Mikroplastik Hujan Jakarta: Temuan BRIN Jadi Alarm Serius bagi Lingkungan dan Kesehatan
Fenomena baru terungkap di Jakarta: air hujan yang turun di ibu kota ternyata mengandung partikel mikroplastik. Penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa mikroplastik kini tak hanya mencemari laut dan tanah, tetapi juga udara dan hujan yang kita hirup serta gunakan sehari-hari (Antara News, 2025).
Temuan ini menandakan bahwa siklus plastik telah mencapai titik baru. Partikel kecil ini terangkat ke atmosfer melalui debu, asap, dan pembakaran, lalu kembali turun bersama hujan. Dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat yang terpapar secara terus-menerus di kota padat seperti Jakarta.
Penelitian BRIN Ungkap Kandungan Mikroplastik Hujan di Jakarta
Tingkat Konsentrasi Mikroplastik
Berdasarkan penelitian BRIN sejak 2022, air hujan di berbagai wilayah Jakarta ditemukan mengandung rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari. Beberapa sampel bahkan menunjukkan jumlah lebih tinggi pada area dengan lalu lintas padat dan dekat kawasan industri (Kompas.com, 2025).
Jenis polimer yang paling sering terdeteksi antara lain poliester, nilon, polietilena, dan polipropilena — bahan yang umum digunakan pada pakaian sintetis, kantong plastik, dan ban kendaraan. Peneliti menilai, sumber utama partikel ini berasal dari aktivitas rumah tangga, kendaraan bermotor, hingga pembakaran terbuka limbah plastik.
Siklus Plastik di Atmosfer
Mekanisme hujan mikroplastik terjadi saat partikel terangkat ke udara melalui angin atau emisi, lalu terbawa ke atmosfer dan akhirnya jatuh bersama tetes hujan. Fenomena ini disebut deposisi atmosferik. “Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” ujar peneliti BRIN (Antara News, 2025).
Dampak Mikroplastik Hujan terhadap Lingkungan dan Kesehatan
Ancaman bagi Ekosistem Perkotaan
Masuknya mikroplastik melalui hujan dapat memperburuk pencemaran tanah dan air permukaan. Partikel ini dapat menyusup ke sungai dan drainase kota, lalu terbawa ke laut. Dalam jangka panjang, hal ini mengancam rantai makanan karena mikroplastik dapat dikonsumsi oleh plankton, ikan, hingga manusia (Kompas.com, 2025).
Risiko bagi Kesehatan Manusia
Partikel mikroplastik berukuran mikrometer ini berpotensi terhirup melalui udara atau masuk ke tubuh lewat air minum. Beberapa jenis plastik mengandung bahan kimia berbahaya seperti ftalat dan BPA yang dapat menyebabkan gangguan hormon, peradangan, hingga stres oksidatif sel. Meskipun riset lebih lanjut masih dibutuhkan, temuan ini menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan publik di kota besar.
Respons Pemerintah dan Upaya Mitigasi
Langkah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta
Menanggapi laporan BRIN, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta (DLH) menyebut temuan ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspon serius. DLH menyatakan akan memperkuat pengendalian sampah plastik dari hulu ke hilir serta menambah titik pemantauan kualitas udara dan air hujan di wilayah padat aktivitas industri (Antara News, 2025).
Selain itu, BRIN merekomendasikan penerapan teknologi filtrasi pada mesin cuci untuk menangkap serat sintetis, meningkatkan fasilitas daur ulang, serta memperketat pengawasan terhadap pembakaran sampah terbuka di pemukiman. (Detik.com, 2025).
Partisipasi Publik
Masyarakat diimbau untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah rumah tangga, dan mendukung kebijakan ramah lingkungan. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama untuk memutus siklus plastik dari udara hingga kembali ke bumi. “Langit Jakarta kini mencerminkan perilaku manusia di bawahnya,” tulis Antara dalam laporannya (Antara News, 2025).
Temuan mikroplastik hujan di Jakarta memperlihatkan betapa jauh pencemaran plastik telah menyebar. Polusi yang dulu hanya ditemukan di lautan kini telah menjadi bagian dari udara yang kita hirup. Ini menjadi tantangan serius bagi kota besar untuk menata kembali kebijakan lingkungan, produksi, dan perilaku konsumsi warganya.
Untuk mengatasi masalah ini, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, peneliti, industri, dan masyarakat sangat dibutuhkan. Langkah kecil seperti mengurangi plastik sekali pakai atau memilih produk ramah lingkungan bisa menjadi awal perubahan. Simak berita-berita lingkungan lainnya hanya di Garap Media untuk memperluas wawasan Anda tentang isu ekologi dan keberlanjutan.
Referensi
