Mengungkap Hadaka Matsuri Jepang: Festival Telanjang Paling Ikonik dan Sarat Makna
Festival Hadaka Matsuri merupakan salah satu ritual paling unik dan ekstrem di Jepang. Ribuan pria hanya mengenakan fundoshi (cawat tradisional) dan tabi untuk mengikuti prosesi spiritual yang dipercaya membawa keberuntungan (BINUS, 2020). Festival ini digelar di berbagai wilayah Jepang dan selalu menjadi pusat perhatian dunia.
Tradisi berusia ratusan tahun ini bukan sekadar tontonan, tetapi simbol purifikasi dalam ajaran Shinto. Meski ekstrem, Hadaka Matsuri terus bertahan sebagai warisan budaya yang mencerminkan keberanian, keteguhan, dan harapan baru bagi masyarakat Jepang.
Sejarah dan Makna Hadaka Matsuri
Hadaka Matsuri diperkirakan telah berlangsung lebih dari 500 tahun, terutama pada festival Saidaiji di Prefektur Okayama. Upacara ini berakar dari praktik pembersihan diri dan pengusiran nasib buruk dalam kepercayaan Shinto (BINUS, 2020). Para peserta menjalani ritual air dingin sebelum memasuki kuil untuk memulai prosesi.
Makna utama festival ini adalah purifikasi — sebuah simbol membersihkan diri dari kesialan dan energi negatif. Banyak masyarakat percaya bahwa mengikuti Hadaka Matsuri dapat membawa keberuntungan dan keselamatan sepanjang tahun.
Prosesi Utama dan Antusiasme Peserta
Puncak festival terjadi saat imam Shinto melemparkan shingi, tongkat kayu suci yang diperebutkan ratusan hingga ribuan peserta. Siapa pun yang berhasil mendapatkan shingi diyakini akan memperoleh keberuntungan besar sepanjang tahun (NDTV, 2020).
Prosesi ini berlangsung pada malam musim dingin, sehingga peserta harus menahan suhu rendah sekaligus menerobos kerumunan padat. Meski melelahkan dan penuh risiko, banyak pria melihat kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian spiritual.
Beberapa daerah seperti Saidaiji juga menambahkan ritual air suci sebelum peserta memasuki kuil. Air yang sangat dingin dipercaya dapat ‘menghapus’ kesialan sebelum prosesi perebutan shingi berlangsung (Sesawi, 2019).
Perubahan Modern: Partisipasi Perempuan dalam Hadaka Matsuri
Pada 2024, untuk pertama kalinya sekelompok perempuan diizinkan berpartisipasi dalam ritual tertentu di Hadaka Matsuri versi Konomiya Shrine, Prefektur Aichi. Sekitar 100 perempuan mengikuti prosesi dengan mengenakan happi coat dan membawa bambu ritual, meski tidak terlibat dalam perebutan shingi (Hindustan Times, 2024).
Laporan RNZ (2024) menyebutkan bahwa perubahan ini disambut positif oleh masyarakat modern, meski beberapa tradisionalis menilai perlu adanya batasan agar identitas ritual tetap terjaga.
Kontroversi dan Tantangan Pelaksanaan
Hadaka Matsuri tidak lepas dari kritik, terutama terkait keselamatan peserta. Kerumunan besar dan kondisi fisik yang ekstrem sering menimbulkan risiko cedera, terutama saat perebutan shingi berlangsung sangat intens (NDTV, 2020).
Selain itu, debat mengenai partisipasi perempuan juga menjadi pusat diskusi publik. Sebagian masyarakat menilai inklusivitas penting untuk menyelaraskan festival dengan perkembangan zaman, sementara kelompok konservatif menginginkan pelestarian tradisi asli.
Dampak Wisata dan Promosi Budaya
Festival ini memiliki daya tarik wisata yang kuat. Ribuan wisatawan lokal dan internasional berkunjung ke Jepang untuk menyaksikan langsung tradisi ekstrem ini. Menurut laporan Sesawi (2019), festival Saidaiji menjadi salah satu magnet wisata budaya paling populer pada awal tahun.
Bagi komunitas lokal, Hadaka Matsuri bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana menjaga identitas budaya dan meningkatkan perekonomian daerah melalui pariwisata.
Hadaka Matsuri adalah bukti nyata bagaimana budaya Jepang mampu bertahan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perpaduan antara ritual kuno, simbolisme spiritual, dan perubahan sosial menjadikan festival ini selalu menarik untuk diamati.
Jika ingin membaca lebih banyak berita budaya dan fenomena menarik dari seluruh dunia, kunjungi Garap Media untuk mendapatkan artikel yang informatif dan terbaru setiap hari.
Referensi
