memperlihatkan variasi bahan bangunan berupa bata, laterit, dan granit yang menunjukkan perkembangan teknik konstruksi lokal sepanjang masa (Penang Travel Tips, t.t.).
Temuan Artefak dan Museum
Berbagai artefak dari Lembah Bujang kini disimpan di Bujang Valley Archaeological Museum di Merbok, Kedah. Museum ini memamerkan manik-manik kaca, keramik Dinasti Song dari Tiongkok, perhiasan emas, serta fragmen arca Hindu–Buddha yang mencerminkan luasnya jaringan perdagangan kuno (Penang Travel Tips, t.t.).
Temuan-temuan tersebut menguatkan asumsi para sejarawan bahwa Lembah Bujang pernah berfungsi sebagai pusat transit penting dalam rute dagang laut, tempat para pedagang beristirahat sekaligus menjalankan kegiatan keagamaan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Nusantara atau India.
Kontroversi Pelestarian Candi Lembah Bujang
Kasus Perusakan Situs Bersejarah
Pada 2013, media lokal Malaysia melaporkan penghancuran Candi Nomor 11, sebuah struktur berusia sekitar 1.200 tahun, akibat aktivitas pembangunan kawasan industri. Peristiwa ini menimbulkan gelombang kritik dari sejarawan dan pemerhati budaya yang menilai perlindungan terhadap situs sejarah masih lemah (Malay Mail, 2013).
Menurut laporan tersebut, penghancuran dilakukan meski candi telah terdaftar sebagai bagian dari warisan nasional. Kasus ini kemudian menjadi simbol tantangan utama dalam pelestarian candi Lembah Bujang, khususnya di tengah pesatnya pembangunan ekonomi wilayah Kedah.
Upaya Perlindungan
Pemerintah Malaysia kemudian meningkatkan perhatian terhadap pengelolaan situs ini melalui konservasi, penelitian lanjutan, serta pengembangan museum sebagai pusat edukasi publik. Namun hingga kini, Lembah Bujang belum masuk ke dalam daftar Warisan Dunia UNESCO, meski wacana pencalonan terus bergulir dalam kalangan komunitas arkeologi Asia Tenggara.
Nilai Sejarah Candi Lembah Bujang
Candi Lembah Bujang memiliki arti strategis bagi pemahaman sejarah kawasan karena:
- Menjadi bukti keberadaan peradaban maritim Melayu kuno sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
- Memperlihatkan interaksi budaya Hindu dan Buddha yang masuk melalui jalur perdagangan.
- Membantu memetakan jaringan ekonomi internasional Asia Tenggara awal Masehi.
- Menjadi sumber edukasi penting tentang perlunya pelestarian warisan budaya.
Candi Lembah Bujang menjadi penanda penting dalam sejarah Asia Tenggara. Reruntuhan candinya membuktikan bahwa kawasan Melayu memiliki peradaban maritim maju sejak masa awal Masehi.
Melalui pelestarian dan publikasi sejarah, kisah Lembah Bujang dapat terus dikenal luas. Ikuti berita budaya dan arkeologi lainnya di Garap Media untuk mendapatkan wawasan sejarah dari Asia Tenggara dan dunia.
Referensi
