Lee Chaeyeon resmi memulai debutnya di Jepang pada 8 Oktober 2026 melalui single album My Voice, yang dirilis bersamaan dengan video musik lagu utamanya. Rilisan ini memuat dua lagu dengan karakter berbeda, yaitu “My Voice” yang mengusung gaya J-rock dan “No Tears On The Dancefloor (JP Ver.)” yang menghadirkan nuansa retro nu-disco. Melalui karya tersebut, Lee Chaeyeon memperkenalkan sisi musikalnya kepada pendengar Jepang dengan menonjolkan vokal dan ekspresi emosional (DayOneDream Japan, 2026; MK, 2026).
Lee Chaeyeon Debut Jepang dengan Single My Voice
Debut Jepang Lee Chaeyeon menjadi langkah baru dalam perjalanan solonya. Penyanyi yang sebelumnya dikenal sebagai anggota IZ*ONE itu memulai aktivitas musik solonya di Korea Selatan pada 2022. Kini, ia memperluas aktivitasnya ke pasar Jepang melalui perilisan single perdana bersama label D1 RECORDS, yang dibentuk oleh DayOneDream Japan (ORICON NEWS, 2026).
Lee Chaeyeon menjadikan suara sebagai fokus utama dalam My Voice. Ia sebelumnya dikenal melalui kemampuan menari dan penampilan panggung yang kuat. Kali ini, ia ingin memperlihatkan sisi berbeda melalui vokal dan penyampaian emosi dalam lagu berbahasa Jepang.
Dalam pernyataan yang dimuat DayOneDream Japan, Lee Chaeyeon mengungkapkan kegembiraannya karena dapat memulai aktivitas musik di Jepang. Ia berharap pendengar dapat menemukan pesona baru melalui suara dan ekspresi emosionalnya dalam rilisan tersebut (DayOneDream Japan, 2026).
My Voice Menggabungkan J-Rock dan Riff Gitar Elektrik
“My Voice” menjadi lagu utama yang membawa karakter musik rock Jepang atau J-rock. Lagu ini memadukan aransemen band yang segar dengan riff gitar elektrik yang kuat. Perpaduan tersebut menciptakan energi dinamis sekaligus mempertahankan nuansa emosional dalam vokal Lee Chaeyeon (MK, 2026).
Lirik “My Voice” mengisahkan keberanian seseorang untuk menyampaikan perasaan tulus melalui suaranya sendiri. Tokoh dalam lagu tersebut ingin mengungkapkan isi hati meskipun ia menghadapi kemungkinan bahwa perasaannya tidak akan sampai kepada orang yang dituju.
Tema tersebut sejalan dengan konsep debut Jepang Lee Chaeyeon yang menempatkan suara sebagai sarana untuk menyampaikan pengalaman dan perasaan pribadi. Melalui lagu ini, ia mengajak pendengar memahami keberanian untuk mengungkapkan isi hati, termasuk ketika hasilnya belum tentu sesuai harapan (DayOneDream Japan, 2026).
No Tears On The Dancefloor JP Ver. Hadirkan Nuansa Retro
Selain lagu utama, single album My Voice memuat “No Tears On The Dancefloor (JP Ver.)”. Lagu tersebut merupakan versi bahasa Jepang dari lagu utama mini album keempat Lee Chaeyeon, Till I Die, yang dirilis pada April 2026.
Berbeda dari “My Voice”, lagu ini menghadirkan nuansa retro nu-disco dengan energi musik dansa yang lebih menonjol. Perbedaan karakter tersebut memberikan variasi dalam satu rilisan dan memperlihatkan pendekatan musikal yang tidak terbatas pada satu genre saja (THE MAGAZINE, 2026).
Berikut dua lagu dalam single album My Voice:
- My Voice – lagu utama bergaya J-rock dengan riff gitar elektrik kuat dan pesan tentang keberanian menyampaikan perasaan.
- No Tears On The Dancefloor (JP Ver.) – versi bahasa Jepang dengan warna retro nu-disco dan energi musik dansa.
Melalui dua lagu tersebut, Lee Chaeyeon menghadirkan dua suasana berbeda dalam debut Jepangnya. Pendengar dapat menikmati karakter rock yang emosional sekaligus irama dansa yang lebih berorientasi pada energi panggung.
Perilisan My Voice membuka babak baru dalam aktivitas musik Lee Chaeyeon di Jepang. Pembaca dapat mengikuti artikel hiburan terbaru di Garap Media untuk mendapatkan informasi mengenai rilisan K-pop, video musik, dan perkembangan karier para idola.
Garap Media juga menyajikan berita lain tentang musik Asia dan industri hiburan internasional. Jelajahi artikel lainnya untuk mengikuti kabar terbaru dari para penyanyi solo maupun grup yang merilis karya baru.
