Mengungkap Gigantisme: Kelainan Pertumbuhan Langka
Gigantisme merupakan kelainan pertumbuhan yang terjadi akibat kelebihan hormon pertumbuhan (growth hormone/GH) pada masa anak-anak atau remaja. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan tinggi badan dan ukuran tubuh yang jauh di atas rata-rata normal (Kompas Health, 2021). Jika tidak ditangani dengan cepat, gigantisme dapat menimbulkan komplikasi serius seperti gangguan jantung, diabetes, dan masalah persendian.
Meskipun kasusnya tergolong langka, memahami gigantisme penting agar diagnosis dapat dilakukan sejak dini. Artikel ini membahas penyebab, gejala, proses diagnosis, dan metode pengobatan yang umum digunakan untuk menangani gigantisme.
Apa Itu Gigantisme?
Gigantisme adalah gangguan endokrin di mana kelenjar pituitari (hipofisis) menghasilkan hormon pertumbuhan secara berlebihan sebelum lempeng pertumbuhan tulang menutup. Akibatnya, pertumbuhan tulang dan jaringan menjadi tidak terkendali, membuat penderita memiliki postur tubuh yang sangat tinggi (MSD Manuals, t.t.).
Perlu dibedakan antara gigantisme dan akromegali. Akromegali terjadi setelah lempeng pertumbuhan menutup, biasanya pada usia dewasa, sedangkan gigantisme muncul pada masa pertumbuhan (Halodoc, 2020).
Gejala dan Tanda Gigantisme
Tanda utama gigantisme adalah pertumbuhan tinggi badan yang jauh melebihi rata-rata anak seusianya. Selain itu, terdapat ciri khas lain seperti pembesaran tangan, kaki, jari-jari, dan rahang (Klikdokter, t.t.). Penderita juga dapat mengalami:
- Sakit kepala berulang
- Gangguan penglihatan akibat tekanan tumor pada saraf optik
- Keringat berlebihan dan kulit menebal
- Pubertas tertunda dan suara yang lebih berat
Dalam kasus tertentu, gigantisme juga dapat menyebabkan kelelahan kronis dan gangguan metabolik seperti resistensi insulin (Kompas Health, 2021).
Penyebab Gigantisme
Sebagian besar kasus gigantisme disebabkan oleh tumor jinak (adenoma) pada kelenjar hipofisis yang memproduksi hormon pertumbuhan secara berlebihan (MSD Manuals, t.t.). Selain itu, ada juga beberapa faktor genetik yang berperan, seperti sindrom McCune-Albright dan Multiple Endocrine Neoplasia tipe 1 (MEN1) (Kompas Health, 2021).
Jarang, gigantisme dapat disebabkan oleh produksi hormon pertumbuhan ektopik dari jaringan di luar kelenjar hipofisis (Alodokter, t.t.).
Diagnosis Gigantisme
Diagnosis gigantisme memerlukan pemeriksaan fisik menyeluruh serta tes laboratorium untuk mengukur kadar hormon pertumbuhan (GH) dan IGF-1 (Insulin-like Growth Factor 1) dalam darah (MSD Manuals, t.t.). Selain itu, dokter dapat melakukan:
- Tes toleransi glukosa oral (OGTT): menilai kemampuan tubuh menekan produksi GH.
- MRI atau CT scan: mendeteksi adanya tumor pada kelenjar hipofisis.
- Evaluasi mata: memeriksa tekanan tumor terhadap saraf optik.
Pengobatan Gigantisme
Operasi
Pengangkatan tumor hipofisis merupakan pilihan utama jika tumor berukuran besar atau menekan jaringan sekitar (Alodokter, t.t.). Operasi dapat menormalkan kadar hormon pertumbuhan dan mengurangi gejala.
Terapi Obat
Jika operasi tidak memungkinkan, dokter dapat meresepkan obat seperti octreotide, lanreotide, atau bromokriptin untuk menekan produksi GH (Halodoc, 2020).
Terapi Radiasi
Radioterapi digunakan bila tumor tidak sepenuhnya terangkat atau jika kadar hormon pertumbuhan tetap tinggi setelah terapi lain (Kompas Health, 2021).
Komplikasi Gigantisme
Tanpa pengobatan, gigantisme dapat menyebabkan berbagai komplikasi jangka panjang seperti:
- Gangguan jantung (kardiomegali)
- Masalah sendi dan tulang
- Diabetes mellitus
- Gangguan tidur (sleep apnea)
Penanganan yang tepat dan cepat dapat menekan risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Gigantisme adalah kelainan hormonal langka namun serius. Deteksi dini dan penanganan medis yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi berat yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderita.
Terus ikuti informasi kesehatan dan berita menarik lainnya di Garap Media agar Anda tidak ketinggalan topik penting seputar dunia medis dan gaya hidup sehat.
Referensi
