Kratom kembali menjadi perbincangan hangat di awal tahun 2025. Pemerintah Indonesia resmi meresmikan tata niaga ekspor tanaman ini. Tanaman endemik asal Kalimantan ini memiliki karakteristik yang sangat unik. Ia mampu memberikan efek stimulan sekaligus sedatif bagi penggunanya.
Efek tersebut sangat bergantung pada jumlah dosis yang dikonsumsi. Secara tradisional, kratom telah digunakan berabad-abad sebagai penambah stamina. Status hukumnya memang sempat mengalami tarik-ulur yang cukup panjang. Namun, kini wajah kratom berubah menjadi komoditas ekspor unggulan negara.
Mengenal Tanaman Kratom: Dari Hutan Kalimantan ke Pasar Global
Kratom adalah pohon tropis dari keluarga kopi (Rubiaceae) yang tumbuh subur di wilayah Kalimantan Barat. Di sana, tanaman ini dikenal dengan nama lokal seperti purik atau ketum. Berdasarkan data terbaru, lebih dari 18.000 keluarga di Kalimantan Barat menggantungkan hidup mereka dari budidaya tanaman ini (Sekretariat Kabinet, 2024).
Secara morfologi, daun kratom mengandung senyawa alkaloid aktif, terutama mitragynine dan 7-hydroxymitragynine. Senyawa ini bekerja dengan berinteraksi pada reseptor opioid di otak, memberikan efek pereda nyeri yang sering dibandingkan dengan morfin, namun dengan karakteristik kimiawi yang berbeda (BRIN, 2024).
Manfaat Medis dan Riset Terbaru BRIN 2024-2025
Salah satu alasan mengapa publik perlu mengenal tanaman kratom lebih jauh adalah potensi medisnya yang sedang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pada September 2024, BRIN menginisiasi riset mendalam mengenai penggunaan kratom sebagai obat alternatif untuk diabetes. Hasil uji awal menunjukkan bahwa ekstrak daun kratom mampu membantu menurunkan kadar glukosa darah (BRIN, 2024).
Selain untuk diabetes, kratom juga terus diteliti sebagai terapi pengganti bagi penderita ketergantungan opioid. Kemampuannya meredakan gejala putus obat (sakau) menjadikannya subjek penelitian yang krusial di dunia farmasi internasional, meskipun penggunaannya harus tetap di bawah pengawasan medis yang ketat agar tidak menimbulkan ketergantungan baru.
Status Hukum dan Izin Ekspor Perdana 2025
Tahun 2025 menjadi tonggak sejarah bagi legalitas kratom di Indonesia. Menteri Perdagangan Budi Santoso secara resmi melepas ekspor perdana kratom senilai 1 juta dolar AS pada Februari 2025. Langkah ini didukung oleh Permendag Nomor 20 Tahun 2024 dan Nomor 21 Tahun 2025 yang mengatur spesifikasi produk ekspor (Kemendag, 2025).
Meski ekspor telah dilegalkan untuk bentuk serbuk dengan ukuran di bawah 600 mikron, pemerintah menegaskan bahwa jual beli kratom untuk konsumsi di dalam negeri masih belum diatur secara bebas. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan di tingkat konsumen lokal sementara penelitian keamanan pangan masih berjalan (RRI, 2025).
Risiko dan Efek Samping yang Menghantui
Walaupun memiliki segudang manfaat, mengenal tanaman kratom juga berarti memahami bahayanya. Penggunaan dalam dosis tinggi (di atas 15 gram) dapat memicu efek samping serius seperti mual, pusing, hingga halusinasi. Dalam jangka panjang, penggunaan yang tidak terkontrol berisiko menyebabkan gangguan fungsi hati dan ginjal (BPOM RI, 2024).
Lembaga internasional seperti FDA bahkan telah memberikan peringatan keras mengenai risiko toksisitas hati dan kejang yang dikaitkan dengan konsumsi produk kratom yang terkontaminasi logam berat atau bakteri Salmonella (FDA, 2025). Oleh karena itu, standardisasi produk melalui proses iradiasi kini menjadi syarat mutlak bagi eksportir Indonesia.
Evolusi status kratom dari tanaman yang diragukan menjadi komoditas ekspor resmi menunjukkan potensi besar ekonomi hijau Indonesia. Namun, keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan perlindungan kesehatan publik tetap menjadi prioritas utama pemerintah melalui riset berkelanjutan yang dilakukan oleh BRIN dan Kementerian Kesehatan.
Bagi Anda yang ingin terus memantau perkembangan regulasi tanaman herbal dan isu ekonomi terkini, pastikan untuk membaca berita menarik lainnya di Garap Media. Dapatkan informasi akurat dan mendalam agar Anda tidak tertinggal tren global yang sedang berkembang pesat di tanah air.
Referensi
