Legenda Dua Naga Cikal Bakal Terbentuknya Telaga Sarangan

Last Updated: 13 November 2025, 21:57

Bagikan:

legenda telaga sarangan
https://www.istockphoto.com/id/foto/sarangan-lake-magetan-east-java-indonesia-gm1397261913-451747845
Table of Contents

Legenda Telaga Sarangan dikatakan berasal dari hewan mitologi yakni naga. Telaga Sarangan merupakan suatu destinasi wisata di kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi karena keindahan alamnya. Aktivitas di wisata tersebut juga banyak menarik para wisatawan seperti terdapat speedboat, wisata berkuda, sekedar berkeliling, hingga menikmati kuliner di sekitar. 

Tempat ini adalah danau alami di kawasan pegunungan gunung Lawu. Luasnya mencapai 30 hektar dan kedalaman 28 meter. Dibalik keindahannya, ternyata terdapat legenda terciptanya telaga Sarangan ini. 

Bagaimana kisahnya? Simak sampai akhir!

Perjuangan Ki Pasir dan Nyai Pasir Mendapatkan Sosok Anak

Pada zaman dahulu, terdapat sepasang suami istri yang bernama Ki Pasir dan Nyai Pasir yang hidup di kaki gunung Lawu. Keseharian Ki Pasir dan Nyai Pasir menanam umbi-umbian di sekitar rumah dan mencari sayur serta buah-buahan di hutan. Terkadang, Ki Pasir berburu binatang mencari kayu bakar. Sesekali Ki Pasir pergi ke pasar untuk menukar barang yang dibutuhkan dengan kayu bakar yang dicari dari hutan. 

Ki Pasir dan Nyai Pasir hanya tinggal berdua sebab belum dikaruniai anak. Mereka hidup rukun di sebuah gubuk dari anyaman bambu. Selama bertahun-tahun mereka hanya bisa berdoa dengan bersemedi agar dikaruniai seorang anak. 

Setelah penantian panjang dan banyaknya doa yang dipanjatkan, harapan mereka akhirnya terkabul. Pasangan tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Joko Lelung. Hadirnya Joko Lelung memberikan kebahagiaan yang luar biasa bagi mereka. 

Pertumbuhan Joko Lelung akhirnya menginjak usia dimana dia bisa memilih kegemarannya sendiri. Ia sangat suka berkelana, sehingga jarang berdiam diri di rumah. Joko Lelung hanya mampir sementara waktu di rumah dan biasanya keesokan harinya sudah pergi berkelana kembali. Selain berkelana, Joko Lelung juga mendalami ilmu kebatinan yang dilakukan dengan semedi. 

Harapan Ki Pasir dan Nyai Pasir

Seiring bertambahnya usia Ki Pasir dan Nyai Pasir kesehatan fisiknya kian menurun. Meski begitu mereka tetap harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan mengandalkan ladang, hutan, dan pasar. Joko Lelung yang diharapkan dapat membantu orangtuanya ternyata memilih jalannya sendiri, sehingga memaksa mereka untuk bertahan hidup berdua. 

Kebutuhan mobilitas mereka ditengah usia yang semakin senja membuat keluarga tersebut ingin terus disehatkan secara fisik. Harapan tersebut disampaikan dalam semedi kepada Sang Hyang Widhi. Dalam semedinya mereka mendapatkan wangsit untuk menemukan dan memakan telur di dekat ladangnya maka segala keinginan mereka akan terkabul. 

Usai melakukan semedi, beberapa hari kemudian sepulang dari ladang Ki Pasir menemukan sebuah benda bulat seperti telur di bawah pohon tua. Telur yang dilihat Ki Pasir berukuran lebih besar dari telur pada umumnya. Mengingat amanat dalam semedi, Ki Pasir membawa pulang telur tersebut untuk dimakan. 

Ki Pasir dan Nyai Pasir Menjalani Amanat

Keesokan harinya Ki Pasir dan Nyai Pasir memasak telur tersebut dan di santap oleh Ki Pasir terlebih dahulu sebelum berangkat ke ladang. Telur tersebut disisakan untuk disantap Nyai Pasir sepulang dari hutan. 

Dalam perjalanannya, Ki Pasir tiba-tiba merasa kepalanya sangat pening dan gatal yang sangat hebat di sekujur tubuhnya. Selain gatal, kulitnya juga mengeluarkan uap panas. Ki Pasir yang tidak sanggup menahan, ia mencari mata air terdekat dengan mengamuk untuk berendam. Perlahan-lahan kulit Ki Pasir berubah menjadi bersisik layaknya hewan. 

Baca Juga : Sungai dari Tangisan Naga: Legenda Mistis Alue Naga Aceh

Sepulangnya dari hutan, Nyai Pasir juga menyantap telur tersebut. Gejala yang sama dengan Ki Pasir dirasakan oleh Nyai Pasir. Ditengah kepanikan, Nyai Pasir pergi ke ladang untuk mencari suaminya dan meminta pertolongan. 

Alih-alih menemukan suaminya, ia malah menemukan seekor naga raksasa yang tengah berendam di mata air dekat ledeng. Namun Nyai Pasir merasa bahwa naga yang dilihatnya adalah suaminya. Nyai Pasir yang tengah panik akhirnya terperosok dalam mata air dengan tubuh yang sudah berubah menjadi naga. 

Legenda Terbentuknya Telaga Sarangan 

Kedua naga merasa marah dan dikutuk oleh alam semesta. Kemarahan ini membuat mereka terus bergerak memutar hingga membuat cekungan dan air yang semakin deras. Mereka memiliki niat untuk menenggelamkan gunung Lawu. 

Untungnya, Joko Lelung segera menyadari bahwa bencana yang terjadi disebabkan oleh kedua orang tuanya yang berubah menjadi naga. Ia pun bergegas melakukan semedi memohon agar kedua orang tuanya diberikan ketenangan. Sang Hyang Widhi mendengar doa Joko Lelung, kedua naga tersebut menjadi lebih tenang dan memancarkan cahaya. Sayangnya mereka menghilang ke dalam air dan menjadi makhluk yang tak kasat mata. Cekungan bekas naga mengamuk membentuk telaga yang diberi nama Telaga Pasir yang saat ini familiar disebut dengan Telaga Sarangan. 

Kesimpulan

Itulah Legenda Telaga Sarangan yang konon berasal dari dua naga. Hingga saat ini masyarakat sekitar masih mempercayai bahwa Telaga Sarangan dijaga oleh dua naga jelmaan manusia. Masyarakat menghormati legenda dengan melakukan upacara menjelang bulan puasa sebagai tolak bala. 

Referensi 

Indonesia Kaya. (n.d.). Cerita Rakyat Jawa Timur: Sepasang Naga dan Terbentuknya Telaga Sarangan. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat-jawa-timur-telaga-sarangan/?utm_source=website&utm_medium=artikel&utm_campaign=baca_juga

/ Stay Connected /

466

Ikuti

1

Ikuti

73

Ikuti

13

Ikuti

/ Media Promosi /

Pasang Iklan & Promosikan Brand Anda di Garap Media!

Tampilkan produk, layanan, atau acara Anda di halaman kami dan jangkau ribuan pembaca setiap hari. Hubungi kami untuk penawaran kerja sama dan paket promosi terbaik.

/ Berita Lainnya /