Garap Media – Data center yang dulu bekerja di balik layar kini berubah menjadi salah satu aset paling strategis dalam ekonomi digital. Ledakan kecerdasan buatan membuat perusahaan teknologi membutuhkan kapasitas komputasi dalam jumlah yang jauh lebih besar. JLL memperkirakan hampir 100 gigawatt kapasitas data center baru akan ditambahkan secara global pada 2026–2030 dan total pengeluaran sektor ini dapat mendekati US$3 triliun. McKinsey bahkan memperkirakan belanja global untuk pembangunan data center dapat mencapai US$7 triliun pada 2030. Angka tersebut menjelaskan mengapa bisnis data center kini menjadi medan perebutan baru antara perusahaan teknologi, investor, pengembang properti, hingga perusahaan energi.
1. Ledakan AI Membutuhkan Komputasi Besar
Kecerdasan buatan menjadi alasan utama mengapa kebutuhan data center meningkat begitu cepat. Model AI membutuhkan GPU dan sistem komputasi berkapasitas tinggi untuk melatih model serta menjalankan layanan kepada pengguna. McKinsey memperkirakan permintaan global terhadap data center dapat hampir tiga kali lipat dari sekitar 82 GW pada 2025 menjadi 220 GW pada 2030. Pertumbuhan tersebut membuat kapasitas komputasi berubah menjadi aset strategis bagi perusahaan teknologi. Semakin banyak layanan AI digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur yang menjalankannya.
Perubahan tersebut membuat data center tidak lagi sekadar tempat menyimpan server perusahaan. Fasilitas modern harus mampu menyediakan listrik dalam jumlah besar, sistem pendinginan khusus, koneksi jaringan cepat, serta keamanan tingkat tinggi. JLL memperkirakan AI dapat menyumbang sekitar separuh workload data center pada 2030. Kondisi tersebut menciptakan peluang besar bagi pengembang yang mampu menyediakan kapasitas tepat di lokasi yang membutuhkan. Karena itu, kecepatan mendapatkan lahan, listrik, dan koneksi jaringan kini menjadi keunggulan bisnis.
2. Cloud Computing Membuat Permintaan Terus Tumbuh
Cloud computing menjadi mesin lain yang mendorong pertumbuhan industri data center. Perusahaan tidak harus membeli dan mengelola seluruh server sendiri karena kapasitas komputasi dapat disewa dari penyedia cloud. Amazon Web Services, Microsoft Azure, Google Cloud, dan berbagai penyedia khusus AI membutuhkan fasilitas data center untuk menjalankan layanan tersebut. Permintaan cloud kemudian ikut meningkat seiring perusahaan memasukkan AI ke dalam berbagai aktivitas bisnis. Ekspansi ini menciptakan kebutuhan terhadap kapasitas data center yang dapat beroperasi secara stabil dalam jangka panjang.
Besarnya permintaan bahkan membuat kapasitas data center sulit ditemukan di sejumlah pasar utama. JLL mencatat tingkat kekosongan data center di Amerika Utara hanya sekitar 1 persen dan diperkirakan tetap sangat rendah hingga 2028. Kondisi tersebut memberikan posisi tawar yang kuat kepada pemilik fasilitas yang memiliki kapasitas tersedia. Investor pun melihat data center sebagai aset infrastruktur dengan permintaan yang relatif kuat. Namun, nilai tersebut tetap bergantung pada kemampuan fasilitas menyediakan listrik dan teknologi yang sesuai kebutuhan pelanggan.
3. Listrik Menjadi Kunci Bisnis Data Center
Di balik pertumbuhan data center terdapat persoalan besar yang tidak kalah penting, yaitu kebutuhan energi. International Energy Agency memperkirakan konsumsi listrik data center global akan lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030. AI menjadi salah satu pendorong utama kenaikan tersebut karena server akselerasi membutuhkan energi besar untuk menjalankan beban kerja AI. Artinya, lokasi dengan akses listrik yang cukup semakin bernilai bagi pengembang data center. Persaingan mendapatkan sumber energi akhirnya menjadi bagian dari persaingan teknologi.
