Suku Aghori dikenal sebagai salah satu kelompok spiritual paling ekstrem di dunia. Hidup di sekitar tempat kremasi jenazah di India, mereka kerap diasosiasikan dengan ritual yang dianggap menyeramkan dan tabu.
Namun di balik praktik yang kontroversial, Suku Aghori memiliki ajaran filosofis mendalam tentang penolakan dualitas, kesetaraan manusia, dan pencarian pembebasan spiritual.
Asal-Usul dan Latar Belakang Suku Aghori
Suku Aghori merupakan sekte kecil dalam tradisi Shaivisme Hindu yang berkembang di India Utara, khususnya di wilayah Varanasi, Uttar Pradesh. Mereka memuja Dewa Shiva dalam wujud Bhairava, simbol kehancuran sekaligus pembaruan (Wikipedia, 2024).
Secara historis, ajaran Aghori berkaitan erat dengan tradisi Tantra yang menekankan pembebasan spiritual melalui penolakan konsep baik-buruk dan suci-najis. Filosofi ini membuat mereka hidup di luar norma sosial masyarakat umum.
Ritual Ekstrem di Tempat Kremasi
Praktik Spiritual Suku Aghori
Salah satu ciri paling mencolok dari Suku Aghori adalah praktik ritual di tempat kremasi jenazah. Mereka bermeditasi di antara abu mayat, melumuri tubuh dengan abu kremasi, dan menggunakan tulang manusia sebagai alat ritual (BBC Indonesia, 2019).
Beberapa laporan juga menyebutkan praktik kanibalisme simbolik, yakni memakan sisa jenazah yang ditemukan di Sungai Gangga. Praktik ini dilakukan bukan untuk kekerasan, melainkan sebagai simbol pelepasan rasa jijik dan ketakutan terhadap kematian (Kumparan, 2022).
Filosofi Hidup: Menolak Baik dan Buruk
Ajaran utama Suku Aghori adalah Advaita atau non-dualitas. Mereka percaya bahwa segala sesuatu di alam semesta adalah manifestasi Shiva, sehingga tidak ada perbedaan hakiki antara suci dan kotor, hidup dan mati (Wikipedia, 2024).
Filosofi ini diwujudkan dalam gaya hidup asketis, mengembara, menolak harta duniawi, serta hidup berdampingan dengan kematian sebagai bentuk latihan spiritual.
Kontroversi dan Stigma di Mata Publik
Keberadaan Suku Aghori sering menimbulkan kontroversi dan stigma negatif. Banyak media menggambarkan mereka secara sensasional tanpa konteks filosofis, sehingga memunculkan ketakutan dan kesalahpahaman publik.
Padahal, para akademisi dan tokoh agama Hindu menegaskan bahwa Aghori bukan representasi utama Hindu, melainkan sekte kecil dengan praktik spiritual yang sangat spesifik (BBC Indonesia, 2019).
Suku Aghori di Era Modern
Di era modern, Suku Aghori semakin dikenal melalui dokumenter dan liputan media internasional. Beberapa Aghori mulai membuka diri untuk wawancara guna meluruskan kesalahpahaman publik tentang ajaran mereka.
Meski demikian, gaya hidup ekstrem dan ajaran lama tetap dipertahankan sebagai bentuk konsistensi spiritual dan perlawanan terhadap nilai materialisme modern.
Suku Aghori menunjukkan bahwa praktik spiritual dapat berkembang jauh di luar batas norma sosial. Di balik ritual yang ekstrem, terdapat filosofi tentang penerimaan, kematian, dan pembebasan diri.
Untuk memahami lebih banyak fenomena budaya dan kepercayaan unik dari berbagai belahan dunia, pembaca dapat menjelajahi artikel menarik lainnya hanya di Garap Media.
Referensi
