Mengerikan atau Tradisi? Fakta Ikizukuri Jepang yang Bikin Geger
Dunia kuliner Jepang selalu menarik perhatian, tetapi tidak semua menu memanjakan mata dan hati. Salah satu hidangan yang kerap menimbulkan kontroversi adalah ikizukuri. Hidangan ini menyajikan hewan laut yang dipotong dalam keadaan hidup, sebuah praktik yang bagi sebagian orang dianggap seni, tetapi bagi yang lain tampak kejam. Artikel ini akan membahas asal-usul, cara penyajian, nilai budaya, sekaligus pro dan kontra ikizukuri yang membuatnya jadi perdebatan global.
Apa Itu Ikizukuri?
Ikizukuri (生き作り) berarti “dipersiapkan hidup-hidup”. Hidangan ini biasanya menggunakan ikan, udang, atau gurita yang masih hidup di tangki restoran. Setelah pelanggan memilih, koki segera memotong dan menyiapkan fillet sashimi. Bagian kepala atau tubuh sering dibiarkan tetap bergerak untuk menunjukkan kesegaran bahan. Tradisi ini dianggap puncak pengalaman kuliner sashimi karena pelanggan bisa merasakan rasa paling segar dari hewan laut tersebut.
Teknik Penyajian yang Penuh Presisi
Membuat ikizukuri bukan pekerjaan mudah. Koki yang menguasainya harus memiliki keterampilan tinggi dan kecepatan luar biasa.
- Pemilihan hewan: pelanggan memilih langsung dari tangki.
- Pemotongan cepat: fillet dipisahkan tanpa menghentikan tanda kehidupan hewan.
- Presentasi estetis: potongan sashimi disajikan cantik di atas piring dengan kepala atau tubuh yang masih bergerak, menambah sensasi visual dan emosional.
Keseluruhan proses ini dirancang untuk menghormati bahan makanan sekaligus memberikan pengalaman makan yang dianggap “terhubung dengan alam”.
Nilai Budaya dan Filosofi
Bagi sebagian masyarakat Jepang, ikizukuri bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari filosofi menghargai kesegaran dan kehidupan. Dalam budaya washoku, bahan makanan dianggap memiliki “nyawa” sehingga setiap potongan adalah bentuk rasa terima kasih terhadap alam. Itulah sebabnya ikizukuri dipandang bukan hanya kuliner, tetapi juga seni dan ritual penghormatan.
Kritik dan Kontroversi
Ikizukuri sering memicu perdebatan etika. Aktivis pecinta hewan menilai praktik ini kejam karena hewan mungkin merasakan sakit atau stres saat dipotong. Beberapa negara seperti Australia dan Jerman bahkan melarang praktik ini demi kesejahteraan hewan. Di sisi lain, pendukungnya berargumen bahwa proses ini dilakukan cepat dan minim penderitaan. Selain itu, ada risiko kesehatan dari konsumsi hewan laut mentah atau setengah hidup jika kebersihan tidak dijaga ketat.
Posisi Ikizukuri di Era Modern
Di Jepang sendiri, ikizukuri tidak lagi menjadi menu umum di semua restoran, melainkan hanya tersedia di restoran mewah tertentu. Generasi muda Jepang mulai mempertanyakan praktik ini dan mendorong cara penyajian yang lebih etis, sementara sebagian chef berinovasi dengan teknik pemotongan yang meminimalkan rasa sakit hewan.
Ikizukuri adalah potret menarik dari benturan antara tradisi, seni kuliner, dan nilai kemanusiaan modern. Apakah ini bentuk penghormatan terhadap alam atau praktik yang sudah seharusnya ditinggalkan? Jawabannya tergantung perspektif masing-masing.
Ingin tahu lebih banyak kontroversi kuliner dan budaya menarik lainnya? Jangan lewatkan berita terbaru hanya di Garap Media!
Lampiran Referensi
