PUBG atau Player Unknown’s Battlegrounds – Menjadi salah satu permainan online yang paling digandrungi anak-anak saat ini. Tidak hanya sekadar hiburan, game ini juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan perilaku pemain muda. Banyak orang tua dan pendidik memperhatikan bagaimana game ini memengaruhi anak-anak, baik dari sisi positif maupun negatif.
Permainan ini menghadirkan pengalaman battle royale, di mana pemain bertarung hingga tersisa satu pemenang. Meski populer dan menarik, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan, terutama terkait konten kekerasan dan potensi kecanduan.
Manfaat Bermain PUBG bagi Anak
1. Melatih Kerja Sama dan Strategi
Bermain PUBG, terutama mode tim atau squad, mendorong anak untuk bekerja sama dengan teman. Mereka belajar mengatur strategi, membagi peran, dan berkomunikasi untuk mencapai kemenangan. Proses ini melatih kemampuan berpikir taktis dan kolaboratif.
2. Meningkatkan Konsentrasi dan Koordinasi
Bermain game ini menuntut fokus tinggi dan pengambilan keputusan cepat. Pemain harus menembak, berlari, dan mengamati lingkungan secara bersamaan. Aktivitas ini melatih koordinasi mata-tangan serta kemampuan visual-spasial, mirip dengan belajar membaca atau bermain piano, dan dapat memperkuat sirkuit saraf otak melalui stimulasi neurotransmitter seperti dopamin.
3. Sarana Hiburan dan Pelepas Stres
PUBG juga berfungsi sebagai hiburan yang efektif. Anak dapat melepas penat setelah belajar, selama permainan dilakukan dengan durasi wajar. Dengan pengawasan orang tua, game ini bisa menjadi cara positif untuk meningkatkan suasana hati dan relaksasi (Tempo.co, 2019).
Dampak Negatif Bermain PUBG bagi Anak
1. Risiko Kecanduan
Salah satu risiko terbesar adalah kecanduan game. WHO pada 2018 menetapkan kecanduan video game sebagai gangguan kesehatan mental. Anak yang kecanduan dapat mengisolasi diri, kurang tidur, dan mengurangi waktu untuk aktivitas sosial maupun olahraga.
2. Paparan Kekerasan
Konten tembak-menembak di PUBG dapat meningkatkan agresivitas dalam pikiran, emosi, dan perilaku anak. Anak yang terlalu sering bermain dapat mengalami penurunan empati dan sensitivitas terhadap kekerasan.
3. Gangguan Emosional dan Sosial
Selain kecanduan, anak-anak yang terlalu fokus pada game kompetitif berisiko mengalami stres, cemas, dan menarik diri dari lingkungan sosial nyata. Hal ini juga dapat mengganggu konsentrasi belajar dan produktivitas sehari-hari (Tempo.co, 2019).
Mengatur Waktu dan Pendampingan
Orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi waktu bermain anak. Disarankan bermain maksimal 1 – 2 jam per hari, tetap mengutamakan kegiatan belajar, olahraga, dan interaksi sosial. Dengan bimbingan, anak dapat belajar memanfaatkan game untuk mengembangkan keterampilan strategi, kerja sama, dan pengambilan keputusan.
Penutup
PUBG menawarkan sisi positif dan negatif bagi anak-anak. Dengan pengawasan dan aturan waktu yang tepat, game ini bisa menjadi sarana belajar kerja sama, strategi, dan konsentrasi. Namun tanpa pengendalian, risiko kecanduan dan agresivitas tetap ada.
Pantau terus aktivitas digital anak agar mereka tetap seimbang dalam belajar, bermain, dan bersosialisasi. Jangan lewatkan berita dan informasi menarik lainnya seputar gaya hidup digital dan perkembangan anak hanya di Garap Media.
Referensi:
- Tempo.co. (2019). Ribut Game PUBG, Intip Efek Positif dan Negatifnya bagi Anak. Retrieved from https://www.tempo.co/gaya-hidup/ribut-game-pubg-intip-efek-positif-dan-negatifnya-bagi-anak–760222
- Wikipedia. PUBG: Battlegrounds. Retrieved from https://id.wikipedia.org/wiki/Battlegrounds
