Kedatangan 12 rangkaian kereta rel listrik (KRL) buatan PT Industri Kereta Api (INKA) ke Jakarta menjadi penanda penting perubahan arah pengadaan armada commuter line. Untuk pertama kalinya, KRL produksi dalam negeri akan menggantikan armada impor bekas dari Jepang yang selama puluhan tahun mendominasi layanan kereta komuter Jabodetabek.
Langkah ini tak hanya menyangkut pembaruan armada, tetapi juga menunjukkan komitmen pemerintah dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) dalam memperkuat industri transportasi nasional. Dukungan penyertaan modal negara (PMN) menjadi fondasi utama realisasi proyek tersebut.
Kedatangan 12 KRL INKA di Jakarta
KRL INKA Gantikan Produk Jepang
Sebanyak 12 rangkaian KRL INKA dijadwalkan tiba di Jakarta pada Juni 2026. Armada ini akan menggantikan sebagian KRL impor bekas dari Jepang yang usianya semakin tua dan membutuhkan biaya perawatan tinggi (detikFinance, 2026).
Menurut laporan detikFinance, kehadiran KRL buatan dalam negeri ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang KCI untuk memperbarui armada secara bertahap tanpa mengganggu operasional harian commuter line. Setelah tiba, KRL akan menjalani serangkaian uji teknis dan sertifikasi sebelum dioperasikan untuk publik.
Produksi dan Pengiriman oleh INKA
INKA memastikan proses produksi dan pengiriman KRL Jabodetabek dilakukan sesuai jadwal. Dalam keterangan resminya, INKA menyebut telah melanjutkan pengiriman trainset KRL Jabodetabek tahap berikutnya sebagai bagian dari kontrak pengadaan dengan KCI (INKA, 2026).
KRL ini dirancang dengan spesifikasi yang menyesuaikan kondisi operasional di Indonesia, termasuk iklim tropis, tingkat kepadatan penumpang, serta efisiensi energi.
PMN Rp1,8 Triliun untuk KCI
Skema Pembiayaan Armada Baru
Pengadaan KRL INKA tidak terlepas dari dukungan PMN. KCI menggunakan PMN senilai Rp1,8 triliun untuk membayar belasan rangkaian kereta baru kepada INKA (RRI, 2026).
RRI melaporkan bahwa PMN tersebut memungkinkan KCI melakukan modernisasi armada tanpa membebani kondisi keuangan perusahaan. Dengan dukungan negara, KCI tetap dapat menjaga keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
Persetujuan DPR dan Pemerintah
Tambahan PMN untuk sektor perkeretaapian juga telah mendapatkan persetujuan DPR. Komisi XI DPR RI menyetujui PMN sebesar Rp11,5 triliun untuk empat BUMN, dengan KAI memperoleh alokasi Rp1,8 triliun yang kemudian dimanfaatkan oleh KCI untuk pengadaan armada commuter line (Republika, 2026).
Dampak bagi Layanan Commuter Line
Peningkatan Keandalan dan Kenyamanan
Dengan hadirnya KRL INKA, KCI berharap keandalan layanan commuter line dapat meningkat. Armada baru dinilai lebih efisien dan siap mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat Jabodetabek yang terus tumbuh.
Selain itu, penggunaan KRL baru diharapkan dapat menekan risiko gangguan operasional akibat keterbatasan usia armada lama.
Penguatan Industri Kereta Nasional
Dari sisi industri, proyek KRL INKA menjadi bukti kemampuan manufaktur dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan transportasi massal skala besar. Keberhasilan pengadaan ini berpotensi membuka peluang pengembangan teknologi perkeretaapian nasional di masa depan.
Kedatangan 12 KRL INKA di Jakarta menandai babak baru pengelolaan transportasi publik berbasis rel. Pergeseran dari produk Jepang ke kereta buatan dalam negeri menunjukkan komitmen pemerintah dan KCI dalam membangun kemandirian industri strategis.
Untuk mengikuti perkembangan terbaru seputar transportasi publik, ekonomi, dan kebijakan nasional, pembaca dapat terus membaca berita dan analisis lainnya di Garap Media.
Referensi
