Bencana longsor gunung sampah Filipina terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Binaliw, Cebu City, dan menimbulkan korban jiwa serta puluhan orang dilaporkan hilang. Tumpukan sampah raksasa yang menjulang tinggi tiba-tiba runtuh dan menimbun area kerja serta bangunan di sekitarnya.
Peristiwa ini segera memicu operasi pencarian dan penyelamatan berskala besar. Tragedi tersebut kembali menyoroti persoalan keselamatan kerja dan lemahnya pengelolaan landfill di Filipina, terutama di wilayah padat penduduk.
Kronologi Longsor Gunung Sampah Filipina
Longsor terjadi ketika gunungan sampah di TPA Binaliw ambruk dan menimpa sejumlah pekerja yang berada di lokasi. Runtuhan berlangsung sangat cepat sehingga banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri (Reuters, 2026).
Sebelum kejadian, kawasan Cebu City dilaporkan sempat diguyur hujan yang diduga memperlemah struktur tanah dan menopang tumpukan sampah (The Freeman, 2026). Faktor cuaca ini kini menjadi bagian dari penyelidikan otoritas setempat.
Korban Jiwa dan Warga Hilang
Sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan 35 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Korban tewas dilaporkan berasal dari kalangan pekerja landfill, termasuk staf teknis (The Freeman, 2026).
Laporan lain juga menyebutkan adanya korban luka serta puluhan orang yang belum ditemukan hingga pencarian dilanjutkan (Philstar.com, 2026). Perbedaan angka korban ini masih terus diverifikasi oleh pihak berwenang.
Upaya Pencarian dan Penyelamatan
Tim penyelamat dilaporkan menemukan tanda-tanda kehidupan di bawah timbunan sampah, termasuk suara dan gerakan dari area tertimbun, sehingga operasi SAR terus dilanjutkan tanpa henti (The Associated Press, 2026).
Proses evakuasi menghadapi kendala besar akibat kondisi gunungan sampah yang tidak stabil serta risiko gas berbahaya, sehingga penggunaan alat berat harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mencegah longsor susulan (Reuters, 2026).
Dampak Sosial dan Lingkungan
Longsor gunung sampah Filipina berdampak langsung pada sistem pengelolaan sampah di Cebu City. Pengumpulan sampah di sejumlah wilayah dihentikan sementara karena fasilitas TPA tidak dapat beroperasi (The Freeman, 2026).
Warga sekitar lokasi juga menyuarakan kekhawatiran terkait pencemaran lingkungan, termasuk risiko kesehatan akibat paparan limbah dan kemungkinan kontaminasi air tanah.
Respons Pemerintah dan Evaluasi Keselamatan
Pemerintah setempat menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional landfill di Cebu City. Tragedi ini memicu desakan publik agar standar keselamatan dan kapasitas TPA diperketat oleh pemerintah setempat (The Star, 2026).
Otoritas Filipina juga menegaskan komitmen untuk mencegah kejadian serupa, mengingat bencana longsor sampah pernah terjadi sebelumnya dan menelan banyak korban.
Tragedi gunung sampah Filipina menjadi peringatan serius tentang bahaya pengelolaan limbah yang tidak aman. Selain menelan korban jiwa, peristiwa ini berdampak luas pada lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat sekitar.
Ikuti laporan mendalam dan berita terkini lainnya hanya di Garap Media untuk memahami berbagai isu lingkungan dan bencana internasional.
Referensi
