Mengenal G30S/PKI: Dari Latar Belakang hingga Penumpasan

Last Updated: 2 October 2025, 09:42

Bagikan:

G30s PKI
FOTO: Bettmann/Getty Images
Table of Contents

G30s/PKI – Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI merupakan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia. Tragedi ini tidak hanya menorehkan luka mendalam, tetapi juga menjadi titik balik besar dalam perjalanan politik nasional.

Latar Belakang G30S/PKI

Dilansir dari ERA.id, latar belakang G30S/PKI tidak terlepas dari ketegangan politik yang memuncak pada pertengahan 1960-an. Kondisi kesehatan Presiden Soekarno yang semakin menurun menimbulkan kekhawatiran mengenai siapa yang akan menggantikan beliau. Persaingan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan TNI pun semakin tajam. PKI disebut khawatir bahwa kelompok militer akan lebih dominan dalam menentukan arah politik Indonesia ke depan.

Baca Juga: Sejarah Kerajaan Singasari dari Ken Arok ke Wisnuwardhana

Kronologi G30S/PKI

Menurut berita dari Indozone, pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September melancarkan aksi penculikan terhadap sejumlah jenderal TNI AD. Peristiwa ini dipimpin oleh Letkol Untung dari Resimen Cakrabirawa.

Enam perwira tinggi militer, yakni Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Soeprapto, Mayjen Harjono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo, menjadi korban. Selain itu, ajudan Jenderal A.H. Nasution, Lettu Pierre Tendean, juga gugur dalam peristiwa ini. Seluruh jenazah kemudian dibuang ke sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur.

ERA.id mencatat bahwa kelompok ini juga sempat menguasai Radio Republik Indonesia dan mengumumkan Dekrit No.1, yang menyatakan gerakan mereka sebagai upaya penyelamatan negara dari apa yang disebut sebagai “Dewan Jenderal”.

G30s PKI
Tugu Pancasila sebagai peringatan peristiwa G30S/PKI. (g-30-s-pki.com)

Penumpasan G30S/PKI

Kebingungan masyarakat terkait hilangnya para jenderal segera ditindaklanjuti oleh Mayjen Soeharto yang kala itu menjabat Panglima Kostrad. Dilansir dari Indozone, Soeharto langsung mengambil alih kendali dan menginstruksikan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo untuk merebut kembali gedung RRI serta Pusat Telekomunikasi. Operasi ini berhasil dilakukan tanpa pertumpahan darah.

Pada 2 Oktober 1965, pasukan pemerintah berhasil menemukan jenazah para perwira di Lubang Buaya. Para pahlawan revolusi tersebut kemudian dimakamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Penangkapan besar-besaran terhadap mereka yang diduga terlibat juga dilakukan. Tokoh-tokoh PKI seperti D.N. Aidit, Sudisman, dan Sjam ditangkap serta diadili melalui Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub).

Baca Juga: Benteng Vredeburg Yogyakarta: Wisata Sejarah Penuh Makna

Dampak G30S/PKI terhadap Politik Indonesia

Tragedi G30S/PKI berdampak besar terhadap politik Indonesia. Dilansir dari ERA.id, rakyat menuntut pembubaran PKI dan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya. Puncaknya, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang memberikan mandat kepada Soeharto untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan negara. Dari sinilah awal kekuasaan Orde Baru bermula.

Sejarah G30S/PKI hingga kini masih menjadi bahan kajian dan perdebatan. Meski begitu, peristiwa ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana politik dan kekuasaan bisa berdampak besar terhadap nasib sebuah bangsa.

Ingin tahu lebih dalam tentang peristiwa penting lain dalam sejarah Indonesia? Jangan lewatkan artikel menarik berikutnya di blog ini!

Referensi

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /