Anemia dapat memiliki hubungan dengan limfoma atau kanker kelenjar getah bening, penyakit yang berasal dari sistem limfatik, bagian dari sistem kekebalan tubuh. Pada sebagian pasien, anemia muncul sebagai kondisi yang menyertai, bukan sebagai penyebab utama.
Dr. Ryan Ardian Saputra, dokter spesialis penyakit dalam di RS EMC Alam Sutera dan Tangerang, menjelaskan bahwa anemia pada pasien dengan kondisi ini dapat terjadi melalui berbagai mekanisme. Mengetahui hubungan ini membantu pasien dan keluarga memahami gejala serta pentingnya evaluasi medis yang tepat.
5 Hubungan Anemia dengan Limfoma
- Gangguan Produksi di Sumsum Tulang: Sel kanker dapat menyusup ke sumsum tulang, menempati ruang yang seharusnya digunakan untuk memproduksi sel darah merah. Akibatnya, jumlah sel darah merah menurun sehingga pasien mengalami anemia.
- Efek Samping Pengobatan: Pengobatan kanker kelenjar getah bening, terutama kemoterapi seperti regimen CHOP atau R-CHOP, dapat menurunkan kadar hemoglobin. Efek samping ini memicu anemia selama dan setelah terapi.
- Destruksi Sel Darah: Pada beberapa kasus, sistem kekebalan tubuh keliru menghancurkan sel darah merah sendiri, kondisi yang dikenal sebagai anemia hemolitik. Hal ini menunjukkan kompleksnya hubungan antara penyakit ini dan sistem kekebalan tubuh.
- Faktor Prognostik: Anemia pada pasien, khususnya limfoma non-Hodgkin, sering dianggap sebagai indikator prognosis yang lebih buruk atau menunjukkan tingkat penyakit yang lebih lanjut.
- Penyebab Kelelahan: Anemia yang muncul pada pasien ini sering menimbulkan kelelahan parah (fatigue), mengganggu aktivitas sehari-hari, dan menurunkan kualitas hidup.
Dr. Ryan menambahkan bahwa anemia sering ditemukan melalui pemeriksaan darah rutin. Bila anemia muncul bersamaan dengan gejala kelainan kelenjar getah bening, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi atau pencitraan, untuk diagnosis tepat dan penentuan penanganan terbaik.
Mengenal Limfoma
Limfoma adalah kanker yang berkembang pada sel-sel sistem limfatik, jaringan, dan organ yang membantu tubuh melawan infeksi. Penyakit ini terbagi menjadi dua jenis utama:
- Limfoma Hodgkin: Ditandai oleh keberadaan sel Reed-Sternberg dalam jaringan limfatik yang terkena.
- Limfoma Non-Hodgkin: Meliputi berbagai jenis limfoma tanpa sel Reed-Sternberg.
Kedua jenis memiliki gejala, pengobatan, dan prognosis berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan penanganan medis khusus.
Faktor Risiko Limfoma
- Sistem Kekebalan Tubuh Lemah: Akibat transplantasi organ, obat imunosupresan, atau infeksi HIV/AIDS.
- Riwayat Keluarga: Risiko lebih tinggi jika anggota keluarga pernah menderita limfoma.
- Infeksi Virus: Beberapa virus, seperti Epstein-Barr dan hepatitis C, dikaitkan dengan risiko limfoma tertentu.
Gejala Limfoma
Gejala bervariasi, antara lain:
- Pembengkakan kelenjar getah bening tanpa nyeri
- Demam yang tidak jelas penyebabnya
- Kelelahan berlebihan
- Penurunan berat badan tanpa sebab
- Keringat malam berlebihan
- Gatal pada kulit
- Nyeri dada atau perut
Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis meliputi pemeriksaan fisik, tes darah, biopsi kelenjar getah bening, dan pencitraan seperti CT scan atau PET scan. Pengobatan disesuaikan dengan jenis dan tahap penyakit, antara lain:
- Kemoterapi
- Radioterapi
- Terapi targeted
- Terapi imun
Penutup
Memahami hubungan anemia dengan limfoma membantu pasien dan keluarga mengenali tanda-tanda penting dan menentukan langkah penanganan yang tepat. Pemeriksaan rutin dan konsultasi dengan dokter spesialis hemato-onkologi medik menjadi kunci untuk diagnosis yang tepat dan perawatan efektif.
Jangan lewatkan berita seputar kesehatan, anemia, kanker darah, sistem limfatik, gejala penyakit, faktor risiko, dan pengobatan medis di Garap Media.
Referensi:
- Liputan6. (2026). Limfoma atau Kanker Kelenjar Getah Bening dan 5 Kaitannya dengan Anemia. Retrieved from https://www.liputan6.com/health/read/6273105/limfoma-atau-kanker-kelenjar-getah-bening-dan-5-kaitannya-dengan-anemia
