Mengenal Bunga Suweg: Ciri, Manfaat, dan Fungsinya dalam Kehidupan
Fenomena mekarnya bunga suweg secara tiba‑tiba di pekarangan rumah warga kembali menyita perhatian publik. Tanaman yang kerap disebut bunga bangkai oleh masyarakat ini dikenal memiliki bentuk besar dengan aroma menyengat saat memasuki fase berbunga.
Kemunculan bunga suweg bukan hanya terjadi di satu daerah. Sejumlah media lokal melaporkan tanaman ini muncul di Jakarta, Jawa Barat, hingga Yogyakarta, memicu rasa penasaran warga yang belum pernah melihatnya secara langsung.
Mengenal Bunga Suweg
Bunga suweg merupakan tanaman dengan nama ilmiah Amorphophallus paeoniifolius yang masih satu keluarga dengan talas‑talasan. Tanaman ini tumbuh dari umbi dan dapat hidup liar di kebun, pekarangan, maupun lahan kosong tanpa perawatan khusus (Kumparan, 2025).
Berbeda dengan Rafflesia arnoldii, bunga suweg memiliki batang dan tongkol yang muncul dari umbi, bukan langsung dari inang. Meski demikian, kemiripan aroma menyengat kerap membuat masyarakat keliru menyebutnya sebagai rafflesia atau bunga bangkai raksasa.
Bunga Suweg Mekar di Berbagai Daerah
Media lokal melaporkan kemunculan bunga suweg di sejumlah wilayah. Di Jagakarsa, Jakarta Selatan, warga dikejutkan dengan bunga besar yang tumbuh di pekarangan rumah tanpa pernah ditanam sebelumnya (Pikiran Rakyat Depok, 2025).
Sementara itu di Ciamis, Jawa Barat, warga menyebut kemunculan bunga suweg sebagai tanda datangnya musim hujan. Tanaman tersebut tumbuh subur di tanah lembap dan menarik perhatian karena baunya yang cukup kuat (DetikJabar, 2025).
Fenomena serupa juga terjadi di Bantul, Yogyakarta. Warga berbondong‑bondong melihat langsung bunga suweg yang mekar karena dianggap langka dan jarang muncul setiap tahun (Good News From Indonesia, 2025).
Mengapa Bunga Suweg Berbau Menyengat?
Aroma menyengat yang dihasilkan bunga suweg berfungsi untuk menarik serangga, terutama lalat, sebagai bagian dari proses penyerbukan alami. Bau tersebut menyerupai aroma bahan organik membusuk sehingga efektif mengundang serangga penyerbuk (Kumparan, 2025).
Meski baunya tidak sedap bagi manusia, proses ini sangat penting bagi kelangsungan reproduksi tanaman. Setelah fase berbunga selesai, aroma akan hilang dan tanaman kembali memasuki masa dorman.
Siklus Hidup dan Waktu Mekar
Bunga suweg tidak mekar setiap tahun. Tanaman ini memerlukan waktu untuk menyimpan cadangan energi di dalam umbinya sebelum memasuki fase generatif. Biasanya, bunga muncul saat curah hujan meningkat dan kondisi tanah cukup lembap (DetikJabar, 2025).
Setelah bunga layu, tanaman akan memasuki fase vegetatif atau bahkan tidak menampakkan bagian atas tanah selama beberapa waktu. Inilah yang membuat kemunculannya sering dianggap tiba‑tiba dan mengejutkan.
Potensi dan Manfaat Suweg
Di balik aromanya yang menyengat, umbi suweg sebenarnya memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif. Di beberapa daerah, suweg dimanfaatkan secara tradisional setelah melalui proses pengolahan khusus untuk menghilangkan kandungan gatalnya (ANTARA, 2024).
Selain itu, tanaman ini juga memiliki nilai edukasi dan konservasi karena menjadi bagian dari kekayaan flora lokal Indonesia yang masih jarang dikenal luas.
Ikuti terus berita unik, fenomena alam, dan informasi menarik lainnya hanya di Garap Media, sumber berita terpercaya yang menyajikan fakta dari berbagai daerah di Indonesia.
Referensi