Kebutuhan listrik tersebut juga mengubah cara pengembang menentukan lokasi proyek. Data center mulai dibangun di wilayah yang memiliki pasokan energi lebih besar dan akses jaringan listrik yang memungkinkan ekspansi. Reuters melaporkan pengembang di Eropa bahkan mulai menjauh dari pusat kota untuk mencari lahan, energi, dan koneksi jaringan yang lebih tersedia. Perubahan ini dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru di daerah yang sebelumnya bukan pusat teknologi. Namun, pembangunan fasilitas besar juga membutuhkan perhatian terhadap lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
4. Data Center Menciptakan Rantai Bisnis Baru
Nilai ekonomi data center tidak hanya dinikmati oleh perusahaan yang memiliki gedungnya. Pembangunan fasilitas membutuhkan kontraktor, sistem pendingin, generator, kabel, baja, jaringan listrik, perangkat keamanan, dan berbagai komponen teknologi. Reuters menemukan perusahaan manufaktur seperti pemasok generator dan sistem industri ikut mendapatkan permintaan baru dari ledakan pembangunan data center di Amerika Serikat. Artinya, satu proyek dapat menciptakan efek ekonomi ke banyak sektor sekaligus. Data center akhirnya berkembang menjadi ekosistem industri yang jauh lebih luas daripada sekadar bisnis properti.
Peluang tersebut semakin besar karena fasilitas AI memiliki kebutuhan teknis yang berbeda dari data center tradisional. Kepadatan daya yang lebih tinggi membuat sistem pendinginan dan distribusi listrik harus dirancang secara khusus. JLL menyebut biaya konstruksi rata-rata data center global meningkat dari US$7,7 juta per MW pada 2020 menjadi US$10,7 juta per MW pada 2025. Kenaikan biaya tersebut sekaligus menunjukkan besarnya nilai proyek yang sedang dibangun. Perusahaan yang menguasai teknologi pendukung dapat ikut memperoleh bagian dari investasi tersebut.
5. Investor Melihat Data Center sebagai Aset Strategis
Besarnya kebutuhan AI membuat investor semakin melihat data center sebagai bagian penting dari infrastruktur digital. JLL memperkirakan sektor data center global membutuhkan hingga US$3 triliun investasi untuk menambah sekitar 100 GW kapasitas baru sampai 2030. Investasi tersebut mencakup pembangunan properti dan pengadaan infrastruktur teknologi di dalam fasilitas. Besarnya kebutuhan modal menunjukkan bahwa industri ini memiliki peluang sekaligus tantangan finansial yang sangat besar. Perusahaan dengan akses modal dan kemampuan mendapatkan listrik akan memiliki posisi lebih kuat.
Namun, investasi besar tidak berarti bisnis data center bebas risiko. Hambatan seperti keterbatasan listrik, perizinan, biaya pembangunan, ketersediaan lahan, dan penolakan masyarakat dapat memperlambat proyek. JLL mencatat permintaan di Amerika Utara mencapai rekor 25 GW pada paruh pertama 2026, sementara penerimaan masyarakat terhadap pembangunan data center menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, investor tidak cukup hanya menghitung potensi pendapatan. Mereka juga harus memperhitungkan kemampuan proyek memperoleh listrik, izin, dan dukungan komunitas.
Penutup
Data center kini menjadi bisnis miliaran dolar karena hampir seluruh ekonomi digital modern membutuhkan infrastruktur komputasi. Ledakan AI mempercepat kebutuhan tersebut melalui permintaan terhadap GPU, cloud, penyimpanan, jaringan, dan kapasitas pemrosesan. JLL memperkirakan pengeluaran data center global dapat mendekati US$3 triliun hingga 2030, sedangkan McKinsey melihat potensi pembangunan global mencapai US$7 triliun. Di saat yang sama, kebutuhan energi menjadi faktor penentu karena konsumsi listrik data center diproyeksikan mencapai sekitar 945 TWh pada 2030. Dengan kata lain, perang AI tidak hanya terjadi pada model dan chip, tetapi juga pada siapa yang mampu membangun dan menguasai infrastruktur tempat seluruh teknologi tersebut berjalan.
Sumber Referensi
- JLL – 2026 Global Data Center Market Outlook
https://www.jll.com/en-us/insights/market-outlook/data-center-outlook - McKinsey – Colocation Data Centers: The Infrastructure Race Behind AI
https://www.mckinsey.com/mgi/our-research/colocation-data-centers-the-infrastructure-race-behind-ai - International Energy Agency – Energy and AI
https://www.iea.org/reports/energy-and-ai/executive-summary
