Misandri Misogini: Fakta, Dampak, dan Bedanya

Last Updated: 28 November 2025, 15:08

Bagikan:

Fenomena misandrist dan misoginis menunjukkan bagaimana kebencian berbasis gender bisa berdampak pada kesehatan mental dan relasi sosial di masyarakat modern Sumber gambar: HaloDoc
Table of Contents

Misandri Misogini: Fakta, Dampak, dan Bedanya

Perbincangan tentang isu gender kian menguat di ruang publik dan media sosial. Dua istilah yang sering muncul adalah misandri dan misogini. Meski sama-sama berkaitan dengan prasangka berbasis gender, keduanya memiliki makna, arah, serta dampak yang berbeda.

Di Indonesia, pemahaman yang keliru terhadap dua istilah ini kerap memicu perdebatan panjang tanpa solusi yang jelas. Oleh karena itu, penting untuk membahas misandri dan misogini berdasarkan rujukan media serta lembaga yang valid agar diskusi tidak melenceng dari fakta.

Pengertian Misandri dan Misogini dalam Kajian Sosial

Apa Itu Misandri?

Secara umum, misandri merujuk pada sikap benci, merendahkan, atau prasangka negatif terhadap laki-laki. Sikap ini dapat muncul melalui ujaran kebencian, stereotip, hingga generalisasi terhadap pria sebagai sebuah kelompok (Socius UNJ, 2025).

Dalam banyak kasus, misandri hadir sebagai reaksi emosional terhadap pengalaman traumatis atau kekerasan berbasis gender. Namun, ketika reaksi tersebut berkembang menjadi kebencian terhadap seluruh laki-laki tanpa pengecualian, maka sikap itulah yang masuk dalam kategori misandri.

Apa Itu Misogini?

Berbeda dengan misandri, misogini adalah bentuk kebencian, permusuhan, atau prasangka terhadap perempuan. Fenomena ini tidak hanya muncul sebagai sikap individu, tetapi juga dapat terwujud dalam sistem sosial, norma budaya, hingga struktur kekuasaan yang merugikan perempuan (ANTARA News, 2025).

Sementara itu, Komnas Perempuan menegaskan bahwa misogini kerap menjadi akar dari kekerasan berbasis gender, pelecehan seksual, diskriminasi kerja, hingga pembungkaman peran perempuan di ruang publik (2023).

Perbedaan Mendasar Misandri dan Misogini

Meski sama-sama berbentuk kebencian berbasis gender, misandri dan misogini memiliki perbedaan besar dari sisi skala maupun dampak sosialnya. Misandri umumnya lebih sering muncul dalam bentuk sikap personal, perdebatan di media sosial, atau konten digital bernuansa sindiran dan stereotip.

Sebaliknya, misogini terbukti memiliki dampak sosial yang jauh lebih luas karena berkaitan langsung dengan budaya patriarki yang telah mengakar lama di masyarakat.

Data dari Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih berada dalam kategori darurat nasional. Fakta ini memperlihatkan bahwa misogini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan sistem sosial yang timpang.

Dampak Sosial Misandri dan Misogini di Masyarakat

Dampak Misandri

Rasa curiga terhadap laki-laki menjadi salah satu efek sosial yang paling sering muncul dari misandri. Dalam banyak situasi, tidak sedikit pria yang merasa disudutkan atau langsung dicurigai sebagai pihak yang bersalah.

Stereotip semacam itu perlahan memengaruhi kondisi psikologis serta relasi sosial. Dampaknya bisa merembet ke lingkungan keluarga, pergaulan, bahkan dunia kerja jika dibiarkan tanpa ruang dialog yang sehat.

Walau tidak bersifat struktural seperti misogini, potensi konflik sosial tetap terbuka lebar. Misandri dapat menciptakan jurang emosional antar gender jika dipelihara dalam jangka panjang.

Dampak Misogini

Jika dibandingkan, dampak misogini jauh lebih luas dan serius. Selain berupa pelecehan verbal dan seksual, perempuan juga kerap mengalami marginalisasi, objektifikasi tubuh, hingga diskriminasi dalam dunia kerja (ANTARA News, 2025).

Bahkan, ribuan kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat setiap tahunnya oleh Komnas Perempuan (2023), baik yang terjadi di ranah domestik maupun ruang publik. Angka ini menjadi gambaran nyata betapa dalamnya persoalan misogini di masyarakat.

Mengapa Misandri dan Misogini Perlu Dipahami Bersama?

Pemahaman yang seimbang terhadap misandri dan misogini penting agar masyarakat tidak terjebak dalam narasi saling menyalahkan antar gender. Lemahnya literasi justru berpotensi memperparah konflik serta menutup ruang dialog yang sehat.

Selain itu, kesadaran ini membantu membedakan antara kritik terhadap perilaku individu dengan kebencian terhadap suatu gender. Kritik bertujuan untuk memperbaiki, sementara kebencian berbasis gender hanya akan memperpanjang masalah.

Dalam konteks masyarakat modern, misandri dan misogini bukan sekadar istilah populer di media sosial, melainkan fenomena sosial yang nyata dan berdampak. Keduanya sama-sama lahir dari trauma, ketimpangan relasi, serta prasangka yang belum sepenuhnya selesai di masyarakat.

Agar diskusi tentang gender tidak berubah menjadi arena saling membenci, masyarakat perlu membekali diri dengan literasi yang sehat dan berbasis data. Untuk informasi, analisis, dan isu sosial lainnya, jangan lewatkan artikel-artikel terbaru di Garap Media.

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /